Bab 28 - Hamil!!!

2.3K 160 2
                                        

Di kamar...
Stefan tengah menunggu penjelasan dari Yuki atas kejadian tadi. Kenapa cowok itu tiba-tiba nyosor. Ditambah lagi, sepertinya ia kenal baik dengan Max. Yuki masih tetap dengan jawabannya, "Dia bukan siapa-siapa.". Tapi Stefan sangat yakin. Teramat yakin malah kalau Yuki dan cowok tadi memang ada apa-apanya.

"Ki, dia mantan pacar lo ya... Atau... dia masih pacar lo." tuduh Stefan.

"Enak aja. Siapa juga yang mau pacaran sama cowok psyco kayak dia. Ihhh, amit-amit deh. Udah gue bilang, dia bukan siapa-siapa." jelas Yuki.

"Gue ngga percaya. Ngga mungkin cowok itu mau nyium lo kalo kalian ngga ada hubungan sama sekali." Yuki menyipitkan matanya.

"Stefan, udah gue bilang dia itu bukan siapa-siapa. Kenapa sih lo ngga percaya sama gue. Atau jangan-jangan lo..." Yuki memainkan alisnya.

"Apa? Gue kenapa?" tanya Stefan kesal.

"Lo cemburu yaa... Iya kan, lo cemburu sama Gio." ujar Yuki sambil tersenyum jahil. Seketika wajah Stefan berubah. Kedua pipinya merona merah. Ia menggeleng cepat. Yuki semakin tertawa geli melihat ekspresi Stefan.

"Ngga! Siapa yang cemburu. Gue cuma..."

"Cie...cie... Stefan cemburu nih yee..."

"Ngga!"

"Udah, ngaku aja. Suami gue sekarang udah bisa cemburu ya, hehe..."

"Hei... gue ngga cemburu." ucap Stefan.

Yuki tidak mempedulikan ucapan Stefan. Ia makin semangat menggoda Stefan. Karena dengan begitu Stefan melupakan tentang Gio. Jadi ia tidak perlu menjelaskan tentang Gio pada Stefan. Hahaha... Gelak tawa Yuki memenuhi kamar mereka. Saat ini Stefan tengah menggeletiki Yuki tanpa ampun. Yuki berusaha mati-matian menghindar, namun Stefan telah mengunci tubuhnya di atas ranjang. Karena merasa geli, tubuh Yuki kesana-kemari. Dan akhirnya, bughhh... Tubuh Yuki mendarat indah ke lantai. Dari atas tempat tidur, Stefan tertawa geli melihatnya.

Di bawah, Yuki meringis kesakitan. Stefan tidak tega juga melihatnya. Ia pun meraih tangan Yuki, namun ia kehilangan keseimbangannya. Hal itu membuat tubuh Stefan terjatuh tepat di atas tubuh Yuki. Mata keduanya kini saling menatap. Dalam. Dan semakin dalam. Perlahan Stefan mendekatkan wajahnya. Dan...

Kreekkk... Stefan dan Yuki menoleh serempak ke arah pintu yang sudah terbuka. Di sana ada dua orang yang tengah berdiri menatap tak percaya. Ckck... Mereka hanya berdecak pelan sambil menggeleng pelan. Mata Yuki dan Stefan syok melihat orang-orang yang sedang berdiri di depan pintu. El dan Mikha, mereka memandang Yuki dan Stefan bergantian. Posisi mereka saat ini makin memperjelas asumsi yang ada di otak mereka.

"Oma nungguin kalian di meja makan," ujar Mikha ketus.

"Lain kali kalo mau begituan, pintunya jangan lupa di kunci." ujar El seraya menutup pintu kamar.

Stefan dan Yuki saling berpandangan. Lalu mereka tersenyum geli. Stefan pun beranjak dari posisinya. Lalu ia membantu Yuki untuk berdiri. Kemudian keduanya tertawa kecil mengingat kejadian tadi. Mereka pun segera bergegas menuju ruang makan. Di sana sudah ramai yang menunggu, termasuk Oma. Ia duduk memandangi Stefan dan Yuki yang berjalan masuk ruangan. Yuki sedikit kaget dengan kehadiran Gio di antara keluarga besar Stefan. Stefan yang melihat itu langsung menarik kursi untuk Yuki, lalu ia pun menarik kursi di sebelahnya. Oma menatap mereka tajam.

"Apa yang kalian lakukan? Kalian lupa ini waktunya makan siang." ucap Oma dingin.

"Kami tadi..."

"Begituan, Oma." sela El. Kontan saja mata Yuki dan lainnya membulat besar.

"Apa?" pekik Regina.

"Iya, tante. Tadi aku dan Mikha melihat mereka lagi gituan. Lagian siapa suruh pintu kamarnya ngga di kunci," cerita El.

Yuki menunduk dalam. Menahan rasa malu. Semalu-malunya. El ini benar-benar mengarang bebas. Stefan mengepalkan kedua tangannya menahan kesal. Semua memandang Yuki dan Stefan sambil tersenyum geli. Gio menatap Stefan tajam. Seketika suasana menjadi ricuh. Mereka saling tertawa menggoda Yuki. Oma berdehem kecil. Keadaan pun kembali menjadi hening.

Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya datang bersama beberapa orang di belakangnya yang membawa nampan berisi mangkuk sup. Wanita tadi meletakkan mangkuk sup di depan para keluarga. Setelah itu para keluarga pun menikmati hidangan pembuka itu. Suasana makan benar-benar hening. Hampir tidak terdengar suara sama sekali. Namun, tiba-tiba...

"Uekkk..."

Yuki langsung menutup mulutnya. Semua orang menghentikan makan mereka dan memandangi Yuki sebagai objeknya. Stefan memandang Yuki jengkel. Ia memainkan alisnya memberi isyarat agar Yuki jangan bertingkah sembarangan. Yuki hanya tersenyum miris. Namun beberapa detik kemudian ia kembali mual.

"Uekkk..."

"Ki, lo ngga pa-pa?" bisik Stefan. Yuki menggeleng pelan.

"Maaf, permisi..."

Yuki pun beranjak dari duduknya dan bergegas pergi meninggalkan meja makan. Stefan memandang Yuki bingung sekaligus cemas. Ia terlihat gusar. Regina tersenyum lebar memandang Stefan. Begitu juga dengan Indra. Gio memandang lekat mangkuk sup yang dimakan oleh Yuki tadi. Lalu ia tersenyum kecil. Oma meletakkan sendoknya. Ia menghentikan makannya dan menatap Regina tajam.

"Kenapa hal ini bisa terjadi? Mereka masih terlalu muda." ujar Oma.

"Tapi mereka sudah suami istri, Ma. Jadi wajar saja kalau mereka..."

"Tapi mereka masih pelajar. Bagaimana dengan masa depan mereka. Kamu mau menghancurkan masa depan mereka, hah? Aku meminta mereka menikah bukan berarti mereka harus memberiku cucu pada usia muda." omel Oma.

"Stefan, kenapa kamu tidak bisa menahan diri?" tanya Oma.

"Menahan diri? Maksud Oma?" tanya Stefan bingung.

"Seorang istri yang mengalami mual-mual saat makan itu berarti dia hamil." jelas Max.

"Hamil?" ulang Stefan.

"Hmm... Selamat ya, lo bakalan jadi seorang ayah." ucap Max.

"Hamil? Maksud lo Yuki hamil?" pekik Stefan.

Max mengangguk yang kemudian diikuti oleh anggukan semua orang. Stefan mengerjapkan kedua matanya berulang kali. Mencoba mencerna apa yang sedang terjadi. Yuki mual berulang kali saat makan. Akkhh... Stefan mengacak rambutnya frustasi. Kenapa Yuki bisa hamil? Mereka tidak pernah melakukan hal itu. Berciuman. Itu pun hanya sekali. Tanpa sengaja pula. Ciuman itu terjadi karena terbawa suasana saja. Lalu apa yang membuat Yuki hamil?

"Fan, coba kamu cek Yuki. Kenapa dia belum kembali?" tanya Regina khawatir.

"Iya, Ma."

Stefan berdiri dari duduknya lalu pergi menyusul Yuki. Sambil berjalan ia mengambil ponselnya lalu menulis pesan singkat. Stefan tersenyum, lalu ia mengirim pesan tersebut ke Ali.

Di tempat lain, di rumah Stefan, Ali yang sedang berbaring sambil menonton TV bersama Kevin dan Adi langsung memposisikan tubuhnya menjadi duduk saat ia melihat satu pesan masuk dari Stefan. Mata Ali membulat sempurna. Lalu ia berseru heboh yang membuat Kevin dan Adi melihatnya bingung.

"Ada apa sih, Li? Lo menang taruhan lagi?" tebak Kevin.

"Guys, kita bakalan kedatangan keluarga baru." ucap Ali senang.

"Keluarga baru?" ulang Adi.

"Ada apa sih, Li? Kok heboh bener," tanya Nasya yang datang bersama Kimberly dan Nina sambil membawa cemilan dan minuman.

"Sebentar lagi kita bakalan jadi Om dan Tante," ucap Ali penuh semangat.

"Om? Tante? Maksud lo apa sih?" tanya Nina penasaran. Ali tertawa senang.

"Yuki hamil."

"Apa? Yuki hamil?" pekik Kimberly dan lainnya serempak. Ali mengangguk semangat.

Di tempat lain, Stefan menunggu Yuki di depan kamar mandi sambil mondar-mandir. Sesekali ia tersenyum geli. Namun dalam waktu yang bersamaan wajahnya terlihat khawatir. Entah kenapa ia menjadi senang sekaligus khawatir saat ini. Kreekk... Pintu kamar mandi terbuka. Yuki keluar sambil memegang perutnya dan mengelap mulutnya pelan. Ia agak terkejut melihat Stefan berdiri di hadapannya.

"Ki, lo baik-baik aja kan?" tanya Stefan. Yuki menggeleng pelan.

"Gue ngga tahu, Fan. Gue mual banget. Gue berasa pengen muntah terus. Uee..." Yuki menutup mulutnya.

"Kata Max, lo itu hamil."

"Tunggu, Fan. Gue mau muntah lagi,"

Yuki melesat masuk ke kamar mandi. Stefan menggaruk kepalanya pelan. Ia pun berjalan mendekati pintu kamar mandi. Ia berniat akan masuk, namun ia ragu. Saat akan menggapai handle pintu... Kreekk... Yuki membuka pintu. Lagi-lagi sambil mengelap mulutnya. Wajahnya terlihat pucat sekarang. Keringat dingin mengucur di wajahnya.

"Sorry, Fan. Lo bilang apa tadi?" tanya Yuki pelan.

"Lo hamil, Yuki." ujar Stefan.

"Siapa yang hamil? Gue?" ulang Yuki. Sejenak ia terdiam. Stefan mengangguk pelan.

"Apa?!? Gue hamil?!?" pekik Yuki.

A Little Thing Called LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang