Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

53. Gonza: Roller Coaster

730 63 28
                                        

It's one wild ride, but worth every second.

***

"Juyeon, kamu suka sama dokter Changmin?"

Suasana meja makan malam ini tiba-tiba membeku. Berbekal satu pertanyaan Papah Juyeon disela kunyahan membuat yang mendapat pertanyaan menghentikan suapannya. Mamah Juyeon juga berhenti mengunyah, ia melirik ke arah suami dan anaknya bergantian, memastikan tidak ada amarah jika saja anaknya tersinggung dengan pertanyaan tersebut.

"Papah," panggil Mamah Juyeon. Mereka sama-sama terdiam ketika berpandangan. Dengan lirikan mata dan sedikit gelengan agar mengubah topik.

"Papah lihat kamu sering keluar sama dokter Changmin, Papah kira kamu mau deketin dokter Changmin. Kalau bukan, ya sudah." Jelas Papah Juyeon sedikit canggung. Ia takut salah jika membuat anaknya sendiri tidak nyaman.

Jika dilihat dengan mata telanjang, Juyeon terlihat seperti melakukan pendekatan, atau mungkin sedang menyusun sebuah hubungan. Bagaimanapun, hal itu merupakan keinginan orang tuanya, mereka ingin melihat anaknya bahagia dengan memiliki pendamping, agar tidak berlarut-larut dengan kegagalan sebelumnya. Mungkin sekarang Juyeon terlihat baik-baik saja, namun wajah Juyeon menunjukkan semuanya, kondisinya cukup membaik tapi belum benar-benar pulih. Juyeon yang mereka kenal adalah perawakan yang cukup ceria dan suka berbicara, melontarkan candaan cringe atau mencoba melucu, yang mereka tahu anaknya tidak suka berdiam diri.

Hati siapa yang tidak sedih ketika melihat putra semata wayangnya hancur. Keadaannya seperti mayat hidup yang tidak memiliki semangat maupun arah. Beberapa usaha memanggil psikiater sama sekali tidak membuahkan hasil.

"Aku mau rawat anak kucing."

Kalimat itu keluar dari Juyeon yang pulang larut dengan pakain basah, malam dimana dia ingin melakukan percobaan bunuh diri. Mamah Juyeon sudah sangat cemas, anaknya yang tidak mau keluar kamar sama sekali dan hanya mengurung diri, sekalinya keluar malah tidak ada kabar. Ia hanya menerka apakah anaknya ingin menemui mantan suami dan anaknya. Ia tidak menyangka jika pikiran anaknya begitu pendek. Kematian bukanlah solusi.

Papah Juyeon memberi ijin, sementara Mamah Juyeon memeluk putranya sambil menangis.

Setidaknya, setelah mendapat ijin Juyeon mulai keluar rumah, entah itu mencari uang dengan menjadi driver atau menuju klinik hewan dimana dia menitipkan anak kucing yang ingin dirawatnya. Selain itu, perubahan terbesar adalah Juyeon mulai berbicara kembali dengan kedua orang tuanya.

"Namanya Chara. Kata dokter Changmin, biar dia nemuin kebahagiaan yang baru."

Untuk pertama kali nama Changmin disebut, dokter hewan yang merawat Chara di awal pertemuan, dokter yang membantu Juyeon bagaimana merawat anak kucing, dan laki-laki yang suka menjadi tempat Juyeon menenangkan diri. Jika sedang libur menjadi driver, Juyeon suka berakhir di Pet café, dan menjadi tempat belajar Juyeon dengan ditemani Changmin.

"Aku mau bikin usaha kue."

Padahal Papah Juyeon sudah menawarkan untuk mengurus resort secepat mungkin, selain agar Juyeon bisa belajar, resort tersebut juga akan diwariskan untuk Juyeon. Mamah Juyeon yang membujuk sang Papah agar membiarkan Juyeon berusaha melakukan apapun yang dia mau. Terlihat seperti pelarian, namun, hal itulah yang membuat anaknya bisa melupakan sakit hatinya.

Hingga untuk pertama kalinya Changmin mengunjungi rumah Juyeon, Mamah Juyeon yang pernah merasakan jatuh cinta di masa muda melihat hal yang sama di mata Changmin. Mungkin keduanya belum menyadari hal itu, tapi terlihat sangat jelas jika Changmin memiliki rasa untuk anaknya.

"Mah, Papah rasa mereka masih ditahap saling mengenal."

Juyeon benar-benar tidak bisa ditebak. Bagaimana ketika dia berada di rumah dan bagaimana ketika dia berada di luar. Terlihat sama, tapi sangat berbeda.

Romantica | jukyuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang