Bab 53 - Good Bye

3.1K 175 79
                                        

Kau tahu, hakikat cinta adalah melepaskan. Semakin sejati ia, semakintulus kau melepaskannya. Percayalah, jika memang itu cinta sejati kau, tidakpeduli aral melintang, ia akan kembali sendiri padamu. Banyak sekali pecinta didunia ini yang melupakan kebijaksanaan sesederhana itu. Malah sebaliknya,berbual bilang cinta, namun dia menggenggamnya erat-erat.

 -Tere Liye, Dari Novel 'Eliana'-

 ------------

Yuki memperhatikan lekat cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincinpernikahannya dengan Stefan. Sampai sekarang ia belum bisa menerima kenyataankalau pernikahannya dengan Stefan sudah berakhir. Padahal ia baru saja inginmemperbaiki semuanya. Keputusan Stefan membuatnya tidak bisa melakukan apa-apaselain menerima dan menjalani apa yang sudah mereka putuskan. Mereka akanmenjadi teman baik.

"Apa perlu gue minta sama Stefan untuk narik keputusannyakembali?" ujar Kimberly yang baru saja keluar dari kamar mandi.

"Lo apaan sih, Kim." rutuk Yuki.

"Ya, elo... kayaknya asyik bener ngeliatin tuh cincin." ujarKimberly sambil menata rambutnya. Yuki tertawa kecil.

"Gue pengen balikin nih cincin, tapi gue ragu. Ntar dia kesinggunglagi," Kimberly berjalan menuju Yuki. Ia pun memegang kedua bahu Yuki.

"Jangan balikin kalo lo ngga mau." Kimberly menyipitkanmatanya menyelediki.

"Baby, lo sakit ya?" tanya Kimberly khawatir. Ia punmenempelkan punggung tangannya ke dahi Yuki.

"Ngga," Yuki menggeleng pelan.

"Tapi, wajah lo pucat banget."

"Hmm... tapi, beberapa hari ini gue lemes banget. Mungkin gue kenaanemia,"

"Kalo gitu kita harus ke rumah sakit. Akkhh..." pekikKimberly.

"Kenapa, Kim?" tanya Yuki kaget.

"Kevin udah nungguin gue di bawah. Ke rumah sakitnya..."

"Nanti gue pergi sendiri. Lo berangkat gih sana, kesian kakak iparnungguin lo." Yuki terkekeh geli.

"Apaan sih lo. Harus ke rumah sakit ya," Yuki mengangguk.

Kimberly mencium pipi kanan dan kiri Yuki. Ia berangkat ke kampus lebihdulu. Karena Kevin sudah menunggunya. Yuki menempelkan telapak tangannya kelehernya. Tidak panas. Ia pun tidak merasa meriang. Tapi, kenapa akhir-akhirini ia merasa sangat lemas. Sepertinya saran Kimberly yang menyuruhnya ke rumahsakit akan ia lakukan.

* * *

Yuki memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Dan di sinilah ia, sedangmengantri. Hampir 2 jam ia mengantri. Hari ini sepertinya ramai orang yangsakit. Yuki mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tidak ada yang menarik dimatanya. Pemandangan rumah sakit hanya dipenuhi orang yang datang untukberobat.

"Nyonya Yuki," panggil seorang perawat. Syukurlah! Pekikbatin Yuki. Hampir saja ia akan pergi karena bosan terlalu lama menunggu.

"Ya," Yuki beranjak dari duduknya.

"Silakan masuk,"

"Terima kasih," Yuki pun masuk ke ruang dokter.

"Permisi, dokter." Yuki tersenyum.

"Nyonya Yuki, silakan masuk." ucap seorang dokter wanitadengan ramah. "Silakan duduk, Nyonya."

"Terima kasih," Yuki menarik kursi di depannya, kemudian iaduduk.

"Ada keluhan apa, Nyonya?"

"Beberapa hari ini saya merasa kurang enak badan, dok. Badan sayaterasa lemas, tapi saya tidak demam. Apa mungkin saya kena anemia ya, dok?"tanya Yuki.

A Little Thing Called LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang