ENAM BELAS

14.1K 1.1K 118
                                        

Jangan lupa tekan tanda ⭐ di pojok kiri bawah ya🤗😍

🌹Happy reading🌹

Anita menatapku dengan mengangkat dagunya seolah menanyakan siapa yang menelepon ke ponselku.

"Pak Kenan ya, Nda?" Tebaknya ketika aku hanya diam saja.

Aku mengedikkan bahu..

"Ngarep banget sih kalo dia yang nelpon!" Cibirku dengan mengucurkan air untuk membersihkan tanganku dari sisa busa sabun yang masih menempel.

"Kali aja iya, Nda! Lumayan dong dapat tebengan balik ke Surabaya naik mobil mewah lagi!" Ujarnya sambil terkekeh pelan.

"Mulai deh...ketagihan! Masih enakan juga naik andong!" Aku meledek Anita yang mulai keblinger naik mobil mewah.

"Iya sih memang enak naik andong, jalannya pelan-pelan, dan nyampenya juga minggu depan, garing dong di jalanan..hahaha!"

Aku memukul gemas pantat semok Anita, sebelum bergegas menjauhkan tubuhku untuk menghindari balasan darinya.

Masih sempat aku melirik pinggulnya yang digoyang-goyangkan dengan menyanyikan lagu koplo versi Anita..

Hahaha..tuh anak memang kocak...

Dering ponsel berhenti ketika sudah ada di tanganku. Aku segera melihat nama penelepon yang tertera di sana.

Tanpa sadar kedua sudut bibirku naik. Ada rasa yang tak kasat mata di dalam hati, rasa yang benar-benar sulit untuk diungkapkan. Benar kata Anita, Pak Kenan yang meneleponku. Ada dua panggilan tak terjawab, dan ada satu chat juga. Aku segera membukanya.

"Orangnya mana nih? Kok gak ikut ditampilin sekalian? Pasti masih belekan?"

Hahaha... Aku tertawa dalam hati, belum tahu saja dia, meskipun udara dingin aku tetap mandi subuh tadi pakai air hangat.

Tanpa ribet lagi untuk mengetik, aku segera membalasnya dengan menghubungi kontaknya secara langsung. Bagaimanapun Pak Kenan adalah bosku. Aku tak mau nanti dia mengira aku mengabaikan panggilannya.

"Halo!"

Aku menelan ludahku ketika suara Pak Kenan terdengar dari seberang telpon. Bergegas aku memasuki kamar, kuatir saja Bunda nanti bertanya yang macam-macam.

"Pagi, Pak! Maaf tadi gak sempat angkat telpon, lagi cuci piring!" Tanpa sadar aku berkata jujur untuk menyampaikan alasan, dan segera mendudukkan diriku di pinggir ranjang.

"Maaf diterima!" Balas Pak Kenan dengan nada yang lucu dan membuatku tersenyum. Terasa aneh saja dengan balasannya.

"Eeum, ada perlu apa ya, Pak? Bapak gak tersesat kan?" Tanyaku to the point. Gak mungkin kan aku menanyakan kabar, atau menanyai dia rawonnya tadi enak apa enggak...apalagi sudah mandi ya Pak? Hadeuuh..bisa bahaya kalau dia jawabnya nanti malah minta dimandiin...

Aku menepuk dahiku yang memiliki pikiran melantur kemana-mana...

"Kalian nanti pulang jam berapa? Bareng aja yuk!"

"Bareng?"

"Iya!"

"Katanya Bapak ada urusan?"

"Iya pagi ini, Nda! Cuman sebentar kok, jam sepuluhan kayaknya juga udah kelar!"

"Tapi saya baliknya sore lo, Pak! Bapak duluan aja gak pa pa!" Tolak ku halus.

"Kalian mau kemana? Saya jemput di rumah Om kamu ya?"

Whuaduh..aku menggigit bibirku. Bisa berabe kalau Pak Kenan ke rumah. Bunda nanti muji terus, dan Ayah nanti cemburu terus..

AMANDA dan Si MATA BIRUCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang