kenapa harus bertahan jika merelakan bisa membuat bahagia?
-----------------
Dengan menunduk, Rafa merapalkan doa yang sangat sungguh sungguh. Ia ketakutan sekarang apa lagi saat melihat darah Ava tadi.
Ava dibawa ke ruang UGD dan Rafa tak diperbolehkan masuk.
Rafa menyugar rambutnya kebelakang dan mendongakan kepala. Kembali menunduk, ia melihat ke arah jarum jam tangan nya yang terus bergerak.
Rafa menoleh ketika mendengar langkah kaki mendekat. Itu Scarviu dan yang lainnya.
"Sebenernya kamu gak perlu bawa Ava ke rumah sakit."
Rafa tersenyum miris.
"Terus? Di biarin aja gitu sampe Ava mati? IYA?!" Graciel mendekati Rafa, menepuk bahu Rafa sebanyak dua kali.
"Ava yang selalu nolak di bawa ke rumah sakit. Mending lo pulang, ganti baju. Tuh, baju lo ada darah Ava."
Rafa menatap Graciel penuh curiga.
"Jadi Ava udah sering begitu?"
Senyap.
Rafa terkekeh pelan. Ia merasa di khianati.
Baru ia akan mengeluarkan emosi nya, seorang dokter perempuan keluar dari ruang UGD.
"Kalian keluarganya Ava?" Semua mengangguk.
Terdengar helaan nafas dari sang dokter.
"Kanker ditubuh Ava udah mulai masuk stadium tiga. Sangat disarankan untuk melakukan operasi di rumah sakit besar, kalau tidak, maka akan sangat tidak mungkin Ava bertahan lebih lama."
Tubuh Rafa melemas seakan tenaga ditubuhnya hilang semua.
Kanker?
Kenapa hal besar seperti ini ia tak tahu?
"Terimakasih, dok. Kami akan pikirkan lagi nanti."
Dokter tersebut mengangguk dan kembali masuk ke ruangan.
Rafa merasa ditatap beberapa mata.
Ia mendongak dan menatap Scarviu, Graciel dan Nezellan.
"Apa? Apa lagi yang gue gak tau tentang Ava?" Tanya nya dengan lemah.
"Dari seratus persen Ava, kamu masih masuk ke dalam dua puluh persen nya." Ucap Scarviu dengan datar. Benar, Rafa hanya tau Ava sekedar nama dan sikap bukan kehidupan dan sifat asli.
Rafa lagi lagi terkekeh pelan, tangan nya bergerak menarik rambutnya yang memanjang itu.
"ARRGGHHH!"
Tak sadar, air matanya jatuh melewati pipi nya. Rafa lemah sekarang.
"Gue cuma bisa mohon sama lo, bawa Ava ke Singapura buat operasi. Di sana ada Tante gue yang ngurusin tentang kanker. Gue mohon sama kalian. Ava harus tetep hidup, gue bakal berusaha ngasih Ava kebahagiaan yang gak pernah dia dapet. Gue bakal berusaha hapus semua penderitaan Ava. Gue siap berlutut."
Nezellan menepuk bahu Rafa membuat Rafa mendongakan kepala.
"Kamu yang harus bujuk Ava supaya dia mau dibawa berobat ke Singapura. Kita semua udah berusaha, tapi dia cuma mau berobat di mansion, itupun belum sempurna."
Rafa langsung mengangguk. Ia harus membuat Ava mau menjalani pengobatan dan kembali kedalam pelukan nya dengan sehat.
"Asal jangan bikin dia tertekan." Pesan Scarviu didengar jelas oleh Rafa.
KAMU SEDANG MEMBACA
All Secrets [End]
Teen Fiction[Follow sebelum membaca] [Belum revisi] °°°°° Tempat mereka, para teman teman nya berkeluh kesah tentang kehidupan yang dijalani. Menjadi 'tempat sampah' teman teman nya, menjadi tempat untuk keluarnya air mata teman teman nya, pelukan hangat yang d...
![All Secrets [End]](https://img.wattpad.com/cover/265250727-64-k168816.jpg)