[18+ : sexual content] 🔞🔞🔞
"Rac.."
"Hmm?"
Matt bertanya kepada Rachel, "Jadi, sekarang hubungan kita apa? Aku tidak mau kalau ini cuma perjanjian, aku mau jadi orang penting di hidup kamu."
"Tapi aku tidak siap untuk menikah lagi, Matt. Tidak dalam waktu dekat ini." Rachel mencoba menjauhkan tubuhnya tapi Matt menarik pinggangnya agar bisa ia peluk.
"Aku tidak akan memaksa kamu untuk menikah kalau kamu belum siap, tapi aku juga tidak mau kalau hanya jadi teman kamu. Aku ingin mendengar langsung dari mulut kamu, sekarang hubungan kita apa, Rachel?"
Rachel tersenyum, mengangkat tubuhnya sedikit untuk duduk dipangkuan Matt kemudian mengalungkan salah satu tangannya ke bahu pria itu. Rachel mengusap wajah Matt dengan tangannya santai. "Kenapa tiba-tiba kamu minta kejelasan hubungan seperti remaja yang sedang puber?"
Telinga Matt memerah, kemudian menyandarkan keningnya di bahu Rachel supaya wajahnya yang merona tidak ketahuan. "Apa aku seperti anak kecil karena menanyakan itu, hmm?"
"Cute," Sekarang Rachel tertawa. "Oke, kalau gitu sekarang kita.. pacar?"
"Pacar?"
"Kamu nggak suka ya? Aku pikir juga begitu, panggilan itu pasti terdengar kekanak-kanakan. Ya, kita memang sudah lumayan tua untuk hal-hal seperti itu." Rachel terlihat sedang memikirkan panggilan yang lebih cocok dengan umur mereka. "Sebentar, akan aku pikirkan nama yang lain."
"Jangan diganti, aku suka panggilan itu, pacar." Matt tersenyum mendengar kata terakhir yang ia ucapkan. Pacar, pertama.
Matt, Matt, sejak kapan seorang Boss besar jadi bucin begini.
Matt memeluk seluruh tubuh Rachel dengan begitu erat, pria itu tersenyum juga bibirnya yang bergerak menciumi pucuk kepala Rachel berkali-kali. Matt pun menunduk untuk melihat wajah Rachel, hidungnya memerah dan bibir yang tak kalah merahnya usai menangis membuat Matt makin menyukainya. Ah, pacarku memang yang terbaik di dunia ini.
Sementara Rachel masih sedikit terpana karena Matt sangat tampan ketika tersenyum. Ia ingin menikmati wajah tampan pacarnya sedikit lebih lama supaya bisa ia bingkai di dalam hatinya. Bukankah panggilan itu terdengar mengemaskan? Pacar, ya, pria ini pacarku sekarang.
Jika mengingat bagaimana pertemuan mereka yang penuh pertengkaran, saling mengumpat hingga akhirnya membuat perjanjian yang tidak masuk akal. Kemudian di pertemukan kembali oleh takdir yang mempermainkan keduanya, penuh drama dan emosi, bisa-bisanya sekarang malah saling menyatakan perasaan.
"Tapi, aku mau kamu serius walaupun kita hanya sebagai pacar. Kamu nggak boleh selingkuh apa lagi tidur dengan perempuan lain, karena aku nggak akan pernah ngasih kamu kesempatan kedua kalau sampai itu terjadi." Suara Rachel terdengar sangat serius.
Matt terkesiap mendengar peringatan Rachel, syok berat. Merasa dirinya begitu bejat padahal mereka belum memulai apa-apa. Namun setelah ia pikir-pikir ketakutan Rachel tidak ada yang salah, justru dirinya lah yang bersalah karena belum apa-apa sudah di tuduh akan selingkuh. Rachel pasti sudah bisa menebak bagaimana track record Matt sebagai penikmat wanita cantik.
Sialan, kenapa masa lalu gue begitu kelam sampe Rachel nggak percaya sama gue. Geram Matt kesal.
"Babe, aku nggak akan selingkuh kalau sama kamu. Kamu tahu berapa banyak uang yang aku keluarkan supaya bisa deket sama kamu? Aku sampai memindahkan beberapa pekerjaanku ke Sydney, jadi mana mungkin aku selingkuh sayang."
KAMU SEDANG MEMBACA
THE WIDOW ON MY BED
Storie d'amore"WHAT! Are you married? You're kidding, right?" Tanya Matt, jelas dan sangat panik. Rachel hanya mengangguk. "Oh, No! Bagaimana bisa aku tidur dengan Istri pria lain! Aku benar-benar bajingan sialan!" Teriak Matt sambil menjambak rambutnya frustasi...
