EXTRA PART 2

14K 698 70
                                        

Happy reading❤️

Amanda Pov

"Alhamdulillah anakmu terlahir cowok, Nda. Jika saja anakmu cewek ...." Ayah Arkhan tersenyum tipis sembari menggeleng-gelengkan kepalanya menatapku, "Ayah gak tau lagi mesti bilang apa," lanjut Ayah Arkhan seakan menyesali apa yang aku dan Mas Kenan lakukan.

Saat ini kami sedang berkumpul bersama setelah acara aqiqah bayiku selesai. Tepat di usia Virendra Zafran Samudera yang ke 7 hari.

Ayah Arkhan, Bunda Hanum, dan Mario baru datang kemarin pagi. Tak lupa juga ada keberadaan Kiara yang masih asyik memandangi Zafran, nama panggilan untuk si baby.

Dahiku mengernyit menatap ayah, dan kami semua menunggu ayah menjelaskan lebih banyak lagi tentang ucapannya.

Ayah menghela napas dan memandangi kami satu persatu. Pemahaman agama ayah memang lebih banyak daripada kami, karena ayah memang pernah mondok di pesantren, dan juga masih aktif mengikuti kajian-kajian ilmu di daerahnya.

"Kami menunggu lanjutannya loh, Yah," celetuk Mario yang sepertinya sudah tak sabar. Ayah tersenyum lagi, senyum yang menenangkan.

"Sebelumnya saya mohon maaf loh sama Pak Rizki, Ibu Belinda, dan juga sama Nak Kenan, jika apa yang akan saya katakan ini nantinya membuat kalian kurang berkenan. Tapi di sini saya cuma memberitahu apa yang saya tahu. Jika ada hal yang mungkin berbeda dengan pendapat yang lain, mungkin bisa dikoreksi. Demi kebaikan kita bersama." Ayah menangkupkan kedua tangan di dadanya sembari menatap kedua mertuaku. Senyumnya masih menghiasi wajahnya.

"Monggo Pak Arkhan, lanjutkan saja!" Ibu jari papa mertuaku menunjuk ke arah ayah penuh hormat. Ayah Arkhan memang luar biasa. Beliau selalu membuat segan orang yang memandangnya.

"Begini ya ... Ini mengenai baby Zafran. Pertama, yang saya tahu dalam agama kan untuk nama bin yang disandang kan menggunakan bin ayahnya, tetapi dalam kasus kalian yang keberadaan Zafran tercipta lebih dahulu dibanding pernikahan kalian, maka bin nya gak bisa pake bin Kenan."

Mas Kenan meraih tanganku dan menggenggamnya lembut, ibu jarinya mengusap perlahan punggung tanganku seakan berusaha menenangkan diriku yang dipikirnya resah dengan nasehat ayah.

"Cuma kayaknya untuk anak lelaki gak butuh bin sih, gak terlalu sering diucap atau dipake, beda dengan anak perempuan yang ketika menikah harus disebutkan," lanjut ayah.

"Terus yang kedua, yang patut kita syukuri adalah, jika dewasa Zafran gak butuh wali untuk menikah. Maka dari itu, apa yang sudah terjadi supaya dijadikan pembelajaran, dan jangan sampai terulang lagi, terutama buat kamu Mario dan Kiara, kalian di sini yang masih lajang ... berusahalah sekuat tenaga untuk mengendalikan nafsu, jika kalian tidak ingin mengalami kejadian dan penyesalan di belakang hari."

Nasehat Ayah Arkhan memang disampaikan dengan lembut, tetapi terasa menusuk dalam hatiku.

Naudzubillah, semoga kejadian ini hanya aku dan Mas Kenan saja yang melakukannya, jangan sampai terjadi pada keluargaku, anak-anak keturunanku, dan juga sahabat atau teman-temanku.

Aku melirik Mas Kenan yang duduk di sebelahku. Kepalanya tertunduk seakan benar-benar menyesali apa yang sudah terjadi. Sudah sering aku melihatnya menangis di sela-sela sholat malamnya, dan aku yang melihatnya dalam diam hanya bisa mengucap istighfar dan mengamini setiap doanya.

"Kebanyakan orang masih belum paham, atau mungkin karena malu, jadi ketika menikahkan anak perempuannya yang tercipta di luar pernikahan, mereka masih menggunakan binti bapak biologisnya, termasuk juga menjadi wali nikah. Padahal secara agama tidak boleh," nasehat Ayah Arkhan lagi.

AMANDA dan Si MATA BIRUCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang