🌹Happy reading🌹
"Besok jam 10, kamu anterin Mama ke mall ya, Nda!" Ini perintah, bukan permintaan. Sudah jelas aku gak akan mungkin menolak perintah mama.
Aku tersenyum menggoda dan menatap wajahnya dengan menaikkan sebelah alis. Kami hanya berdua, dan sedang duduk di ruang tengah seperti biasanya setelah makan malam. Bi Sumi sudah masuk ke dalam kamarnya. Entah apa yang dia lakukan.
"Mama mau shopping?" Ledekku yang membuat mama tersenyum malu.
"Shopping apaan sih, Nda? Cuma mau cari sandal sepasang aja ...."
"Bener nih sepasang?" Tanyaku lagi menggodanya yang membuat mama terkekeh dan mengangkat bahu. Sudah menjadi kebiasaan ibu-ibu, jika sedang berbelanja dan kebetulan menemukan barang yang berlabel promo, entah di mall atau di supermarket, membuat mereka gelap mata. Butuhnya sih satu ... tapi bonusnya bisa dua atau tiga.
"Duit Papa masih banyak kan, Ma?" Ada rasa ingin tahu yang tiba-tiba menyeruak dalam pikiranku. Aku hanya penasaran, dan tidak bermaksud untuk meminta.
"Alhamdulillah, Nda. Duit pokoknya masih tetap. Hasil tiap bulannya bisa buat nambahi kebutuhan kita sehari-hari. Sebagiannya malah Mama tabung buat keperluan kalian nanti." Jawab Mama yang selalu membuat aku bangga. Beliau pintar mengatur keuangan, dan bisa menjadi contoh buatku jika kelak aku berumah tangga.
Yah, sejak aku masuk SMP, papaku sudah menginvestasikan sebagian uangnya ke bisnis teman-teman lamanya. Mulai dari bisnis resto, cafe hingga apotik. Dan ketika papaku sudah almarhum, dari pembagian hasil investasinya itulah yang dibuat mama untuk biaya hidup sehari-hari selain uang pensiun papa. Dan juga untuk membiayai kuliah kedokteran Mario, selain tabungan yang memang sudah disiapkan mama sejak kami kecil.
"Tapi Ma ... selain untuk keperluan kita sehari-hari, apa duitnya juga masih cukup untuk biaya Mario ambil spesialis nanti?" Tanyaku lagi menegaskan. Aku gak mau Mamaku menutupi jika mengalami kesulitan. Beliau sudah berumur, dan kami tak mau membebani pikirannya terlalu banyak.
Sudah menjadi rahasia umum kan ... jika kuliah kedokteran itu bukanlah kuliah dengan biaya yang murah. Tetapi dengan otak Mario yang dari kecil memang encer, aku yakin berapapun biaya yang mama keluarkan, hasilnya tidak akan membuat beliau kecewa.
Mama tersenyum lembut, tangannya menyentuh lenganku pelan. "Mama sudah pikirkan semuanya itu, Nda. Termasuk Mama juga memikirkan biaya yang dibutuhkan jika kamu nantinya menikah."
"Hm ... menikah ya, Ma?" Gumamku pelan.
Mama mengangguk seraya mengulum senyum. Tangannya menekan remote dan mengurangi volume televisi.
"Memangnya kamu gak mau menikah?" Tanya mama terlihat agak ragu.
Aku terkekeh mendengar pertanyaan mama dan berusaha menahan diri untuk tidak menceritakan hubunganku dengan Pak Kenan terlebih dahulu. Aku masih belum sanggup melihat senyum manis mama saat ini memudar. Sungguh aku tak akan mampu mendengar jawaban mama jika nantinya beliau menolak hubunganku dengan Pak Kenan.
Aku belum siap ....
"Ya maulah, Ma! Cuma maksudku ... Mama itu gak perlu bingung mikirin biaya nikahanku. Aku sudah punya tabungan sendiri kok. Lagian aku juga perempuan, pasti pihak laki nanti juga akan ikut membiayai. Malah jika Mama kekurangan untuk membiayai Mario ... tabunganku bisa juga buat tambahannya. Pokoknya ... dan pada intinya ... aku gak mau Mama terlalu mikirin kita berdua. Mama nikmati aja hidup Mama sekarang! Pingin apapun, beli aja! Gak usah banyak mikir!" Ucapku pelan tapi terkesan tegas.
Aku mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya ada dalam pikiranku dan juga pikiran Mario selama ini. Apalagi Mario kan sudah mendapat hasil dari pekerjaannya, sebentar lagi dia juga akan pindah ke Surabaya, jadi gak perlu lagi biaya sewa rumah seperti saat ini. Dan kami juga tidak ingin membebani mama terlalu banyak.
KAMU SEDANG MEMBACA
AMANDA dan Si MATA BIRU
General FictionCerita untuk usia 21+ Kenan Alarico Samudera sudah mengenal Amanda Puteri Suhardiman selama setahun sebagai bawahannya. Bahkan seminggu sekali mereka selalu berdua di ruangan kantornya dalam suatu urusan pekerjaan. Hingga suatu saat rasa cinta yang...
