Harta dan dunia.
***
Banyak waktu berlalu sampai keluarga kecil Juyeon dan Changmin bertambah satu malaikat kecil, Jungwon. Laki-laki kecil yang menjadi adik bagi Sunghoon, juga sebagai pelengkap kebahagiaan.
Papi, begitu Sunghoon memanggil Changmin. Ia sering menginap di rumah ayah dan papi kala Younghoon, daddy-nya sibuk bekerja, atau ketika akhir pekan. Menghabiskan waktu dengan keluarga utuh seperti yang selalu dimimpikannya.
Saat mulai masuk sekolah, Sunghoon selalu berakhir di kafe sebelah klinik Changmin. Menghabiskan waktu seharian sebelum dijemput atau sesudah makan bersama, papi dan adik kecilnya yang manja.
Iri dan cemburu selalu menghantui Sunghoon. Jujur saja ia juga ingin merasakan kebahagiaan seperti yang dirasakan Jungwon, melihat ketiga orang itu berkumpul membuatnya menginginkan hal yang sama. Ayah dan daddy berkumpul dengannya secara utuh. Egois. Namun, perasaan itu tidak bisa dihilangkan begitu saja.
Ada rasa tidak rela ketika ayahnya hanya mengantar tanpa menginap bersamanya di rumah daddy, ada rasa marah ketika ayahnya selalu menyebut wonie ketika berpamitan dengannya, ada rasa sedih saat melihat rumahnya sepi sekali berbeda dengan rumah jungwon. Sunghoon kecil juga ingin rumahnya ramai.
Hangat yang diberikan daddy saja sangat berbeda dengan rasa hangat yang diterima Jungwon. Sunghoon paham seharusnya ia tidak boleh berpikir seperti ini, tetapi ia mendapat kejengkelan begitu melihat sang adik mendapat kasih sayang dari semua orang. Sunghoon ingin dipeluk ayah dan daddy.
Hal itu terjadi saat Sunghoon jatuh sakit, ia panggil ayah dan daddy berkali-kali, meminta perhatian dan kehangatan. Untuk pertama kalinya ayah menginap di rumahnya dengan daddy, meninggalkan papi dan wonie. Di kiri mendapat pelukan ayah, di kanan mendapat suapan daddy. Ia menangis saking harunya bisa berkumpul secara utuh seperti ini.
"Besok daddy ijin! Ayah bobo sini!"
Kedua orang itu mengangguk paham mendengar permintaan sang putra. Sunghoon bisa tidur dengan nyenyak juga karena hal itu. Diam-diam ia meminta maaf pada papi karena menahan ayah, ia ingin merasakan apa yang selalu dirasakan Jungwon.
"Changmin nggak masalah kamu nginep di sini?" tanya Younghoon begitu duduk di meja makan setelah menyiapkan makan malam untuk Juyeon. "Jungwon nggak nyariin kamu?"
"Wonie nangis, sih. Tapi, aku nggak bisa ninggalin Hoonie."
Younghoon memaksakan senyum, merasa tidak enak pada si kecil. Jungwon pasti merasa sedih karena ditinggalkan ayahnya seperti ini, tidak biasa dengan absennya Juyeon. Ada rasa hangat di dalam hatinya, bahwa kepedulian sebagai ayah masih dilaksanakan walau harus meninggalkan keluarga di rumah. Untuk beberapa alasan, ia merasa iri bahwa bukan dirinya lagi yang menjadi prioritas. Ada hati yang dijaga Juyeon.
Dikira perasaan itu sudah lama hilang, nyatanya sampai sekarang masih ada. Younghoon memang salah memilih mengakhiri semua, jika ia diberikan kesempatan memutar waktu, ia ingin bertahan dengan keluarga kecilnya. Karena setelah memutuskan berpisah, ia kelimpungan sendiri bekerja dan mengurus Sunghoon.
Tidak ada kata mudah dalam hidup Younghoon. Bekerja keras agar putra tunggalnya berkecukupan, bekerja keras agar melupakan cintanya, juga membuang hatinya agar tidak memiliki beban yang membelenggu. Walaupun ia tahu, hidup Juyeon tidak lebih baik darinya. Bahkan ia baru tahu kenyataan yang menyakitkan, mantan suaminya itu ingin mengakhiri hidupnya. Hal itu semakin membuat rasa bersalahnya semakin besar.
Mencoba memberanikan diri untuk berbicara lagi pun sepertinya sudah cukup terlambat. Pertemuan pertama dengan Juyeon adalah saat ia melakukan syuting di dekat pelabuhan ke resort keluarga Juyeon, ia menemukan satu sosok yang mampu mengembalikan senyum Juyeon. Hatinya hancur lagi. Di saat ia ingin memulai lagi, ternyata Juyeon sudah menemukan kebahagiaan yang lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantica | jukyu
FanfictionBook khusus JuKyu Entah jadi oneshot, twoshot, short story MAIN PAIR JUKYU BXB MATURE
