Bab 16 - Thank You, to Stay Alive!!!

1.7K 181 4
                                        

Yuki dan lainnya pun akhirnya sampai naik ke atas. Tempat mereka akan mendirikan tenda untuk camping. Adi membantu Yuki dan Nina mendirikan tenda. Kevin membantu Nasya dan Kimberly. Sedangkan Ali dan Stefan membantu Ariel. Setelah semua tenda terpasang, mereka pun mengumpulkan kayu untuk membuat api unggun nanti malam. Karena waktu sudah hampir menjelang petang. Mereka harus bergegas sebelum malam. Yuki menenteng ember untuk mengambil air.

"Aku bantu ya," ujar Ariel pelan sambil tersenyum. Yuki hanya mengangguk.

Mereka berdua pun akhirnya pergi ke tempat sumber mata air. Ada sungai dengan arusnya yang lumayan deras disana. Biasanya Adi dan teman-temannya berenang. Banyak bebatuan licin. Jadi harus berhati-hati dalam melangkah. Yuki mengambil air lalu memasukkannya ke dalam ember yang dibawa Ariel. Ia mengisinya hingga hampir penuh.

"Aku perhatiin, kamu sama Stefan deket banget ya." ujar Ariel.

"Ya iyalah, dia ‘kan suami gue." gumam batin Yuki. Ia pun terkekeh kecil.

"Ngga juga kok. Gue sama Stefan biasa aja." jelas Yuki.

"Ehmm... Stefan, apa dia lagi deket sama seseorang?" tanya Ariel pelan. Yuki memandang Ariel.

"Kenapa lo tanya itu sama gue?" tanya Yuki balik.

"Aku ngerasa Stefan berubah." jawab Ariel.

Yuki mengangkat embernya yang sudah penuh dengan air. Ia pun meletakkan ember itu di atas batu dekat kakinya. Lalu ia menatap Ariel lekat.

"Lo sayang ‘kan sama Stefan? Kalo lo sayang sama Stefan, lo ngga akan ngeraguin perasaan dia ke elo." ujar Yuki. Ariel pun mengangguk pelan.

"Kamu bener. Makasih ya, udah mau dengerin cerita aku." ujar Ariel.

Yuki hanya tersenyum. Ia pun mengangkat embernya yang penuh berisi air. Namun, tiba-tiba ia merasa kehilangan keseimbangan. Ember yang berisi penuh air membuat tubuh Yuki jatuh ke samping. Lebih tepatnya jatuh ke dalam sungai. Ariel berteriak melihat Yuki yang jatuh. Ia berusaha menggapai tangan Yuki, namun arus membawa Yuki menjauh.

"Tolooooonggg... hmpp... Toloooongg..." teriak Yuki disela-sela ia terbawa arus.

Ariel menjatuhkan embernya. Ia pun berlari ke arah perkemahan. Matanya nanar memandang Stefan dan lainnya satu per satu. Ia berlari ke arah Stefan. Stefan memandang Ariel dengan khawatir. Karena gadis itu menangis sekarang.

"Ada apa, Riel?" tanya Stefan cepat.

"Yuki... Yuki... dia jatuh ke sungai," jawab Ariel dengan susah payah.

"APA?!?" pekik Stefan. Seketika tubuhnya menjadi lemas. Pikirannya kosong. Matanya menatap nanar.

"Ada apa?" tanya Adi yang melihat jelas kekhawatiran di wajah Stefan.

"Yuki... dia jatuh ke sungai," jawab Ariel.

"Apa? Gawat, Yuki ‘kan ngga bisa berenang." pekik Adi. Ia pun langsung berlari ke arah sungai.

"Yuki..." lirih Stefan.

"Tolooooongg..." pekik Yuki dengan susah payah.

Yuki terbawa arus cukup jauh dari tempatnya tadi. Ia berusaha menggapai akar pohon yang menjalar ke dalam air. Namun ia gagal. Tubuh Yuki terombang-ambing oleh arus yang deras. Ia berusaha untuk tetap muncul dipermukaan, namun ia merasa tubuhnya sangat berat. Yuki pun tenggelam. Sekarang ia hanya bisa berharap agar pertolongan cepat datang untuknya.

"Yukiiiii..." teriak Adi.

Mata Adi nanar mencari sosok Yuki yang tidak ada dipermukaan sungai. Ia pun mendekati bebatuan tempat dimana Yuki jatuh. Sedetik kemudian, matanya menyipit. Ia melihat Yuki mengapung ke permukaan. Tanpa berpikir lagi, Adi langsung terjun ke sungai. Ia berenang ke arah Yuki. Adi berusaha menggapai tubuh Yuki. Namun arus membawanya menjauh. Tapi pada akhirnya Adi bisa menggapai tubuh Yuki.

Adi pun berusaha berenang ke tepi sambil membawa tubuh Yuki. Setelah berhasil berenang ke tepi. Adi bergegas mengangkat tubuh Yuki ke atas. Ia membaringkan Yuki ditanah. Adi menekan-nekan dada Yuki. Ia memberikan pertolongan pertama pada Yuki. Namun Yuki belum juga sadarkan diri.

"Yuki, please... bangun..." ucap Adi khawatir.

Stefan dan lainnya kesulitan saat menuju sungai. Mereka harus berhati-hati agar tidak tersesat. Namun tiba-tiba langkah mereka terhenti saat mendengar teriakan Adi. Mereka pun bergegas lari ke tempat tujuan. Sesampainya disana, Stefan tercekat saat melihat tubuh Yuki yang terbaring lemah.

"Baby..." pekik Kimberly seraya berlari mendekati Yuki. Adi menangis. Ia mulai putus asa.

"Yuki... bangun... please, lo harus bangun..." pekik Adi tertahan.

Adi menekan dada Yuki untuk kesekian kalinya. Namun Yuki belum juga sadarkan diri. Adi mengusap airmatanya pelan. Perlahan ia mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Yuki. Ia berniat akan memberikan napas buatan untuk Yuki. Sedikit lagi bibir Adi akan menyentuh bibir Yuki. Mata Stefan membulat besar. Kedua tangannya mengepal keras.

"STOP!!!" pekik Stefan. Adi menghentikan niatnya. Ia menatap Stefan tajam.

"Lo mau biarin Yuki mati?" desis Adi tajam. Stefan menggeleng pelan.

"Tapi jangan napas buatan," ujar Stefan pelan.

Adi menggeram pelan. Ariel memandang Stefan bingung. Kenapa Stefan mencegah pertolongan Adi? Stefan pun berjalan cepat mendekati Yuki. Ia pun menekan dada Yuki. Memacu agar Yuki cepat sadar.

"Gue mohon lo bangun, Ki..." lirih batin Stefan.

Uhuukk... Uhuukk... Uhuukk... Yuki akhirnya sadar. Ia terbatuk sambil mengeluarkan sisa air yang sempat tertelan oleh Yuki. Adi yang melihat Yuki sadar langsung menarik tubuh Yuki kedalam pelukannya.

"Gue pikir, gue akan kehilangan lo..." ucap Adi pelan.

Yuki hanya tersenyum kecil. Perlahan Stefan mulai menjauh. Ia hanya bisa melihat Yuki yang terbaring lemah dipangkuan Adi. Entah kenapa tiba-tiba ia merasakan panas dikedua matanya. Ia pun berlalu pergi meninggalkan tempat itu. Ariel yang melihat itu semakin bingung dengan sikap Stefan.
* * *
"Baby..." ucap Kimberly pelan saat akan masuk kedalam tenda Yuki.

Yuki hanya diam. Wajahnya terlihat sangat pucat. Kimberly perlahan mendekati Yuki. Ia terkejut saat melihat tubuh Yuki yang menggigil hebat. Tubuhnya dipenuhi keringat. Bibirnya terlihat biru dan bergetar.

"Baby, lo kenapa?" tanya Kimberly panik. Perlahan Yuki membuka kedua matanya.

"Dingin, Kim..." lirih Yuki dengan suara yang bergetar. Kimberly menyentuh dahi Yuki dengan punggung tangannya. Dingin.

"Stefaaaan!!!" teriak Kimberly.

Stefan dan lainnya langsung menoleh ke arah tenda Yuki. Mereka pun berlari ke sana. Adi yang sejak tadi duduk didekat tenda Yuki, tanpa pikir panjang lagi langsung masuk kedalam.

"Yuki kenapa, Kim?" tanya Adi khawatir.

"Gue ngga tahu. Tapi badannya dingin banget." jawab Kimberly.

Stefan yang datang langsung masuk ke dalam. Sejak tadi sore ia sudah menahan diri untuk tidak khawatir. Namun ia tidak bisa. Ia sangat khawatir hingga ia takut untuk melihat keadaan Yuki. Ia menyentuh dahi Yuki dengan lembut. Lalu lehernya dan denyut nadi Yuki yang terasa lemah.

"Ki, lo denger gue kan?" tanya Stefan pelan.

"Dingin, Fan..." lirih Yuki.

"Kim, tolong lo ambilin air hangat sama handuk kecil." perintah Stefan. Kimberly langsung berlari keluar dan mencari apa yang diminta Stefan padanya tadi.

"Kim, sekalian selimut yang
ada di dalam tas gue!!!" pekik Stefan.

"Iyaaa!!!" teriak Kimberly.

"Biar gue aja yang ambil," ucap Kevin.

"Thanks ya, Vin." ujar Stefan. Kevin hanya tersenyum. Ia pun pergi mengambil selimut.

Stefan mengambil kain yang ada didalam tenda, lalu menyusunnya. Kemudian ia mengangkat tubuh Yuki ke atas. Ia meletakkan Yuki diantara tumpukkan kain yang disusunnya tadi. Tubuh Yuki semakin menggigil.

"Fan, ini air sama handuknya." ujar Kimberly seraya memberikannya pada Stefan.

"Ini selimutnya," ujar Kevin.

Stefan memasukkan handuk ke dalam air hangat, lalu mengelap wajah dan leher Yuki perlahan. Bibir Yuki terlihat bergetar.

"Kim, tolong lo selimutin kita." ujar Stefan sembari membuka baju kaosnya.

"Lo mau ngapain?" tanya Adi tajam saat melihat Stefan melepas pakaiannya.

"Menurut lo?" tanya Stefan.

Adi menggeram kesal. Ariel tercengang saat melihat pemandangan di hadapannya. Namun tidak hanya Ariel, semua orang yang melihat aksi Stefan pun sama terkejutnya. Yuki melihat Stefan sekilas.

"Lo mau ngapain?" tanya Yuki lirih.

"Menghangatkan lo. Gue ngga akan ngebiarin lo kedinginan." jawab Stefan pelan.

"Ka... ka...mu mau nga...pa...in, Fan?" tanya Ariel terbata-bata. Stefan menatap Ariel lekat.

"Yang jelas, aku ngga akan ngebiarin Yuki mati." jawab Stefan.

"Tapi lo ngga harus ngelakuin itu," desis Adi tajam. Stefan menatap Adi tak kalah tajam.

"Gue berhak atas Yuki. Lo jangan lupa kalo Yuki..."

Yuki memegang tangan Stefan. Ia memejamkan matanya pelan lalu melirik ke arah Ariel. Stefan menarik napas pelan. Ia mengerti maksud Yuki. Hampir saja ia keceplosan mengatakan kalau Yuki adalah istrinya. Stefan menatap Adi tajam. Lalu ia memandang Kimberly.

"Kim, lakuin sekarang..." perintah Stefan.

Kimberly mengangguk cepat. Stefan menarik tubuh Yuki kedalam pelukannya. Setelah itu, Kimberly menyelimuti mereka dengan beberapa helai selimut. Adi yang melihat itu tahan, ia pun beranjak pergi meninggalkan tenda. Nasya yang melihat itu pun langsung mengejar Adi. Kevin dan Ali saling berpandangan. Keduanya pun kemudian meninggalkan tenda.

"Fan, Yuki akan baik-baik aja ‘kan?" tanya Nina khawatir. Stefan tersenyum kecil.

"Gue akan ngejagain Yuki." ujar Stefan.

"Baby, lo harus cepat sembuh ya, oke?" ujar Kimberly. Yuki hanya tersenyum kecil, meskipun bibirnya masih bergetar.

Kemudian Nina dan Kimberly pergi meninggalkan tenda. Hanya Ariel yang masih bertahan. Ia masih berdiri di depan tenda Yuki. Menatapi Stefan dan Yuki dengan rasa tak percaya. Ada apa dengan kedua orang ini? Kenapa Stefan begitu sangat khawatir terhadap Yuki? Stefan menatap Ariel lekat. Begitu juga Ariel, ia pun menatap Stefan sangat lekat. Kemudian ia menarik napas pelan. Kevin yang melihat Ariel masih berdiri pun berjalan mendekati Ariel.

"Riel, udah malem. Lo harus istirahat." ujar Kevin.

Ariel masih diam. Namun sedetik kemudian ia pun pergi meninggalkan tenda. Kevin mendekati tenda, lalu menutup tenda tersebut dengan rapat. Kemudian ia pun pergi meninggalkan tenda Yuki. Stefan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya dan tubuh Yuki.

"Harusnya lo buka baju juga supaya angetnya lebih cepat," ujar Stefan sambil mengeratkan pelukannya.

"Lo mau mati ya," desis Yuki. Stefan terkekeh geli.

"Makasih ya," ucap Stefan.

"Untuk?" tanya Yuki pelan.

"Karena lo udah bertahan." jawab Stefan dengan suara yang sedikit bergetar.

Yuki menarik napas pelan. Sedikit demi sedikit ia bisa merasakan kehangatan tubuhnya sendiri. Ia memejamkan kedua matanya. Menghirup aroma tubuh Stefan yang kini mendekapnya dengan erat. Yuki dan Stefan saling diam. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing.

Di luar, sesekali Adi, Nina dan Kimberly memandang khawatir ke arah tenda Yuki. Banyak pikiran tentang apa yang mereka lakukan berdua didalam. Adi mendesah kesal. Ia menggenggam keras senter ditangannya.

"Yuki kenapa ya? Dia bakalan baik-baik aja kan?" tanya Nina masih cemas.

"Kayaknya Yuki hipotermia," jawab Ali. Adi dan Kimberly memandang Ali lekat.

"Hipotermia?" ulang Nina.

"Iya, hipotermia. Lo ngga tahu hipotermia itu apa?" tanya Ali.

"Gue pernah denger, tapi gue ngga tahu artinya." jawab Nina.

"Hipotermia itu suatu kondisi dimana tubuh mengalami kesulitan dalam mengatasi tekanan suhu dingin dan mengalami penurunan hingga di bawah suhu normal tubuh. Untuk mengembalikannya dibutuhkan suhu panas guna menormalkan suhu normal. Setiap manusia memiliki suhu panas guna menghangatkan tubuhnya. Makanya Stefan melepas baju dan memeluk Yuki. Itu supaya suhu normal tubuh Yuki kembali. Kalo mau lebih cepat kembali, harusnya Yuki juga melepas bajunya." jelas Ali panjang lebar.

Penjelasan Ali diakhir kalimat membuat Adi menatapnya tajam. Kevin pun menjitak kepala Ali pelan. Ali meringis pelan sambil mengusap kepalanya.

"Lho, gue bener ‘kan." gumam Ali. Kevin mendelik kesal.

"Ehmm... tapi, mereka ngga harus gituan ‘kan?" tanya Nina dengan polosnya. Ali melongo.

"Kalo gituan akan lebih cepat," jawab Ali cepat.

PLETAAAKKK!!! Kali ini Kevin tidak menjitak Ali pelan, melainkan dengan sangat keras hingga menghasilkan bunyi keras. Arrgghh... Ali mengerang kesakitan. Nina jadi panik melihat Ali yang kesakitan. Ia pun mengusap-usap kepala Ali. Kimberly dan Adi tertawa geli melihat tingkah Ali.

"Rasain lo!" ejek Adi bahagia.

Di dalam tenda Ariel menarik napas panjang. Ia memikirkan apa yang dikatakan Ali. Apa mereka akan melakukan hal itu? Di tenda Yuki, Stefan menarik napas pelan. Ia berusaha melihat Yuki, memastikan apakah Yuki sudah tidur atau belum.

"Yuki," panggil Stefan pelan.

"Hemm..." gumam Yuki.

"Masih dingin?" tanya Stefan.

"Ehmm... sedikit," lirih Yuki.

"Kalau begini..." ujar Stefan sembari mengeratkan pelukannya. Yuki tersenyum geli. Stefan terkekeh pelan.

"Lumayan," jawab Yuki. Kini Stefan tertawa kecil.

"Fan, gue ngantuk." ucap Yuki pelan.

"Ya udah, lo tidur ya. Besok pagi kita pulang. Ngga perlu nunggu hari Minggu." ujar Stefan sambil merapatkan selimutnya ke tubuh Yuki.

"Hemm..." gumam Yuki.

Yuki merasakan kehangatan sekaligus ketulusan disana. Pelukan Stefan di tubuhnya membuat Yuki merasa nyaman. Aman. Semua ketakutan seolah pergi begitu saja. Stefan mengusap pelan punggung Yuki. Membuat Yuki semakin terlelap dalam tidurnya. Stefan hampir tidak tidur semalaman. Ia baru tertidur saat menjelang subuh.

* * *

A Little Thing Called LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang