"Ternyata Pak Kenan sudah di sini saja..hehehe!" Ucap Anita santai sambil melirikku, dan aku membalas dengan tatapan mata tajam.
🌹Happy reading🌹
"Iya, sekalian jemput Manda sama kamu!" Jawab Pak Kenan santai.
"Saya jadi gak enak lo sama Bapak! Dari Malang balik ke Batu lagi! Jadi ngrepotin!"
Pak Kenan tersenyum menatap wajahku.
"Gak pa pa, Nda! Saya juga sudah lama banget gak jalan-jalan ke sini!"
"Maksudnya sudah lama gak ke Batu?" Celetuk Anita ingin tahu.
"Iya!"
"Terakhirnya kapan sih, Pak?"
"Lupa, Nit! Kayaknya waktu SD. Waktu diajak Papa saya ke Malang terus mampir ke sini!"
"Itu sih gak mampir, Pak! Memang sengaja ke sini, mampirnya yang ke Malang!" Ujar Anita dengan terkekeh. Guyonan receh yang membuat aku menendang pelan kaki Anita di depanku.
Nih anak sepertinya bahagia banget diajak liburan, berbeda sama aku yang malah galau dari kemarin.
Anita membalas dengan mengedipkan matanya mengggodaku. Aku melihat Pak Kenan yang mengulum senyum. Tangannya mengulurkan ponsel yang bermerk buah digigit ke Anita.
"Tolong fotoin saya sama Manda ya!"
"Pak!" Seruku cepat. Aku menggelengkan kepala mencoba memberikan kode untuk tidak melakukannya.
"Nanti habis sama kamu, saya juga mau foto sama Anita!"
"Kalo foto sama saya, pakai ponsel saya aja ya, Pak!" Anita menyahut dengan santainya. Dia segera memberikan kode pada kami untuk duduk merapat.
Aku yang duduk bersisian dengan Pak Kenan merasa jengah. Apalagi ketika dia dengan tersenyum menggeser duduknya lebih mendekat. Otomatis posisi dudukku yang sudah di pinggir tidak bisa lagi untuk menjauh.
"Senyum dong, Nda!" Instruksi Anita membuatku sadar kalau sedari tadi aku memang cemberut.
Tiba-tiba saja, tanpa aku sangka salah satu tangan Pak Kenan terulur memegang daguku, dan tangan yang satunya lagi memeluk pinggangku. Sehingga posisi tubuhnya agak menyamping dan mata birunya menatapku mesra. Sontak mataku terbelalak. Jujur saja aku kaget dengan sikapnya yang terkesan romantis di hadapan Anita yang mengetahui status kami masing-masing.
Anita terkekeh, tangannya masih sibuk menekan layar.
"Bagus, Pak!" Serunya menyemangati yang justru membuatku malu. Aku tidak terbiasa berfoto, apalagi dengan pose mengumbar kemesraan di depan banyak orang. Aku tak tahu lagi bagaimana seandainya ada yang mengenal kami.
Tanganku berusaha melepas tangan Pak Kenan dari daguku, dan aku juga berusaha untuk menyunggingkan senyum. Senyum yang harusnya bahagia, tetapi terlihat jika aku terpaksa melakukannya karena salah tingkah.
"Ada yang ingin saya bicarakan sama kamu, Nda! Tapi nanti saja ketika kita hanya berdua." Bisiknya pelan di telingaku.
Aku menaikkan kedua alis. "Mau bicara apa?" Balasku juga dengan setengah berbisik. Pak Kenan tersenyum menatap wajahku. Tanpa aku sadari tangannya masih berada di pinggangku. Dan tanganku yang ingin melepasnya malah tersangkut dalam genggamannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
AMANDA dan Si MATA BIRU
Ficción GeneralCerita untuk usia 21+ Kenan Alarico Samudera sudah mengenal Amanda Puteri Suhardiman selama setahun sebagai bawahannya. Bahkan seminggu sekali mereka selalu berdua di ruangan kantornya dalam suatu urusan pekerjaan. Hingga suatu saat rasa cinta yang...
