Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

32. Time of Sorrow

1.3K 99 29
                                        

32. Time of Sorrow

Namanya Juyeon, laki-laki dengan tinggi 181 cm dan wajahnya bak polesan sempurna. Sorot matanya yang ceria berubah sendu, hidung bangi yang pas dengan proporsi wajah, juga bibir tipis menghiasi wajah seperti dalam tokoh anime.

Ia memiliki seorang kekasih yang sudah menemaninya selama 1 tahun belakangan. Pertemuan mereka adalah saat awal perkuliahan, dimana mereka masih sama-sama mahasiswa baru yang baru terjun ke dunia yang lebih luas. Menjadi dekat karena berada di kelompok yang sama.

Selama masa orientasi jurusan meraka kemana-mana akan bersama. Entah untuk membeli bahan atau hanya sekedar berkumpul dengan anggota kelompok lainnya.

"Ju lo mau pake bando apa? Kucing, kelinci, anjing?"

"Lo mau pake apa?"

"Anjing kayaknya, biar gue bisa main sama anjing gue di rumah."

"Apa hubungannya pula?"

"Gue bisa pura-pura jadi anjing, terus main sama ghana, gjhana itu nama anjing gue."

Awal bagaimana mereka sering mengunjungi rumah masing-masing, memiliki peliharaan yang sama, anjing. Awal bagaimana rasa itu terus tumbuh, hingga saat liburan semester, Juyeon memberanikan diri untuk menembaknya.

Awal masa pacaran benar-benar terasa sangat manis, tiap hari bersama diisi dengan canda.

"Dear, gimana kalau aku mulai kerja part time?"

"Mau ngapain kamu?"

"Aku mau hidup mandiri, kita jadi punya banyak waktu ketemu."

Apanya yang memiliki banyak waktu untuk bertemu, nyatanya tidak semulus perkiraan. Kekasih manisnya itu sibuk bekerja sebagai tutor, entah itu berada di kelas atau privat, kebanyakannya waktunya dihabiskan untuk mengajar atau kuliah. Sampai hari minggu yang dibuat untuk kencan rutin pun kadang harus batal.

"Kamu tau, kamu sekarang lebih mentingin ngajar daripada ketemu aku. Kita punya janji kan, kamu sering ngingkari janji."

"Juyeon, kamu kan tau aku sekarang hidup sendiri, aku gak bisa ngandelin orangtuaku terus, kamu jangan egois."

"Siapa yang egois disini?"

"Emang kamu gak lupa sama janji kamu sendiri? Kamu nginep sama temen-temen kamu kan, kamu ikutan mabuk, kamu pikir aku gak tau? Aku tau Ju, kamu yang egois disini, kamu yang seneng-seneng disaat aku sibuk kerja."

"Apanya yang kerja? Kamu cuma mau ketem cowok itu kan."

"Cowok mana? Murid bimbinganku banyak."

"Temen kerja kamu, aku lihat kamu pulang bareng dia."

"Terus salah siapa yang janji mau jemput tapi gak dateng-dateng?"

Juyeon menyesal setelah pertengkaran itu, hubungannya jadi merenggang, kekasih manisnya berubah begitu dingin. Tapi ia tak ingin menyerah, ia masih ingin mempertahankan hubungannya. Setahun berjalan, ia menemukan sosok yang pengertian dan menyayanginya.

Gelisah dan frustasi karena cinta, karena Juyeon merasa telah diabaikan oleh kekasihnya sendiri, karena Juyeon merasa kekasihnya semakin jauh dan sulit dijangkau.

Ia akhirnya memulai kerja part time seperti yang kekasihnya lakukan, ia juga ingin merasakan susah dan beratnya bekerja seperti yang kekasihnya alami. Menjadi pekerja di restoran kecil di kompleks pertokoan, ia merasakannya sendiri. Beratnya mencari uang, beratnya menerima makian saat semua yang dilakukannya tak memuaskan pelanggan.

Romantica | jukyuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang