47. Reason: Sebuah Rasa
*
*
Kemunculannya seperti kejutan.
*
*
Changmin terlihat manis dan menggemaskan seperti biasanya, gemerlap matanya, binar matanya seperti anak kucing yang minta perhatian dan anak anjing yang ingin bermain, hidungnya kembang kempis ketika lelah menyapa, bibir mungilnya yang cemberut sangat lucu atau tertawa dengan indah, sampai-sampai membuat Juyeon tenggelam ke dalam tawa nyaringnya.
Apakah ini yang dikatakan salah satu karyawan kafe, bahwa dia menemukan pesona dalam diri si anak manja.
Mungkin saja dia telah terjatuh dalam pesonanya. Semua yang dilakukan Changmin tak pernah menyisakan celah untuknya menyela. Penuh akan pertimbangan dan pemikiran yang sangat matang, dan Juyeon hanya memberikan anggukan setuju, mengiyakan ide-ide yang keluar dan menyanggupi untuk berjalan berdampingan.
Juyeon tak bodoh. Dia paham apa yang terjadi sekarang. Hal yang sama ketika bertemu Hyunjae.
Ada getaran di dalam diri Juyeon ketika Changmin berada di depannya. Kadang, memikirkannya pun juga menimbulkan euforia. Kerap kali hatinya resah ketika tak memiliki waktu untuk bertatap.
Kasmaran
Satu kata yang mewakili perasaannya.
"Juyeon! Bawain bonekanya ke kamar!"
Hari ini Changmin memaksa untuk bermain di pasar malam, padahal udaranya begitu dingin dan tentunya berdesakan dengan banyak orang karena tujuannya adalah festival lampion. Mereka berdua ikut menerbangkan lampion dengan menuliskan harapan pada lembar lampion yang diterbangkan. Juyeon sempat melirik harapan dari Changmin, aku mau jalan-jalan sama Juyeon.
Bukankah setiap minggu mereka akan jalan-jalan, apakah waktunya masih kurang, itu pikiran awal Juyeon. Selang beberapa saat dia baru menyadari arti dibalik harapan Changmin. Changmin hanya ingin bersamanya. Kemana-mana bersama, berdua.
Dadanya terasa sesak mengingat begitu tinggi harapan Changmin, yang belum tentu dapat Juyeon kabulkan, walaupun ingin. Ada rasa takut menggerogoti setiap memikirkan Changmin. Bagaimana jika dia hanya kasihan? Bagaimana jika dia hanya iba? Bagaimana jika dia menyakiti Changmin? Rasa takutnya sangat besar.
"Juyeon!!!"
Teriakan Changmin membuatnya tersadar lalu bergegas membawakan boneka hasil permainan tembak di pasar malam tadi. Changmin sendiri yang memenangkan boneka kucing dengan tiga warna yang sangat gembul. Tak begitu besar memang, tapi cukup untuk dipeluk.
Begitu sampai di kamar Changmin, Juyeon terdiam di tempatnya, di sisi kanan ranjang. Sementara Changmin sudah berganti pakaian, piyama bermotif kotak-kotak. Badan ramping dan mungil milik Changmin sebenarnya sangat nyaman untuk dipeluk. Ya, Juyeon ingin memeluknya.
"Kenapa? Mau piyamaku?"
Juyeon tak bisa untuk menahan kekahannya, kenapa Changmin berpikir seperti itu. Buat apa dia menginginkan piyama milik Changmin, yang ada tak muat untuk badannya.
"Gemes aja."
Rona kemerahan di pipi Changmin terlihat walaupun samar, yang Juyeon sesali kemudian adalah betapa lugas dan ceplosan kalimatnya. Dia terdengar seperti merayu Changmin.
"Mau nginep?" tanya Changmin ketika sudah berpindah ke ranjang, dengan memeluk boneka kucing yang dia menangkan tadi. Tangannya sibuk mengusap bulu lembut dari boneka. Tatapan matanya menunduk, berpua-pura melihat si boneka, padahal dia tak berani menatap Juyeon yang tiba-tiba duduk di depannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantica | jukyu
FanfictionBook khusus JuKyu Entah jadi oneshot, twoshot, short story MAIN PAIR JUKYU BXB MATURE
