Bab 39 - Surprise for You, Baby

1.4K 113 2
                                        

"Lo ngga bercanda kan? Yuki calon istri lo?" tanya Gio tidak percaya pada apa yang dikatakan Al barusan. Al tersenyum.

"Kamu tahu aku bukan tipe orang yang suka bercanda," ucap Al tegas.

Yah, benar. Gio tahu itu. Al bukan tipe lelaki yang senang menyepelekan masalah. Apapun itu akan ditanggapinya dengan serius. Al kebalikan dari Gio. Bisa dibilang Al adalah kutub positif dari sisi Gio. Gio memandang Al dingin.

"Tapi, lo pasti tahu kan kalo Yuki udah..."

"Punya kekasih," sela Al cepat. Gio mengangguk pelan.

"Aku sudah melihatnya. Sepertinya mereka bahagia. Tapi, bukan berarti Yuki akan menikahinya kan?" Al tersenyum.

Gio mengerutkan dahinya. Tunggu, jadi Al tidak tahu kalau Yuki sudah menikah. Gio tersenyum kecil. Andai lelaki itu tahu kalau gadis yang sudah diberi placard olehnya adalah milik orang lain. Kenyataannya, Yuki adalah istri Stefan. Bukan kekasihnya.

"Tapi, Yuki sudah menentukan masa depannya. Jadi, gue saranin sama lo, sebaiknya lo mundur. Sebelum lo tahu lebih banyak dan akhirnya sakit hati. Gue tahu, lo ngga suka yang namanya kekalahan. Tapi, mundur bukan berarti kalah." ucap Gio sambil tersenyum penuh arti. Al menatap Gio penuh selidik. Sepertinya ada sesuatu yang tidak ia ketahui. Tapi, apa itu?

"Gue cabut dulu. Oh ya, kapan lo akan nunjukkin diri di depan Yuki. Dia 'kan ngga kenal sama lo sebelumnya,"

"Segera. Dia akan segera mengetahuinya," ucap Al seraya berjalan masuk ke dalam mobilnya dan melesat pergi.

"Ckckck.. Tuan muda, lo akan nerima kekalahan kali ini." gumam Gio seraya masuk ke dalam mobilnya dan pergi.

* * *

"Apa? Lo mau kuliah di Inggris?" pekik Ali kaget.

"Kalo lo kuliah di sana, gimana sama Yuki? Lo bakal ninggalin dia?" tanya Kevin.

"Dia dukung gue kok."

"Lo tega ninggalin Yuki sendirian?" tanya Ali. Stefan langsung menatap Ali lekat.

"Kalo gue ngga bisa ninggalin Nina sendiri. Makanya gue putusin untuk kuliah di tempat yang sama dengan dia. Meskipun ngga sesuai harapan gue. Tapi, itulah cinta, Fan. Lo harus berkorban demi orang yang lo cinta," ujar Ali dengan menggebu-gebu. Stefan tersenyum gamang.

"Kalian ngga akan tahu gimana rasanya cinta bertepuk sebelah tangan. Rasanya sakit banget sampe lo pengen pergi jauh untuk ngelupainnya," ujar Stefan. Ali dan Kevin saling berpandangan. Ada apa sebenarnya dengan Stefan? Ia terlihat begitu tidak bersemangat.

Kevin pergi ke belakang meninggalkan Stefan dan Ali. Ali sedang membujuk Stefan agar tidak pergi. Namun, sepertinya Stefan tidak bergeming sedikit pun menanggapi permintaan Ali. Kevin merogoh saku jaketnya. Mengambil ponsel, lalu menekan angka 2 di dial number.

"Halo, My sweety..." terdengar suara gadis di sana.

"Lo lagi dimana?" tanya Kevin.

"Gue di rumah. Ada apa? Lo mau ke sini ya?"

"Kim, denger ini baik-baik..."

Kevin menceritakan tentang rencana Stefan kuliah ke Inggris. Kimberly tampak terkejut. Ia tidak tahu hal itu. Yuki maupun Stefan tidak ada yang memberitahunya. Pantas saja Yuki terlihat murung akhir-akhir ini. Begitu pun Stefan, ia terlihat dingin di hadapan Yuki. Tapi, kenapa Stefan akan pergi? Kenapa Stefan meninggalkan Yuki? Bukankah mereka saling menyukai? Itu yang Kimberly tahu dari cerita Yuki waktu itu.

"Makasih ya, Vin. Gue akan tanyain hal ini sama Yuki," ujar Kimberly.

Klik. Kimberly memutus teleponnya. Ia pun bergegas keluar kamar untuk mencari Yuki. Kimberly tidak menemukan Yuki dimana-mana. Kamar, ruang tengah, dan dapur. Mungkin dia ada di taman belakang. Benar saja, Yuki sedang duduk di sana sambil memegang buku di tangan kanannya. Kimberly berjalan cepat mendekati Yuki. Ia duduk di sebelah Yuki. Menatap Yuki lekat. Yuki memandang Kimberly bingung.

A Little Thing Called LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang