22. Melepas Genggaman Cia

230 45 33
                                        

'seandainya perpisahan sepaket dengan melupakan'

-hanya gabut-

______________ლლლ_______________

"Malu lo sama cewek lo, udah ada ayam di piring pake ngambil lagi." Rafa mendelik begitupun Ava. Ava sedari tadi hanya mengumbar senyum gugup nya.

Rafa memang manusia rada rada yang membuat Ava semakin tak menyukai laki laki itu. Sudah tengil, sok ganteng, banyak bacot kayak cewek, udah gitu pemaksa. Bukan tipe Ava.

Tipe Ava adalah-

"Ava, kok melamun? Gak enak, ya?" Ava mendongak menatap Dilla yang menatap Ava tak enak. Ava jadi ikut tak enak.

"Enak banget, Tante. Ava lagi mikirin ini pake resep spesial atau resep penuh cinta." Dilla terkekeh mendengar jawaban Ava. Dilla menatap Ava dengan tatapan lembut. Tapi mengapa hati Ava terasa perih?

"Nanti Tante ajarin, kamu kesini lagi kapan kapan. Jangan putus sama Rafa biar bisa kesini terus." sejujurnya wajah Ava hampir mendatar kesal namun senyum nya dipaksa tak luntur. Rafa yang melihat ekspresi Ava hanya bisa menahan tawa nya.

Ada yang ingin tahu mengapa Ava dibawa Rafa kerumah dan dikenal kan pada orang tua Rafa?
Jawaban nya adalah, Supaya Rafa bisa leluasa mengatur Ava dan juga supaya Rafa bisa punya alasan keluar rumah.

Drrtt.. Drrtt..

Ava terkejut dengan dering pesan masuk dari ponsel nya yang sangat beruntung ada di saku baju yang tadi ia pakai dan terbawa. Ingin membuka pesan namun tak sopan jika sedang berkumpul seperti ini.

"Liat dulu, Ava. Siapa tau penting?" Ava menatap Dilla kemudian mengangguk. Ava mengambil ponsel nya di dalam tas selempang kecil yang dibelikan Rafa.

Viva
Cia masuk RS, lo dmn?

Viva
Va, Cia berulah lagi kali ini dia jilat racun.

Reflek Ava berdiri membuat satu keluarga menoleh padanya.

Ava membungkukan badan nya sopan.
"Maaf, Ava gak bisa lanjutin makan malam nya, Tante, Om. Temen Ava masuk Rumah Sakit." Ava berkata dengan nada yang bergetar menahan tangis.

Cia. Perempuan nekat yang sudah sering melakukan percobaan bunuh diri saking lelah nya mendengar kedua orang tua kandung nya menyesal melahirkan nya ke dunia. Tak bisa di hitung jari, Cia sudah berkali kali terselamatkan akibat tingkah nekat nya. Ava bersyukur atas itu.

"Kamu tenang dulu, sayang. Gak apa apa, kok. Rafa antar Ava." Ava langsung menggeleng.

"Ava sendiri aja, Tante. Ava pesen taksi online." Ava berpamitan dengan mengecup punggung tangan Dilla, Danu dan Puri yang menolak disalimi.

"Rafa, antar Ava." Ava menghela nafas, tak ada gunanya menolak juga jika seperti ini.

"Permisi, Om, Tante, Kak. Assalamualaikum." Ava berlari keluar dan Rafa langsung mengejar Ava. Danu, Dilla dan Puri hanya menatap punggung kedua pemudi pemuda yang baru saja pergi.

°•°•°•°•°

"Gue mohon sama lo, bisa lebih cepet, gak? Nyawa Cia terancam." Ava sudah menangis. Tak peduli dengan adanya Rafa. Cia lebih utama.

Rafa tak banyak bicara, lelaki itu menambahkan kecepatan laju mobil nya yang ternyata keterlaluan cepat sampai disumpah serapahi oleh kendaraan yang mereka lewati.

All Secrets [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang