minta menyan buat nyari siluman
kukira nyaman eh ternyata cuma kesepian.
-😗🤙🏻-
▭▭▭▭▭▭▭▭▭▭▭▭▭▭
Saklar lampu di tekan dan lampu menyala menerangkan kamar Ratu.
Mata Ava berkeliling mencari suara yang memanggilnya dan..
"Ratu!" Ava berlari menghampiri Ratu yang meringkuk disamping ranjangnya.
Ava terkejut ketika melihat tali yang mengikat tangan dan kaki Ratu. Ia tau sesuatu. Bukannya ingin menuduh, tapi mendengar suara Artan tadi... Itu menjelaskan semua.
"Astagfirullah, Ratu. Mana yang sakit?" setelah membuka ikatan yang membelit, Ava memeriksa seluruh tubuh Ratu dari kepala sampai kaki dan hanya menemukan lebam yang membiru di pinggang Ratu dan lecet akibat ikatan tali yang lumayan kencang.
"Ava.." Ratu memeluk Ava dengan erat, tangisnya terdengar diseisi kamar. Untungnya, kamar Ratu kedap suara.
Tidak, ini tidak ada untungnya.
"Keluarin semua nya lewat tangis lo. Bahu gue hari ini buat lo." Ava mengusap kepala Ratu dengan lembut, tangis Ratu masih berlangsung.
Ava sepertinya tak bisa cerita soal Viva hari ini. Melihat keadaan Ratu yang tidak baik baik saja, Ava jadi mengurungkan niatnya.
Tangis Ratu begitu tersedu sedu hingga sesenggukan. Ava mengusap punggung Ratu yang terbalut kaus rumahan yang kebesaran.
"Ayo duduk dikasur lo aja." Ava merangkul Ratu agar kuat untuk melangkah ke ranjang milik Viva.
"Gue ambil minum dulu." baru Ava hendak meninggalkan Ratu, pintu terbuka dan menampakkan Serlin yang membawa nampan yang terdapat dua gelas es teh serta makanan ringan.
"Eh, nih tante bawain ini." Serlin memberikan nampannya pada Ava dan Ava langsung menerima.
"Makasih, tante." Serlin tersenyum dan mengangguk.
Serlin sedikit mengintip untuk melihat Ratu yang sudah terduduk.
"Baru bangun?" Ava mengangguk.
"Yaudah, tante ke dapur dulu." Ava tersenyum dan mengangguk. Melihat Serlin yang sudah menjauh, Ava kembali menutup pintu dan menuju Ratu.
"Mama lo bawain ini, minum pelan pelan." Ava memberikan segelas es teh yang langsung diterima Ratu.
Melihat Ratu yang sudah lumayan tenang, Ava duduk disebelah Ratu dan merangkul sahabatnya tersebut.
Ini lah sosok Ratu dirumah.
Dijadikan Ratu oleh kedua orang tuanya namun dijadikan Babu oleh sang Kakak laki laki nya.
Ratu yang ceria bukanlah Ratu yang sebenarnya. Semua topeng, hanya topeng yang dipakai semua orang terluka.
"Lo punya gue, jangan berpikir lo sendirian. Lo punya gue, Viva, orang tua lo. Lo juga punya Tuhan. Kita semua sayang lo, Ratu." Ratu tak menjawab, mendengarkan dengan tatapan kosongnya.
Ava tak kuat kalau melihat keadaan sahabat sahabatnya yang rapuh sendirian seperti ini. Ava jadi merasa tak berguna.
"Sore ini gue mau ziarah ke makam Cia. Lo mau ikut?" Ratu kini menatapnya, tatapan sendu yang sebenarnya Ava tak pernah ingin lihat.
"Lo sendiri?" Tanya Ratu dengan suaranya yang serak.
"Kalau lo ikut, gue gak sendiri." Ratu menunduk kembali.
"Ada acara keluarga nanti malem, gue gak boleh pergi." Ava membulatkan bibirnya sembari mengangguk mengerti.
"Kalau gitu, lo gak boleh keliatan sedih. Ayo senyum." Ratu menoleh senyum nya terbit meski sedikit.
"Yang lebar dong, senyum bikin lo tambah cantik." kini Ratu tertawa. Ava juga ikut tertawa.
Inilah Ava, si penenang yang tak memiliki penenang.
Si pemilik bahu tahan air tak memiliki tempat menampung air.
Ava hanya manusia yang... Kalian bisa pikirkan sendiri.
° • ° • ° • ° • °
Ava melambaikan tangan pada Ratu yang mengantarnya sampai pintu depan rumah.
Ava masuk kedalam mobil Rafa yang entah sejak kapan menunggunya. Untungnya, Ratu tak mengetahui kalau itu mobil Rafa.
"Dari kapan lo dirumah Ratu?" tanya Ava sembari memakai sabuk pengaman nya.
"Setengah jam lalu." Ava mengangguk paham. Mobil melaju meninggalkan pekarangan rumah Ratu.
Selama perjalanan, hanya lagu yang mengisi keheningan.
Lagu yang dibawakan oleh Mahalini dengan judul Melawan Restu.
Lagu yang sebenernya lagi diputar authornya juga saat ngetik.
Mungkinkah aku meminta~
Kisah kita selamanya~
Tak terlintas~
Dalam benakku~
"Bila hariku tanpamu.." Ava menoleh mendengar suara Rafa yang mengikuti lirik dari lagu yang tengah terputar.
Ava menyipit curiga.
"Sering scroll, ya?" Rafa kini balik menatap Ava kemudian menggeleng dan kembali menatap depan.
"Azka nyanyi lagu itu terus." Ava tak menjawab, kepalanya kembali menatap kedepan.
Tadi ia tengah memikirkan apa ya?
Oh iya! Tespeknya!
"Duh!" Ava memukul kepalanya sendiri karena kebodohannya melupakan bukti kehamilan Viva.
Rafa menepikan mobilnya dan menatap Ava dengan khawatir.
"Hei, lo kenapa? Jangan pukulin kepala." Rafa menahan tangan Ava yang memukuli kepalanya sendiri. Menarik Ava hingga masuk kedalam dekapannya.
"Gue kenapa bego banget, sih?! Kenapa gue bisa lupain bukti nya Viva?" tanyanya pada diri sendiri.
Rafa mengusap lembut kepala Ava.
"Kita bisa tes lagi sama Viva. Masih ada cara." ucap Rafa menenangkan Ava yang masih menyalahkan diri sendiri. Ava kalau lemah ya seperti ini kira kira.
Ava melepaskan diri dari pelukan Rafa.
"Anterin gue ke makam Cia." Rafa memiringkan kepala.
"Makan siang dulu, ya?" Ava membalasnya dengan gelengan. Ia butuh Cia saat ini walau hanya gundukan.
"Kalau lo gak mau anterin, gue bisa pergi sendiri." Rafa menggeleng dan kembali melajukan mobilnya. Ini kenapa Rafa jadi nurut banget sama Ava, ya?
° • ° • ° • °
Setelah sampai di pemakaman umum, Ava keluar dari mobil terlebih dahulu dan diikuti Rafa yang selesai mengunci mobilnya.
"Lo gak perlu ikut, gue pengen cerita berdua sama Cia." Titah Ava sembari menatap Rafa yang berdiri didepan nya.
Rafa maju satu langkah dan mengecup poni Ava dengan tiba tiba, Ava belum siap hati. Setelah mengecup beberapa detik, Rafa mundur namun tangannya mengusap pelan kepala Ava.
"Jangan banyak nangis, ya. Gue tunggu didalem mobil," Rafa berucap sembari memberikan Ava senyum manisnya, bukan senyum tengil yang biasanya. Astaga, pipi Ava memerah.
Ava menggeleng dan menjauhkan diri dari Rafa, takut meleleh dengan kemanisan Rafa.
"Oke." Ava berbalik dan pergi meninggalkan Rafa yang masih tersenyum menatap punggung kecil Ava menjauh.
Ini nih orangnya yang bilang gak akan jatuh cinta sama Ava. Nelen ludah sendiri kan!
Bucin, Bucin dah lo.
▭▭▭▭▭▭▭▭▭▭▭▭▭▭
Ini kenapa gue pisah pisah ya seharian doang. Ga ngerti lagi.
Padahal awal bikin cerita tuh udah punya target cuma bikin smpe chapter 20an ini malah otw 40.
Gatau lah ini gimana namatinnyaaaa😭😭
KAMU SEDANG MEMBACA
All Secrets [End]
Roman pour Adolescents[Follow sebelum membaca] [Belum revisi] °°°°° Tempat mereka, para teman teman nya berkeluh kesah tentang kehidupan yang dijalani. Menjadi 'tempat sampah' teman teman nya, menjadi tempat untuk keluarnya air mata teman teman nya, pelukan hangat yang d...
![All Secrets [End]](https://img.wattpad.com/cover/265250727-64-k168816.jpg)