Bab 21 - Past Time or Future?

1.8K 165 3
                                        

Kimberly bisa bernapas lega. Sebab hari ini ia bisa melihat kondisi Yuki. Setelah semalam tidak tahu sama sekali tentang bagaimana kondisi Yuki karena Stefan tidak mengizinkan siapa pun masuk kecuali dirinya. Namun pagi ini ia tidak bisa melarang, ia harus pergi ke sekolah. Sedangkan Kimberly, ia lebih memilih untuk bolos sekolah. Kimberly bersama Regina mendatangi Yuki. Ia membuka pintu kamar rawat Yuki. Namun ia tercekat di tempat. Mematung. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Ya Tuhan!!! Baby..." pekik Kimberly.

Yuki saat ini sudah sadar dan diperiksa oleh dokter yang ditemani seorang perawat. Regina yang mendengar teriakan Kimberly tentu saja turut kaget. Apa yang sebenarnya terjadi? Saat ia melihat apa yang sudah terjadi, ia pun bergegas masuk ke dalam. Menciumi Yuki berulang kali sambil mengucapkan rasa syukur karena Yuki telah selamat. Yuki hanya tersenyum geli. Sekarang ia baik-baik saja. Kimberly sampai menangis karena bahagia telah melihat Yuki baik-baik saja.

"Kapan kamu sadar, sayang?" tanya Regina.

"Semalam, Ma." jawab Yuki.

"Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Regina.

"Semua baik-baik saja, Nyonya. Ternyata pasien tidak menyerah begitu saja. Dia seorang yang kuat." ujar dokter sambil tersenyum.

"Tentu, anak saya ini adalah gadis yang sangat kuat." ujar Regina terharu.

"Tapi tunggu..." sela Kimberly. Semua memandang ke arah Kimberly.

"Suster, tolong pasang lagi peralatannya." perintah Kimberly.

"Memangnya kenapa, Kim?" tanya Regina bingung. Kimberly tersenyum.

"Dokter, suster, tante, ngga ada yang boleh tahu kalo Yuki udah sadar kecuali kita." ujar Kimberly.

"Kenapa?" tanya Yuki pelan.

"Lo harus tahu sesuatu, baby..." ujar Kimberly sambil memainkan kedua alisnya.

"Maksud lo?"

"Lo liat aja nanti..."

Kimberly tersenyum penuh makna. Regina hanya tersenyum kecil melihat Kimberly. Ia memang tidak tahu apa yang akan Kimberly lakukan, tapi ia yakin apa yang ada dipikiran Kimberly pasti rencana yang bagus. Kimberly mengambil ponselnya. Lalu membuka contact name. Saat ia menemukan nama yang ia cari, ia pun segera menghubungi orang tersebut.

"Halo... Adik ipar," ucap Kimberly semangat.

"Ada apa? Apa terjadi sesuatu sama Yuki," tanya Stefan panik. Kimberly tertawa kecil tanpa suara.

"Ngga, Yuki masih belum sadar. Oh iya, gue sama tante Regina minta tolong beliin nasi goreng seafood di restoran dekat rumah itu lho," ujar Kimberly.

"Ehmm... ya udah ntar gue beliin. Ada yang lain lagi?" tanya Stefan.

"Uhmm... ngga. Makasih ya, adik ipar." Kimberly tertawa kecil. Lalu ia memutuskan komunikasinya.

"Step one, success!" ucap Kimberly senang.

* * *

Di sekolah...
Stefan berjalan cepat menuju kantin, namun ditengah jalan tanpa sengaja bertemu Ariel di depan kelas. Keduanya saling diam cukup lama. Ariel menatap Stefan lekat. Stefan tidak berani membalas tatapan Ariel. Ia tidak ingin semakin menyakiti gadis itu. Kata-katanya kemarin saja sudah cukup membuat hatinya terluka. Stefan hendak pergi, namun langkahnya terhenti saat ia mendengar Ariel bersuara.

"Gimana keadaan, Yuki?" tanya Ariel pelan.

"Dia masih koma," jawab Stefan.

"Aku... Soal semalam udah aku pikirin. Untuk saat ini, aku akan ngertiin posisi kamu. Tapi setelah semuanya membaik, aku harap kamu bisa kasih keputusan. Aku atau istri kamu." ujar Ariel seraya berlalu pergi.

Stefan masih mematung. Membeku dalam diam. Ia tidak mengedipkan matanya hingga Ariel hilang dibalik di ujung jalan yang berbelok. Akhirnya saat yang ia takuti datang juga. Saat dimana ia harus memilih antara orang yang ia sayangi atau orang yang ada dalam kehidupannya saat ini. Yah, inilah saatnya. Ia tidak mungkin menyakiti kedua-duanya. Memang harus ada satu pihak yang tersakiti.

"Kalo boleh gue kasih saran, jangan sia-siain dia. Dia udah cukup terluka dengan ngebiarin lo tiap hari cewek lain. Ditambah lagi sekarang dia... lo harus sadar satu hal, Fan, semuanya udah berubah. Cewek itu pergi dan dia yang hadir. Lo harus bijak dalam ngambil keputusan." ujar Ali yang berdiri di dekat tiang. Stefan menarik napas panjang.

"Tumben lo punya pikiran kayak gitu," Stefan terkekeh kecil. Ali mendengus kesal. Keduanya pun berjalan menuju kantin bersama.

A Little Thing Called LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang