12. Kejutan Yang Sebenarnya.

287 46 2
                                        

Vote part sebelum nya untuk menghargai!

°°°

Pulang sekolah, Ava langsung minta di antar oleh Scarviu dan Graciel menuju rumah orang tua nya.

Sedari tadi Graciel tak henti henti meyakinkannya agar tidak kerumah itu. Tapi Ava tetap kekeh akan kembali kerumah.

"Graciel tenang aja, Ava bisa urus semua nya. Ava janji gak akan nekat kayak waktu itu." Graciel kini diam saat Ava menjawab nya. Menatap Ava dengan intens untuk mencari kebohongan namun nihil.

"Graciel, kamu bawa mobilku. Aku ikut Ava." Graciel mengangguk.

Sampai didepan pagar rumah besar bercat putih, Ava turun bersama Scarviu.

"Hati hati Ava," Ava mengangkat dua ibu jari nya sambil mengedipkan satu mata.

Graciel sudah pergi bersama mobil Scarviu.
Scarviu menatap Ava dengan ragu.

"Yakin?" Ava menoleh kemudian mengangguk.

"Kamu gak berubah?" Scarviu menatap sekitar kemudian merubah diri menjadi jepitan yang langsung dipakai Ava. Warna nya kuning terang, lucu sekali.

Dalam hati, Ava terus berdoa dan meyakinkan diri.

"Kalo gue dibunuh berarti gue mati. Semangat!" batin nya berkali kali mengatakan seperti itu.

Kaki nya melangkah mantap menuju pagar, membukanya lalu membiarkan terbuka karena ada penjaga.

Melangkah sampai depan pintu lalu membuka nya.
Keadaan rumah kosong. Ava masuk dan menutup pintu.

"Assalamualaikum," tak ada jawaban. Ava melangkah naik menuju kamar nya.

Seminggu ditinggalkan tetap tak ada perubahan. Tetap dingin.

"Ava mau ganti baju, jangan lihat." melepas Scarviu berwujud jepitan dan meletakkan nya di nakas.

Ava mengambil baju nya dilemari. Kaos rumahan crop lengan pendek dan celana selutut.

"Ava," Ava berdeham.

"Keluarga Ava baru sampai." Ava mengangguk melanjutkan mengganti pakaian.

Setelah selesai, Ava memakai kembali jepitan nya dan turun kelantai bawah.

Semua menoleh ketika mendengat suara langkah dari tangga namun kembali mengalihkan pandangan mereka.

"Papa tunggu di ruang keluarga." Ava mengangguk, Ava ingin ke dapur untuk menyegarkan tenggorokan nya yang kering.

"Siap?" Ava mengangguk.

Kakinya melangkah ringan menuju ruang keluarga yang ada didekat pintu belakang.

"Duduk." Ava menjatuhkan bokongnya di sofa single kosong.

Ada Widia dan juga Raya yang duduk di sofa panjang.

"Papa memutuskan untuk menyekolahkan kamu di luar negeri," Ava membulatkan mata. Tak ada masalah apa apa selama ini namun kenapa tiba tiba ia dikirim ke luar negeri?

"Ngapain?"

"Biar gak bodoh. Gak pulang kerumah pasti kerjaan kamu cuma main main. Siapkan perlengkapan yang mau kamu bawa, lusa berangkat." Ava menaikan satu alis nya tanpa takut.

"Kalau Ava gak mau?"

"Keluar dari rumah, saya udah gak mau nanggung sekolah kamu lagi." Ava menyunggingkan senyum sinis nya. Sudah lama ia ingin mendengar ini.
Cara baik baik menurut Zeno adalah ini.
Diterima.

All Secrets [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang