Inget ya, pendengar juga butuh di dengar.
-Ava
╭══════ ▫ ❀ ▫ ══════╮
Siang ini, Ava sudah dipulangkan oleh pihak rumah sakit karena kondisi Ava cepat membaik. Scarviu dan Graciel lagi lagi membolos sekolah, tak peduli dengan masalah yang datang nantinya.
"Anterin Ava ke toko buku sebentar," ucap Ava yang tengah bersandar di bahu Scarviu.
"Ngapain?"
"Ngupil! Beli buku lah, ganteng." jawabnya penuh kesal pada Scarviu. Lagian, orang ke toko buku ngapain? Masak? Cebok? Kan enggak.
Scarviu mengangguk kembali menatap kearah depan. Graciel yang mengendarai mobil hanya bisa menyimak begitupun dengan Nezellan.
Mobil hitam milik Scarviu berhenti di tempat parkir toko buku, Ava keluar sendiri karena sudah meminta agar yang lain tetap tinggal di mobil.
"Dompet nya ketinggalan, nih!" Ava berbalik menatap Scarviu yang menggoyangkan dompet biru langit milik nya. Berlari pelan untuk mengambil dompetnya, Ava kembali melangkah menuju toko buku.
Ketika memasuki toko buku, terlihat begitu ramai namun sepi, karena ditoko buku juga ada tempat untuk membaca jadi tidak diperbolehkan kebisingan.
Ava langsung melangkah menuju rak buku pelajaran IPA, khususnya Kimia. Memilih buku yang ia butuhkan karena sudah lama sekali ia tak memperhatikan pelajarannya namun ia masih bisa mendapat peringkat 1.
"Kak," Ava menoleh mendengar suara bisikan disamping nya. Terlihat anak remaja laki laki yang umurnya berkisaran 11 sampai 13 tahun.
"Aku?" Ava menunjuk dirinya sendiri. Anak tersebut mengangguk.
"Boleh minta tolong gak ambilin buku yang itu?" anak laki laki tersebut menunjuk rak yang lebih tinggi. Memang anak tersebut terlihat lebih pendek dari Ava, tapi apa Ava bisa sampai?
"Boleh, yang mana?" Ava mendongak.
"Yang abu abu," Ava mencari dan ketemu, namun tinggi buku tersebut tak dapat Ava jangkau.
"Ini, kan?" Ava menoleh ketika mendapati laki laki yang sudah memegang buku yang ingin Ava jangkau tadi. Laki laki tengil yang Ava benci.
"Iya, kak. Makasih, ya."
"Eh, Dek. Lain kali kalau minta tolong sama yang mampu aja, orang kayak dia mana mampu ngambil buku setinggi itu." Hah! Menyebalkan, sangat menyebalkan.
Remaja laki laki tersebut mengangguk dan berpamitan.
Ava mengambil buku yang ia inginkan kemudian hendak pergi namun tertahan.
"Apa?" tanyanya dengan tak ikhlas.
"Mau main UNO?" nada menyebalkan terdengar. Ava paham ajakan itu karena saat itu Ava yang meminta laki laki itu main UNO dari pada gelud. Kalau lupa coba kembali di part 'Berebut'
"Maaf, gak ada waktu buat melayani rakyat jelata macam anda." Ava hendak pergi lagi namun lagi lagi ditahan.
"Lo itu sekarang pacar gue, coba manis sekali aja sama pacar." Ava menaikan alis nya. Pacar? Sejak kapan? Apa sejak Ava menendang perut Rafa? Cih!
"Sorry, Pacar gue lebih ganteng, lo cuma orang luar yang ngaku ngaku. Tau kok gue, lo fans gue, kan?" Rafa terkekeh mendengar ucapan Ava.
"Fans? Sasaeng aja gimana?" Ava membulatkan matanya. Kok, laki laki ini ngerti Sasaeng? Ngeri juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
All Secrets [End]
Teen Fiction[Follow sebelum membaca] [Belum revisi] °°°°° Tempat mereka, para teman teman nya berkeluh kesah tentang kehidupan yang dijalani. Menjadi 'tempat sampah' teman teman nya, menjadi tempat untuk keluarnya air mata teman teman nya, pelukan hangat yang d...
![All Secrets [End]](https://img.wattpad.com/cover/265250727-64-k168816.jpg)