Pulang sekolah hari ini Yuki terpaksa harus pulang sendiri. Sebab Kimberly masih ada pelajaran tambahan di sekolah. Sedangkan Stefan, sudah tentu ia mengantar Ariel pulang. Padahal Adi dan Kevin sudah menawarkan untuk mengantarkan pulang. Namun Yuki harus menolaknya dengan mentah-mentah. Ia tidak ingin kejadian tempo hari terulang.
Saat itu, Yuki diantar pulang oleh Adi. Dan Stefan melihat itu. Entah kenapa ia menjadi marah dan mogok masak makan siang. Alhasil, Yuki kelaparan sampai malam. Selain itu, Kevin juga turut mengantar Yuki pulang. Kemarahan Stefan semakin parah. Ia mogok masak selama 3 hari. Kontan saja Kimberly merengek pada Yuki agar gadis itu menuruti permintaan Stefan untuk menolak ajakan pulang bersama dari Adi ataupun Kevin. Dengan sangat terpaksa Yuki menuruti permintaan suaminya itu. Ini demi kebaikan bersama, daripada menderita karena kelaparan.
Yuki melangkahkan kakinya pelan. Dengan sangat terpaksa ia harus berjalan menuju halte bus. Karena di lingkungan SMA Pelita tidak ada kendaraan umum yang lewat. Namun sedetik kemudian, sebuah jeep hitam berhenti tepat di hadapan Yuki. Menghadang dan menghentikan langkah Yuki. Dua orang keluar dengan wajah yang ditutupi dengan kain hitam menyerupai topeng. Kontan saja Yuki panik. Ia pun bergegas lari, namun aksinya itu mudah terbaca. Kedua orang itu langsung mengejar Yuki. Menangkap Yuki dan membekap mulut Yuki dengan saputangan yang sudah diberi obat bius. Yuki berusaha meronta untuk melepaskan diri. Namun tenaganya tidak begitu cukup untuk melepaskan diri. Akhirnya obat bius yang ada di saputangan bekerja dengan cepat. Yuki terkulai lemas. Ia pingsan. Dengan cepat kedua orang itu membopong Yuki masuk ke dalam jeep.
Di tempat lain, Stefan sedang mengantarkan Ariel ke salon. Tanpa sengaja Stefan menjatuhkan gelas minumnya. Semua mata memandang ke arahnya. Lalu ke arah gelas yang pecah berantakan. Ariel memandang Stefan dari pantulan cermin.
"Kamu ngga pa-pa, Fan?" tanya Ariel.
"Ngga, tadi ngga sengaja kesenggol." jawab Stefan. Entah kenapa perasaannya tiba-tiba tidak enak. Ada sesuatu yang mengusik hati dan pikirannya. Selintas bayangan wajah Yuki singgah dipikiran Stefan.
"Yuki..." lirih batin Stefan.
Stefan mengambil ponselnya. Lalu mencoba menghubungi Yuki. Namun ponselnya tidak aktif. Sudah jadi kebiasaan Yuki mematikan ponsel selama berada disekolah. Tadi ia lupa menghidupkannya setelah pelajaran berakhir. Karena tidak aktif, Stefan pun mengirim sebuah pesan.
To : My Wife
Lo, dmna? Udh nympe rmah?
Send. Stefan mendesah pelan. Jelas-jelas ia melihat Yuki tadi tidak pulang bersama Adi ataupun Kevin. Lalu kemana gadis itu pergi? Kenapa ia tidak menyuruh Ali saja yang mengantarkan Yuki pulang. Stefan mengacak rambutnya frustasi.
* * *
Sebuah gedung tua yang kosong. Beberapa di bagian dindingnya ada yang sudah retak. Catnya pun sudah mengelupas. Di sana, di sudut ruangan gedung itu, Yuki terikat dengan posisi berdiri. Ia diikat di sebuah tiang penyangga gedung dengan mulut terikat. Pedar cahaya temaram yang remang-remang dan bau khas gedung tua menyeruak menusuk indra penciuman Yuki. Membuat ia perlahan tersadar dari pingsannya. Kedua mata Yuki terbuka perlahan. Kepalanya terasa pusing. Setelah mengumpulkan separuh nyawanya yang sempat pingsan tadi, barulah mata Yuki membuka lebar. Ia pun menyadari tubuhnya yang terikat di sebuah tiang. Yuki meronta-ronta, berusaha melepaskan ikatannya.
"Mmpph... Mmpphh..." Yuki berusaha mengeluarkan suaranya.
Tap... Tap... Tap... Sreeekk... Sebuah langkah, bukan... beberapa langkah sedang menuju ke arah Yuki. Yuki menghentikan aksinya. Ia tertegun melihat ada sekitar lima orang yang berdiri di hadapannya. Menakutkan bagi Yuki, sebab orang-orang itu mengenakan pakaian hitam dan penutup wajah.
"Ternyata lo udah sadar ya, Yuki Sheira Arlyn." ucap seseorang yang datang.
Yuki menyipitkan kedua matanya. Orang itu... siapa? Kenapa ia mengenal dirinya? Lalu dimana ia sekarang? Perlahan kelima orang itu melepas penutup wajahnya. Yuki tidak bisa terkejut atau apapun, sebab ia tidak mengenal satu pun orang di sana. Salah satu dari mereka berjalan ke arah Yuki, lalu melepas pengikat yang ada di mulut Yuki.
"Terima kasih," ucap Yuki dingin. Orang itu memandang Yuki bingung.
Yuki sedikit lega. Jadi ia tidak perlu bergumam keras lagi dalam ikatan itu. Mata Yuki menatap ke sekeliling. Mencoba mencari celah. Siapa tahu ia bisa melarikan diri. Salah seorang dari mereka yang berbeda lagi mendekat ke arah Yuki.
"Maaf ya, cantik. Pasti lo bertanya-tanya, kenapa gue ada di sini? Siapa orang-orang ini?" ucap orang itu sambil terkekeh pelan.
Yuki masih diam. Bungkam. Ia memandang orang-orang itu satu per satu. Wajah-wajah mereka tidak seperti mafia atau pun preman-preman pasar seperti yang ia tahu di film-film action. Wajah-wajah mereka seperti flower boys. Cakep. Putih. Ganteng. Dan terlihat mereka anak orang kaya.
"Hubungi Stefan sekarang." ujar orang itu dingin.
"Kenapa Stefan?" tanya Yuki datar.
"Karena gue mau ngabisin cowok lo itu." ujar orang itu tajam. Yuki sempat tercekat. Namun ia kembali bersikap seperti biasa saja agar tidak terlihat ketakutan.
"Kalo lo ada urusan sama Stefan, kenapa lo nyulik gue? Harusnya lo itu nyulik Stefan," ujar Yuki. Ucapan Yuki membuat orang itu tertawa.
"Lo itu cuma umpan, sayang. Ikan yang sebenarnya ingin gue tangkap itu Stefan. Jadi, cepat hubungi Stefan. Sebelum 'umpan'-nya keburu abis," ucap orang itu.
"Gue ngga bisa ngehubungin Stefan." ujar Yuki.
"Apa?" pekik orang itu agak kesal.
"Gue ngga bisa ngehubungin Stefan. Gue lupa nomor ponsel Stefan."
"Lo jangan main-main sama gue. Mana mungkin lo ngga inget nomor ponsel cowok lo sendiri,"
"Lo ngga tahu ya kalo gue ini punya daya inget yang buruk. Butuh waktu lama untuk gue ingat sesuatu. Harusnya lo tahu itu sebelum lo nyulik gue," jelas Yuki. Orang itu menggeram pelan.
"Cio, tenang." ucap salah satu orang.
Orang yang bernama Cio menarik napas panjang, lalu menghembuskannya kasar. Ia kembali menatap Yuki tajam. Perlahan ia mendekatkan wajahnya pada Yuki. Hanya berjarak kurang dari beberapa centi saja, wajah Yuki dan wajah Cio berhadapan. Mereka dapat merasakan deru napas masing-masing.
"Stefaan!!! Tolongin gue..." pekik batin Yuki.
Di tempat lain, tiba-tiba Stefan tersentak. Perasaan khawatirnya terhadap Yuki semakin menjadi. Ia pun mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Yuki. Namun hasilnya tetap sama, tidak aktif. Stefan menarik napas pelan, ia pun menatap kosong ke arah luar.
"Yuki, lo dimana?" gumam Stefan khawatir.
"Lo jangan main-main sama gue," desis Cio tajam.
"Banci." ucap Yuki pendek. Cio menarik tubuhnya menjauh dari Yuki.
"Lo bilang apa?" tanya Cio tajam.
"Banci. Lo banci yang pengecut." ujar Yuki lantang.
Kontan semua orang terperangah mendengar ucapan Yuki. Cio berjalan cepat mendekati Yuki, menarik wajah Yuki dengan mengangkat dagu Yuki. Menatap Yuki nanar. Terlihat jelas ia benar-benar emosi.
"Cepat hubungi Stefan. Atau lo yang akan abis di sini," desis Cio tajam.
"Lakuin aja kalo lo mau. Gue pengen liat apa kata banci tadi cocok buat lo," desis Yuki tak kalah tajam. Cio terkekeh sumbang.
"Lo nantangin gue?" tanya Cio sinis.
Yuki hanya diam. Wajah datarnya seolah ia tidak takut pada ancaman Cio. Padahal dalam hatinya tidak henti berteriak-teriak panik meminta pertolongan. Berharap ada yang mendengar jeritan hatinya saat ini.
PLAAAKK!!! Sebuah tamparan keras mendarat dipipi kanan Yuki. Arrgghh... Yuki meringis kesakitan. Setetes darah segar mengalir di sudut bibirnya. Cio menarik kerah baju Yuki. Menatap Yuki tajam. Yuki tersenyum miring.
"Dasar banci! Pengecut! Pantesan aja lo jadiin gue umpan, itu pasti karena lo takut 'kan sama Stefan." ucap Yuki susah payah.
"Apa?!? Lo bener-bener... Esa, buka ikatannya." perintah Cio dengan suara keras.
Lelaki yang dipanggil Esa hanya diam. Namun tatapan tajam Cio membuat ia mematuhi perintah. Perlahan Cio membuka ikatan yang mengikat tubuh Yuki ke tiang. Cio berjalan ke arah tumpukan kursi yang sudah reyot. Ia mengambil salah satunya, lalu mematahkan kaki kursi yang diambilnya. Semua mata menatap takut ke arah Cio.
"Cio, lo mau ngapain?" tanya Esa panik.
"Gue akan terima tantangan nih cewek," ucap Cio dingin.
"Ja..."
BUGGHH...
"Arrgghh..." pekik Yuki kesakitan.
Sebuah kayu berukuran sedang tepat mengenai kaki kanan Yuki. Ia pun meringis menahan sakit. Yuki berusaha untuk berjalan dengan langkah yang terseok-seok. Cio tersenyum miring. Ia pun kemudian memukul Yuki tanpa ampun. Kayu itu mendarat tepat di punggung Yuki. Sadis. Kejam. Pshyco. Yuki berusaha bangun dari posisinya. Tubuhnya terasa remuk sekarang. Namun usahanya gagal saat mendapatkan satu pukulan lagi di bagian punggungnya. Saat ini Yuki setengah sadar. Samar-samar ia mendengar pertengkaran Cio dan temannya.
"Cio, jangan! Lo bisa ngebunuh dia!" teriak Esa.
"Gara-gara cowok dia Michelle mati bunuh diri. Semua ini karena Stefan."
"Yang salah Stefan, bukan cewek ini." Cio terdiam sejenak sebelum akhirnya ia menunjukkan senyum miringnya.
"Kalo gitu gue akan bikin Stefan tersiksa karena melihat gadisnya terlihat mengenaskan."
"Cio, lo jangan nekat. Dia udah cukup..."
BUGGHH... Satu pukulan keras dari kayu mendarat sempurna di bagian kepala Yuki. Kali ini Yuki tidak hanya setengah sadar, namun kali ia benar-benar uidak sadarkan. Pingsan. Semua mata terperangah dengan apa yang dilakukan Cio pada Yuki.
"Dia pingsan," periksa Esa.
"Bawa dia. Kita kembaliin ke Stefan." ujar Cio.
* * *
"Berhenti, pak." ucap Kimberly saat tiba didepan rumah Yuki dan Stefan.
Kimberly pun memberikan uang sesuai yang tertera di argo. Ia pun berjalan ke arah pagar, namun langkahnya terhenti saat melihat sebuah jeep hitam berhenti. Lalu, tak lama kemudian sesosok tubuh dilempar begitu saja ke pinggir jalan. Mata Kimberly membulat besar melihat kejadian itu.
"HEI!!!" teriak Kimberly.
Seketika orang-orang yang membuang tubuh itu bergegas masuk ke dalam jeep. Kimberly berlari ke arah tubuh itu, ia menyipitkan matanya. Lalu ia pun mendekati tubuh tersebut.
"Ya Tuhan, baby!!!" pekik Kimberly.
Tubuh yang dibuang begitu saja ternyata Yuki. Tubuh yang dipenuhi luka dan lebam. Ada setetes darah yang telah mengering di sudut bibirnya. Dan darah segar yang mengalir dari kepala Yuki. Kimberly menjerit-jerit minta tolong. Ia juga menangis menatapi betapa mengenaskannya kondisi Yuki saat ini.
"Tolooooongg... Toloooonggg..." teriak Kimberly sekeras-kerasnya.
"Baby, lo harus bertahan..." ucap Kimberly dengan isakannya.
Orang-orang mulai berdatangan mendekati Kimberly. Mereka memandang kasihan terhadap tubuh yang terkulai lemas itu. Entah tubuh itu masih bernyawa atau tidak. Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti didekat mereka. Beruntung pemilik mobil itu orang yang baik. Ia pun menawarkan untuk membawa Yuki ke rumah sakit. Orang-orang pun menggotong Yuki ke dalam mobil. Mereka menuju rumah sakit. Perlahan Kimberly mengusap wajah Yuki. Tidak ia pedulikan seragamnya yang basah karena darah. Dengan tangan yang bergetar ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo...." ucap Kimberly dengan suara bergetar.
"Halo... Kim, apa Yuki ada di rumah?" tanya orang di seberang sana. Bukan jawaban, justru orang itu hanya mendengar isakan.
"Kim, lo kenapa?" tanya orang itu lagi.
"Fan, Yuki..."
Orang yang di seberang sana berdiri terpaku. Stefan, tubuhnya menegang. Membeku. Mematung. Matanya menatap kosong. Tanpa sadar tubuhnya melangkah mundur. Seperti ada hantaman keras ditubuhnya saat ia mendengar Yuki akan di bawa ke rumah sakit. Kondisinya sangat mengenaskan. Ariel yang melihat perubahan wajah Stefan jadi bingung. Apa yang terjadi?
"Fan, ada apa?" tanya Ariel pelan.
"Aku harus pergi." jawab Stefan datar.
"Fan, ada apa? Apa terjadi sesuatu yang buruk?" tanya Ariel mulai panik.
"Yuki masuk rumah sakit. Aku harus segera kesana," jawab Stefan dengan suara bergetar.
Ariel terperangah saat melihat ekspresi wajah Stefan. Penuh kekhawatiran. Tidak pernah ia melihat Stefan khawatir seperti saat ini. Perlahan muncul rasa iri terhadap Yuki. Apa gadis itu begitu penting untuk Stefan saat ini? Bukankah Stefan sering menyiakan Yuki demi dirinya? Stefan hendak melangkah pergi. Namun langkahnya terhenti saat tangan Ariel menahannya.
"Kalo aku minta kamu untuk ngga pergi, apa kamu akan tetap disini?" tanya Ariel pelan.
Stefan tercekat. Ia menatap Ariel lekat. Kenapa gadisnya tiba-tiba bertanya seperti itu? Perlahan Stefan melepaskan pegangan tangan Ariel dari lengannya. Ia menarik napas pelan. Lalu tersenyum tipis.
"Aku minta maaf, Riel. Aku juga ngga tahu kenapa, tapi seharian ini pikiran aku selalu ngekhawatirin dia. Perasaan aku juga ngga tenang. Aku udah berusaha untuk ngga peduli. Tapi aku ngga bisa." ujar Stefan pelan.
Meskipun pelan, namun itu terdengar sangat menyakitkan untuk Ariel. Ternyata dugaannya selama ini benar. Stefan mulai jatuh cinta pada istrinya sendiri. Selama ini Stefan selalu mementingkannya diatas segalanya. Tapi sekarang, lelaki itu memikirkan gadis lain saat sedang bersama dirinya. Ariel mulai menangis pelan. Stefan menggenggam erat tangan Ariel.
"Maaf, aku harus pergi." ujar Stefan seraya berlari keluar.
Ariel menunduk dalam. Tubuhnya gemetar. Ia menyembunyikan tangisnya dalam diam. Rasa sakit yang ia rasakan sangat melukai hatinya saat ini. Kenyataan kalau Stefan jatuh cinta pada Yuki membuatnya semakin terluka. Ariel dengan terpaksa membiarkan Stefan pergi meninggalkannya. Sebab ia tidak berhasil menahan Stefan untuk tidak pergi.
* * *
KAMU SEDANG MEMBACA
A Little Thing Called Love
Novela JuvenilSesuatu yang kecil akan bermakna lebih indah saat hati kita dapat memahaminya...
