Bab 12 - Honeymoon

2.4K 175 3
                                        

Stefan dan Yuki telah tiba dihalaman rumah orangtua Stefan. Keduanya saling berpandangan sejenak, seperti berbicara lewat telepati, keduanya mengangkat bahu dan menggeleng pelan, karena tidak tahu kenapa orangtua mereka ingin bertemu. Keduanya pun melangkah masuk, Stefan dan Yuki agak terkejut saat melihat Mama dan Papanya sudah menunggu di meja makan. Mereka pun makan siang. Setelah makan, mereka berkumpul diruang keluarga.

"Ini..." ujar Indra sembari menyodorkan dua amplop di hadapan Yuki dan Stefan.

Keduanya saling berpandangan. Bingung. Stefan mengambil kedua amplop itu, kemudian memberikan satu pada Yuki. Mata keduanya membulat besar saat melihat tiket pesawat didalam amplop.

"Itu untuk kalian pergi bulan madu," ujar Regina senang.

"APA?!? BULAN MADU???" pekik Yuki dan Stefan bersamaan.

"Lho, kenapa kalian kaget gitu? Dimana-mana yang namanya pengantin baru harus pergi bulan madu," ujar Regina menjelaskan. Stefan menggeleng pelan.

"Ya ngga mungkinlah, Ma. Kita 'kan masih pelajar. Emangnya Mama mau kita dikeluarin dari sekolah gara-gara Yuki hamil." ujar Stefan.

"Iya, Ma. Stefan benar, kita masih muda. Masih banyak waktu untuk memikirkan hal itu," ujar Yuki kemudian. Stefan mengangguk setuju. Regina dan Indra tertawa geli. Stefan dan Yuki saling berpandangan. Bingung.

"Yang minta istri kamu hamil siapa, sayang." ujar Regina sambil tertawa geli. Kontan pipi Stefan dan Yuki memerah, mereka merasa malu dengan perkataan mereka tadi.

"Fan, Papa sama Mama memang memberikan tiket ini untuk bulan madu, tapi bukan bulan madu seperti yang kalian kira. Ini hanya seperti liburan biasa, tapi namanya Papa ganti jadi bulan madu untuk kalian," jelas Indra sambil tertawa geli. Stefan mendengus kesal. Ia dikerjai oleh kedua orangtuanya sendiri. Yuki hanya meringis kecil.

"Eumm... Pa, Ma, yang namanya liburan, berduaan aja ngga asyik dan seru." ujar Yuki sambil tersenyum. Regina dan Indra saling berpandangan. Stefan memandang Yuki lekat.

"Bukankah liburan dengan banyak orang itu akan menyenangkan. Apalagi dengan sahabat-sahabat sendiri," ujar Yuki sambil melirik Stefan. Lelaki itu tersenyum senang. Ia mengerti maksud Yuki.

"Kita mau pergi bulan madu, asalkan kita boleh bawa sahabat-sahabat kita, gimana?" tanya Stefan.

Skakmat. Senyum di wajah Regina dan Indra tiba-tiba memudar. Sepertinya, anak dan memantunya ini mulai kompak membalas mereka. Mereka saling berpandangan lagi. Yuki dan Stefan tersenyum, diam-diam mereka high five dan tertawa kecil. Indra memandang Yuki dan Stefan bergantian. Lalu ia memandang Regina. Ia melihat Regina mengangguk kecil.

"Berapa tiket lagi yang kalian butuhkan?" tanya Indra kemudian. Stefan tampak berpikir.

"Papa siapin delapan tiket lagi untuk kita. Jadi, total tiketnya ada sepuluh." ujar Stefan senang. Indra tercengang. Tapi ia kemudian mengangguk kecil.

"Yeaayy..." ujar Yuki dan Stefan senang sambil high five. Regina merengut kesal. Yuki dan Stefan tidak henti-hentinya tersenyum bahagia hingga keduanya pulang kerumah.

Regina menjadi uring-uringan setelah kepulangan Stefan dan Yuki. Ia berjalan mondar-mandir tidak jelas diruang tengah. Pasalnya, ia merasa menyesal telah menyetujui permintaan Stefan dan Yuki tadi. Indra hanya menggeleng melihat tingkah laku istrinya itu. Sesaat kemudian, Regina mengambil ponselnya lalu mencari nama di contact name. Ia tersenyum saat ditemukannya nama yang ingin ia telepon.

"Halo, Kim. Misi gagal. Mereka ngga pergi berduaan, jadi mereka mengajak teman-temannya untuk pergi." cerita Regina. Terdengar tawa geli Kimberly diseberang sana.

A Little Thing Called LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang