Mobil Gio menghadang mobil Al di tengah jalan. Ciiitttt...suara decitan ban mobil Al memekakkan telinga. Al menggeram kesal karena iahampir saja celaka karena mobil itu. Kedua mata Al menyipit tajam, namunkembali normal saat ia melihat Gio keluar dari mobil dan berjalan cepatmendekati mobilnya. Gio memasang wajah garangnya. Al tahu pasti saat ini Giosedang marah padanya.
"Keluar lo!" bentak Gio sambil menggebrak kap mobil Al. Al menariknapas pelan. Ia pun perlahan membuka pintu mobilnya dan keluar.
"Lo bego atau gila, hah? Kenapa lo ngajak Yuki pergi dari kampus? Lo tahu'kan Stefan ada di sana," ucap Gio dengan suara keras.
Al menarik napas pelan. Ia bahkan tahu lebih dari itu. Perlahan Al keluar darimobil. Ia berjalan mendekati Gio yang saat ini tengah menatapnya garang. Iamenatap Gio lekat. Al menghela napas beratnya. Gio tidak mengerti apa yang adadalam pikiran Al. Karena tanpa pikir lagi ia membawa Yuki bersamanya. Almenarik napas, lalu menghembuskannya perlahan.
"Aku sudah menyerah, Gi." ucap Al lirih.
"Apa?" Gio tercekat.
Dan pada akhirnya pertahanan seorang Al runtuh. Ia menyerah pada keadaan yangmemaksanya untuk menentukan pilihan. Namun, sadarkah Al akan pilihannya itudapat melukai hati orang lain? Lalu, bagaimana dengan Yuki? Bukankah ia akanmelukai orang yang disayanginya itu. Gio menggeleng pelan. Ia tidak menyangkaakan seperti akhirnya. Tuan Rein yang berkuasa keluar sebagai pemenangnya.
"Apa yang udah lo lakuin?" tanya Gio datar. Al menunduk dalam.
"Aku meminta Yuki untuk menikah denganku. Dan dia menyetujuinya,"ujar Al.
"Lo bilang apa? Yuki menyetujuinya?" pekik Gio. Al mengangguk pelan.
Gio terkekeh sumbang. Kenyataan apa ini? Kenapa seperti ini? Apa yangsebenarnya terjadi? Kenapa tiba-tiba Yuki menerima perjodohannya dengan Al?Bukankah gadis itu menolak keras saat itu? Apa yang terjadi? Apa orang tua itumelakukan sesuatu pada Yuki? Mengancamnya atau memaksanya? Gio mengacakkepalanya frustasi. Ini benar-benar gila! Yuki... Gio menggeram pelan.
"Kenapa? Kenapa tiba-tiba Yuki mau nerima perjodohan itu?" tanya Gio.Al menggeleng.
"Entahlah, tiba-tiba dia mengatakan iya saat aku mengajaknya menikah. Danmasalah lagi, Tuan Rein meminta perjodohan ini disaksikan para pers. Lagi-lagiYuki menyetujuinya. Dia hanya mengatakan aku tidak perlu khawatir. Aku hanyaharus mengikuti rencananya yang sampai sekarang pun aku tidak tahu aparencananya," ujar Al panjang lebar.
"Gue ngga ngerti sama jalan pikiran lo berdua," gumam Gio kesal.
"Jangan salahkan Yuki, Gi. Ini bukan kesalahn dia," Al memohon pada Gio. Gioterkekeh sumbang. Ia menggeleng pelan.
Gio terdiam untuk beberapa saat. Ia tidak siapa yang harus disalahkan untukmasalah ini. Orang tua itu atau... Bahkan sekarang Yuki terlihat seperti orangyang harus dipersalahkan. Begitu juga dengan Al. Apa ia melewatkan sesuatu yangpenting hingga ia tidak menyadari apa yang sudah terjadi? Gio mendesah kesal.Ia pun pergi begitu saja meninggalkan Al sendiri.
* * *
Perlahan Stefan mengurai pelukannya pada Yuki. Ia menangkup pipi Yuki dengankedua tangannya. Tiba-tiba ia membenturkan dahinya ke dahi Yuki. Aww... PekikYuki pelan. Stefan tertawa kecil. Ia menatap Yuki intens. Lalu, ia punmenempelkan dahinya di dahi Yuki. Stefan menutup kedua matanya. Yuki berusahamengintip apa yang dilakukan Stefan padanya.
"Ini untuk terakhir kalinya lo pergi dari gue tanpa pamit. Kalo terulang lagi,gue bakalan ketok dahi lo pake sentilan gue," ujar Stefan. Yuki tertawageli. Ia menggeleng pelan.
"Ngga akan. Ini untuk yang terakhir kalinya," janji Yuki.
Stefan mengangkat kepalanya. Ia dapat melihat Yuki yang masih tertawa geli.Tawa di wajah Yuki membuatnya gemas terhadap gadis itu. Seketika muncul rasakeberuntungan karena telah memiliki Yuki. Stefan tersenyum. Perlahan iamendekatkan wajahnya pada Yuki. Yuki memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Cup!Stefan mengecup bibir Yuki lembut.
"Gue ngga tahu gimana hidup gue tanpa lo. Setengah hari ini gue nggangeliat lo, itu bikin gue tersiksa. Gue serasa..." Cup! Yuki menghentikanucapan Stefan dengan menciumnya cepat.
"Maaf karena udah bikin lo khawatir," ucap Yuki pelan. Stefantersenyum dan mengangguk pelan.
Stefan mengajak Yuki masuk ke dalam. Yuki menuju ke kamar untuk bergantipakaian. Sedangkan Stefan berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan makan malam.Beberapa menit kemudian, Yuki telah selesai berganti pakaian. Ia melihat Stefanyang tengah memasak di dapur. Sekelebat kejadian tadi terlintas di kepala Yuki.Ia masih ingat dengan jelas bagaimana khawatirnya Stefan padanya. Tiba-tibamuncul perasaan takut. Takut Stefan akan mengetahui semuanya dan membencidirinya. Perlahan Yuki mendekat. Dan... Hoopp!! Yuki memeluk Stefan daribelakang. Stefan kaget. Ia bermaksud berbalik menghadap Yuki, namun Yukimelarangnya.
"Please, biarin kayak gini sebentar aja..." ucap Yuki pelan. Stefantersenyum geli.
"Ada apa?" tanya Stefan sambil memegang tangan Yuki yang memeluknya.Yuki menarik napas pelan.
"Fan, gue harap apapun yang terjadi nanti, gue mau lo tetap percaya samague," ucap Yuki lirih. Stefan mengerutkan dahinya.
"Maksud lo?" tanya Stefan bingung.
"Gue sayang sama lo. Apapun yang terjadi nanti gue mau lo bisa ngerti.Semua ini kebaikan kita," ucap Yuki dengan suara bergetar.
Stefan dapat merasakan basah di punggungnya. Itu artinya, Yuki... menangis.Tapi kenapa? Kenapa Yuki menangis? Yuki tidak memberikan Stefan kesempatanuntuk bertanya lebih. Karena pada saat itu, Kimberly, Kevin, Ali, dan Ninadatang. Mereka pun akhirnya menikmati makan malam bersama. Dan Stefan jadimelupakan hal itu.
* * *
Gio menatap Yuki lekat. Keduanya saat ini tengah duduk berhadapan di kantin.Gio sengaja keluar kelas demi untuk dapat bertemu hanya berduaan dengan Yuki.Dari setengah jam yang lalu tidak ada suara dari keduanya. Yuki tidak beranimenatap Gio. Ia hanya menunduk sambil memainkan ponsel di tangannya. Ia tahusaat ini Gio pasti ingin mengetahu apa yang sebenarnya terjadi. Gio berdehemkecil yang membuat Yuki mengangkat kepalanya dan membalas tatapan Gio.
"Apa rencana lo?" tanya Gio. Yuki menarik napas pelan.
"Gue ngga bisa bilang. Tapi, yang jelas ini akan segera berakhir. Dan gueminta sama lo, tolong... jangan salahin Al." ucap Yuki memohon. Gioterkekeh pelan.
"Kemarin dia bilang jangan salahin lo. Lalu, siapa yang harusdisalahkan?" tanya Gio. Ia pun tersenyum geli. Yuki menggeleng pelan.
"Kayaknya Tuan otoriter itu akan kena batunya," gumam Gio. Yukitertawa pelan.
"Gue ke kelas dulu ya," pamit Yuki seraya beranjak dari duduknya. Giomelambaikan tangannya. Ia menatap Yuki hingga punggung gadis itu tak terlihatlagi.
"Memang tidak ada orang yang bisa disalahkan. Namun, akan ada hatiseseorang yang terluka." gumam Gio seraya menyeruput minumannya.
Yuki berjalan menuju kelasnya. Ia melirik jam di pergelangan tangannya.Beberapa menit lagi kelasnya akan dimulai. Sepertinya ia akan masuk kelasterlambat. Ditambah lagi tadi pertemuannya dengan Gio terlalu banyak diamketimbang berbicara. Yuki mempercepat langkah kakinya.
"Hei, cewek kampung." Suara seseorang menghentikan langkah Yukimendadak. Sepertinya ia mengenal suara orang itu. Ia pun menoleh ke belakang.
"Elo?" kaget Yuki. Natasha berdiri sambil melipat kedua tangannya kedada. Ia menatap Yuki sambil tersenyum miring.
"Lama kita ngga ketemu. Gue ngga akan banyak ngomong. To the point aja,ada sesuatu yang pengen gue bilang sama lo." ujar Natasha. Yukimengerutkan dahinya.
"Gue mau suami lo," ucap Natasha sambil menunjukkan senyumnya.
"Apa?!?" pekik Yuki tertahan. Ia menatap Natasha lekat.
"Lo mau Stefan? Heh," Yuki terkekeh sumbang. Natasha menatap Yukisinis. Ia agak kesal mendengar nada kekehan Yuki yang terdengar meremehkanucapannya.
"Lo ngga budeg 'kan? Perlu gue ulangi? Oke, akan gue ulangi. Gue mau suamilo," ucap Natasha dengan mantap. Kali ini Yuki tersenyum kecil.
"Dan perlu gue ingetin sama lo, gue ngga akan ngelepasin Stefan sama siapapun, termasuk elo. Ngga akan pernah. Jangan sedikit pun pernah berpikir untukmerebut Stefan dari gue. Karena gue ngga akan ngebiarin itu terjadi, camkanitu." ucap Yuki tajam seraya pergi berlalu meninggalkan Natasha yangmenggeram kesal.
"HEI!!! DASAR CEWEK KAMPUNG!!! LIAT AJA, GUE AKAN REBUT STEFAN DARILO!!!" pekik Natasha dengan keras. Yuki melambaikan tangannya. MembuatNatasha semakin kesal padanya.
Yuki berjalan cepat menuju kelasnya. Namun, tiba-tiba ia menghentikanlangkahnya. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Gadis pirangitu meminta suaminya, Stefan. Dia pikir Stefan itu barang yang bisa ia berikanbegitu saja. Tsk... Yuki berdesis kesal. Ia pun berbalik hendak mendatangiNatasha dan menghajarnya. Mungkin sampai babak belur. Tapi, ia tidak mungkinmempermalukan dirinya sendiri. Ini kampus. Bukan arena pertarungan. Yukimenggeram pelan. Ia pun merogoh tasnya dan mengambil ponselnya. Lalumenghubungi Stefan.
"Ada apa? Di kelas lagi ada dosen nih," ucap Stefan seperti berbisikdari seberang sana. Yuki menarik napas kuat.
"JANGAN DEKET-DEKET SAMA SI PIRANG GENIT ITU. GUE NGGA SUKA. GUE CEMBURU.NGERTI LO! AWAS KALO GUE LIAT LO DEKET, NGOMONG, ATAUPUN SALING BERKEDIP. GUESUMPAHIN LO BINTITAN SEUMUR HIDUP!!!" ucap Yuki dengan kesal. Klik. Iamemutuskan teleponnya.
Stefan terdiam untuk sesaat. Ia melongo dalam diamnya. Sedetik kemudian iatertawa geli sambil meletakkan ponselnya. Ia tertawa sambil memegangi perutnya.Ia tidak menyangka Yuki akan melakukan hal itu. Ia secara terang-teranganmenyatakan kecemburuannya terhadap si pirang genit. Pirang genit? Sepertinya iabisa menebak siapa si pirang genit itu. Natasha. Stefan tiba-tiba menghentikantawanya saat melihat tatapan tajam dari dosennya yang memintanya untuk fokuspada materi yang sedang beliau berikan.
Yuki menghembuskan napasnya kuat. Ia merasa sedikit lega. Paling tidak ia sudahmemperingati Stefan. Kalau Stefan sampai melanggarnya, maka ia akan menghajarStefan habis-habisan. Setelah itu ia akan benar-benar membuat si pirang genititu babak belur. Yuki menggenggam kepalan tangannya dengan gemas. Awas saja!
* * *
Indra meregangkan dasinya. Ia menghela napas beratnya saat melihat tumpukan mapdan kertas di meja kerjanya. Andai saja anaknya tidak bersikeras untukmendirikan perusahaan sendiri, pasti sekarang ia pasti terbantu. Ia mulai lagimembaca berkas-berkas yang akan ditandatanganinya. Tok... Tok... Terdengarsuara ketukan dari luar.
"Masuk," ucap Indra tanpa memperhatikan pintu mempersilahkan orang diluar untuk masuk.
"Maaf, Pak. Ada yang ingin bertemu dengan Anda." ucap seorang wanitayang merupakan sekretaris Indra. Indra mengangkat kepalanya.
"Siapa?" tanya Indra bingung. Wanita itu mempersilahkan seseorangyang berada di luar untuk masuk. Indra tercekat.
"Om Rein?" pekik Indra tertahan. Lelaki paruh baya, Kakek Yuki, Tuanotoriter Rein tersenyum pada Indra.
Sekretaris Indra meninggalkan ruangan. Indra mempersilahkan Rein untuk duduk disofa ruang kerjanya. Tak lupa ia juga memberikan Rein minum. Sudahbertahun-tahun ia tidak pernah bertemu dengan Rein. Setelah lulus kuliah diAmerika dan kembali serta bekerja di Jakarta, ia tidak bertemu dengan Reinlagi. Dan sekarang ia bertemu dengan orangtua sahabatnya, Arian, ayah Yuki.Orangtua yang ia anggap seperti ayahnya sendiri. Lalu kenapa ia bisa ada diJakarta? Apakah ia sudah bertemu dengan Yuki?
"Apa kabar, Om?" tanya Indra merasa kaget karena kedatangan Rein yangtiba-tiba. Rein tersenyum.
"Aku selalu baik. Kamu sendiri apa kabarnya? Kamu tidak pernah lagimengunjungiku," ujar Rein. Indra tertunduk malu.
"Om ada apa ke Jakarta? Apa Om..."
"Aku ingin memarahimu, Ndra. Karena kamu sudah lancang menikahkan putramudengan cucuku," sela Rein. Indra terhenyak. Ia tertawa pelan. Namun, ia menghentikantawanya saat melihat wajah serius Rein. Sepertinya keadaan ini akan menjadimasalah.
"Dan mereka sudah hidup bahagia sekarang. Yuki dan Stefan, mereka bisamenjalani pernikahan mereka selama ini dengan baik." ujar Indra. Reinmenatap Indra tajam.
Indra tahu orang seperti apa Rein. Seseorang yang tidak suka bila ditentangkeinginannya. Seseorang yang selalu mendapatkan apa yang sudah menjadikeinginannya. Hal itu yang membuat Arian, ayah Yuki, pergi dan menentang Rein.Sekarang, Rein ada di sini, Indra yakin ia pasti akan melakukan sesuatu.Tetapi, apa itu? Saat ini ia tidak mendengar hal-hal yang aneh yang terjadi dikeluarganya, perusahaannya, dan... Indra tercekat. Apa kedatangannya ke Jakartabenar-benar ada hubungannya dengan pernikahan Yuki dan Stefan?
"Aku menentang pernikahan Yuki dan anakmu. Aku ingin mereka segerabercerai," ucap Rein dingin.
"Apa?" Indra tersentak. Ia menatap nanar ke arah Rein. Ia menggelengpelan. Bagaimana mungkin ia akan melakukan hal itu?
"Yuki sudah menentukan masa depannya, Om." ucap Indra pelan namuntegas. Rein terkekeh sumbang.
"Masa depan seperti apa yang sudah ia pilih. Hidup di antara orang-orangyang kapan saja bisa menghancurkannya. Membuatnya menderita seumur hidupnyadengan merelakan keinginannya. Dia tidak bisa menentukan masa depannya. Aku...Aku yang berhak menentukan masa depannya seperti apa," ucap Rein dengannada tinggi. Indra menarik napas pelan. Meskipun ia tidak mengerti, namun iadapat memahami maksud pemikiran Rein. Orang tua itu hanya ingin yang terbaikuntuk cucunya, Yuki.
"Hanya Yuki yang berhak menentukan pilihannya sendiri. Om pernah melakukankesalahan pada Arian. Jangan mengulang kesalahan yang sama pada Yuki. Sayasudah menganggap Yuki seperti putri saya sendiri. Tidak ada seorang ayah yangingin menghancurkan masa depan anaknya. Saya dan Arian melakukan untuk kebaikananak-anak kami. Kami tahu apa yang terbaik untuk mereka. Bukannya memaksakankehendak dan berakhir dengan penyesalan yang sia-sia."
"Indra!" ucap Rein dengan suara lantang.
"Kalau mempertanyakan siapa yang berhak atas Yuki, maka jawabannya adalahStefan. Karena dia suami dan ayah dari anak yang sedang Yuki kandung. Om, sayamohon, jangan ganggu kehidupan Yuki lagi. Dia sudah bahagia," Indramemohon. Rein tertawa sinis.
"Kamu salah. Bagaimana pun juga Yuki tetap cucuku. Aku yang lebih berhakatas dirinya. Aku sudah menjodohkannya dengan seorang pemuda yang memilikisegala yang aku harapkan. Kebaikan hati dan kepandaiannya dalam berbisnis. Akuyakin dia mampu menjaga dan melindungi cucuku."
"Apa maksud Om?" tanya Indra bingung sekaligus kaget. Reinmengeluarkan selembar undangan berwarna merah maroon dari dalam jasnya. Iamemberikannya pada Indra. Perlahan Indra mengambil undangan itu dan membukanya.Kedua mata Indra membulat besar. Terlihat sangat jelas di matanya, nama Yukidan Al tertera di undangan tersebut.
"Ini..." Indra tercekat. Ia menatap nanar tulisan di undangan itu.
"Yuki sudah menerima perjodohan itu. Dan aku akan segera mengurusperceraiannya dengan putramu. Aku sudah menganggapmu seperti putraku sendiri.Jadi, datanglah ke sana." ucap Rein seraya beranjak dari duduknya. Lalu iapergi meninggalkan Indra yang masih terdiam.
Indra menggeleng pelan. Bagaimana mungkin Yuki melakukan itu pada Stefan?Bagaimana mungkin Yuki menghancurkan rumah tangganya sendiri. Pasti sudahterjadi sesuatu yang membuat Yuki melakukan itu. Indra bergegas mengambilponselnya yang tergeletak di atas meja. Ia langsung menekan angka 2 di dialnumbernya.
"Max..."
"..."
"Iya, Pa." ucap Max di seberang sana.
Indra meletakkan lagi ponselnya ke atas meja. Ia mendesah pelan. Ia memijitkepalanya pelan. Ia tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi. Ia juga tidakmenduga kakek Yuki akan datang dan menentang pernikahannya dengan Stefan. Dansekarang ia harus memastikan kalau keadaan Stefan dan yuki baik-baik saja.
* * *
Max menekan beberapa digit angka di layar ponselnya. Lalu ia menekan tombolmemanggil. Ia menghubungi Stefan. Di kampus, Stefan yang baru keluar dari kamarmandi dengan cepat merogoh sakunya dan mengambil ponselnya yang sedari tadisudah berdering.
"Halo, Max. Ada apa?" tanya Stefan.
"Lo masih di kampus 'kan? Yuki ada sama lo ngga?" tanya Max cepat.Stefan menaikkan sebelah alisnya. Kenapa tiba-tiba Max menanyakan Yuki.
"Iya, gue masih di kampus. Yuki? Dia ngga lagi sama gue. Dia ada dikelasnya," Stefan berhenti di depan kelas Yuki. Ia mengintip dari balikpintu yang terbuka sedikit. Ia dapat melihat Yuki yang tengah seriusmendengarkan penjelasan dosennya.
"Yuki masih di kelas. Ada apa sih? Tumben lo nelpon gue dan nanyainYuki."
"Oh, itu... Papa sama Mama ngajakin makan malam bareng. Gue nunggu dirumah kalian ya," Max mengakhiri komunikasinya. Stefan mendengus pelan.Hanya ingin mengajak makan malam sampai harus repot-repot menanyakankeberadaannya dan Yuki. Stefan pun bergegas kembali kelasnya.
Di parkiran kampus...
KAMU SEDANG MEMBACA
A Little Thing Called Love
Teen FictionSesuatu yang kecil akan bermakna lebih indah saat hati kita dapat memahaminya...
