Bab 26 - Pertemuan Keluarga

1.8K 151 1
                                        

Perjalanan jauh yang ditempuh membuat Yuki tertidur. Sesekali Stefan memandang Yuki sekilas. Memastikan Yuki baik-baik saja. Karena kantuk yang menyerang sering kali kepala Yuki terbentur sisi pintu mobil. Ia meringis kesakitan. Namun tetap melanjutkan tidurnya. Stefan tertawa kecil melihat itu, tapi lama kelamaan ia tidak tega juga melihat Yuki kesakitan. Ditariknya pelan tubuh Yuki agar mendekat padanya. Diletakkannya kepala Yuki ke bahu kirinya. Stefan memandang Yuki lekat. Dengan jarak yang sedekat ini, Stefan dapat melihat jelas wajah Yuki. Dag...dig...dug... Jantung Stefan berdegup cepat.

"Perhatiin ke depan, lo mau kita mati bareng?" ucap Yuki dengan mata terpejam. Spontan, Stefan mendorong kepala Yuki.

"Sebentar lagi kita sampe," ucap Stefan mengalihkan rasa gugupnya. Yuki tersenyum geli.

Setengah jam kemudian mereka telah sampai di depan sebuah rumah yang cukup besar. Dengan halaman yang begitu luas dan banyak ditanami berbagai macam jenis tumbuhan. Dari bunga hingga buah-buahan. Rumah itu terlihat paling mewah di kawasan pedesaan seperti ini. Bagaimana tidak, suasana di luar begitu asri dengan pemandangan sawah yang menghampar luas.

"Wahhh..." Yuki berdecak kagum saat melihat pemandangan di hadapannya.

Stefan menoleh sekilas ke arah Yuki yang terpesona akan keindahan alam didepannya. Ia pun menekan klakson mobilnya. Tak lama kemudian pagar rumah terbuka. Stefan memasukkan mobilnya ke dalam. Yuki tercengang melihat rumah yang terlihat sangat indah dengan eksterior tema alami. Ia memandang Stefan lekat.

"Ckckck... gue baru tahu kalo gue udah nikah dengan keturunan konglomerat," ucap Yuki tak percaya. Stefan mendengus kecil.

"Ayo, buruan masuk. Kita pasti udah telat nih." Stefan keluar dari mobil lalu mengeluarkan koper dari dalam bagasi.

Stefan berjalan sambil menyeret kopernya. Disebelahnya ia menggandeng Yuki yang membawa buket bunga tulip. Mereka disambut oleh beberapa pelayan yang menundukkan kepala ketika mereka berjalan masuk. Yuki tersenyum sambil menundukkan kepalanya kecil. Stefan menatap lurus ke depan. Seorang pria paruh baya tersenyum ke arahnya. Stefan membalas senyuman itu.

"Apa kabar jagoan, Paman?" ucap pria paruh baya itu.

"Aku selalu baik, Paman. Bagaimana dengan keadaan Paman sendiri?" tanya Stefan.

"Selalu baik. Oh ya, Angel sangat merindukan kamu, Fan." ucap Paman sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Benarkah? Aku juga sangat merindukannya. Pasti dia tambah cantik,"

"Tentu, dia semakin putih. Banyak yang menyukainya,"

Yuki memandang Stefan tajam. Angel? Putih? Cantik? Sepertinya Stefan sangat menyukai gadis itu. Yuki menarik napas panjang. Ia berusaha menahan rasa kesalnya pada Stefan. Ia tidak menyangka ternyata suaminya itu banyak menyimpan gadis lain selain Ariel. Yuki merengut kesal. Ingin rasanya ia menjambak rambut Stefan sekarang juga. Tapi, tunggu. Kenapa dirinya harus marah? Paman memandang Yuki sambil tersenyum kecil.

"Siapa gadis cantik di sebelahmu ini, Fan?" tanya Paman. Yuki hanya tersenyum kecil.

"Oh, dia... istriku, Paman. Cantik, bukan?" Stefan mengerling Yuki. Ia dapat melihat Yuki tersenyum malu.

"Yuki," ucap Yuki mengenalkan diri.

"Saya ini Aryo, pengurus rumah tangga di rumah ini. Non cukup panggil saya dengan sebutan Paman." ucap Aryo.

"Iya. Dan Paman cukup panggil saya Yuki, tidak perlu pakai Non." Yuki tersenyum.

Aryo memandang Stefan. Ia jadi ingat dengan Stefan yang pernah mengatakan hal yang sama saat ia memanggilnya dengan sebut Tuan Stefan.

"Cepat masuk. Semua orang sudah menunggu kalian." ucap Aryo. Stefan mengangguk.

Stefan dan Yuki berjalan masuk ke dalam. Dibelakangnya, Aryo berjalan mengikuti mereka sambil menyeret koper Stefan dan buket bunga tulip. Mereka berjalan ke arah belakang rumah. Benar, semua orang sudah ramai di sana. Stefan mengedarkan pandangannya.

"Lo tunggu di sini, gue akan cari Mama sama Papa." ucap Stefan. Yuki mengangguk.

Yuki menarik napas pelan. Semua diluar dugaannya. Ia pikir ini hanya acara keluarga biasa. Ternyata... Ini lebih dari acara keluarga, ini sudah seperti resepsi sebuah pernikahan. Sebab semua kalangan berada di sini. Dari orang tua hingga anak kecil. Yuki memandang ke sekeliling. Tidak ada satu pun orang yang ia kenal di sini.

Dari arah belakang seorang cowok berkemeja putih sedang berjalan ke arah Yuki. Ia berjalan menunduk, sibuk dengan ponselnya. Jadi ia tidak melihat ada seseorang di hadapannya. Braakk... Awww... Ia menabrak tubuh Yuki dari belakang membuat Yuki meringis kecil. Yuki kehilangan keseimbangannya. Ia hampir jatuh tersungkur ke tanah. Namun dengan cepat cowok itu menarik lengan Yuki yang membuat tubuh mereka berdekatan. Mata Yuki membulat besar. Kaget. Cowok itu tersenyum sambil menunjukkan lesung pipinya.

Stefan berjalan bersama Indra dan Regina. Stefan menghentikan langkahnya saat ia melihat Yuki tengah dipeluk oleh seseorang. Seorang cowok. Mata Stefan menyipit tajam memandang keduanya. Ia pun berjalan cepat mendekati Yuki dan cowok itu.

"Yuki," panggil Stefan. Yuki dan cowok itu menoleh bersamaan.

"Stefan," ucap Yuki dan cowok itu serempak. Mata Stefan membulat besar.

Yuki memandang cowok itu, lalu menyadari posisinya sekarang. Dengan cepat Yuki melepaskan pegangan tangan cowok itu di lengannya. Yuki meringis kecil. Cowok itu memandang Yuki sambil tersenyum. Lalu ia memandang Stefan dan Yuki bergantian. Stefan berjalan mendekati Yuki dan cowok itu.

"Stefan, ini ngga..."

"Max,"

"My brother," Stefan dan cowok itu saling berpelukan. Yuki mengernyitkan keningnya bingung.

"Apa kabar lo, Fan?" tanya Max.

"Baik. Lo sendiri apa kabar? Kapan lo dateng?"

"Gue selalu baik. Gue baru aja nyampe. Pesawat yang gue tumpangi di delay. Mama... Papa... I miss you..." Max merentangkan kedua tangannya lalu memeluk Regina dan Indra bersamaan.

"Dasar anak bandel. Kemana aja kamu, hah? Kenapa ngga pernah kasih kabar?" ucap Regina sambil mengusap lembut kepala Max.

"Mama tahu aku kemana. Aku kangen banget sama Mama." Max memeluk Regina. Pletak!!!

"Arrgghh... Papa apaan sih," keluh Max sambil mengusap kepalanya yang dijitak oleh Indra.

"Dasar!" Indra memeluk Max.

"Apa dia..." Max menggantung kalimatnya sambil mengerling Yuki.

"Adik ipar aku, Pa."

"Iya, kenalin. Yuki, ini Max, anak tertua Papa. Kakak Stefan." ucap Indra.

"Kakak?" Yuki memandang Stefan meminta kebenaran.

"Iya, dia kakak gue, Max. Kita cuma beda dua tahun doang." jelas Stefan.

"Oh..." Yuki tersenyum kecil.

"Hai, gue Max. Selamat datang di keluarga kami. Soal yang tadi, maaf ya... Gue ngga liat lo ada di depan gue,"

"Yuki. Ngga masalah, anggap aja itu sebagai perkenalan," Yuki tersenyum kecil.

"Hei, jangan berkumpul di situ saja. Kenalkan pada kami semua, siapa gadis imut itu." ujar seorang cowok sambil tertawa kecil.

"El..." desis Stefan tajam.

Stefan pun menggenggam tangan Yuki. Keduanya berjalan mendekati tempat dimana orang sedang berkumpul. Ia memperkenalkan Yuki sebagai istrinya. Banyak diantara mereka yang memuji Yuki cantik dan manis. Yuki hanya tersipu malu. Dihadapan banyak orang Stefan dengan bangganya memperkenalkan Yuki. Terlebih didepan El dan Mikha. Dua sepupunya yang super menyebalkan. Stefan merasa bahagia saat mendapati wajah kecut El dan Mikha karena di pertemuan keluarga kali ini ia dan Yuki-lah yang menjadi perhatian semua orang.

"Kapan kalian ngenalin ke kami calon kalian masing-masing, hmm..." Stefan tersenyum lebar.

"Besok." ucap Mikha ketus. Stefan jadi terkekeh geli.

"Sayang, apa kamu bisa masak?" tanya salah seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat cantik. Yuki tersenyum kecil.

"Masak? Eng..."

"Jangan bilang kamu..."

"Tante ngga liat aku gemukan sekarang, heh? Itu karena istri aku selalu masakin makanan yang enak setiap hari." sela Stefan. Mata Yuki membulat besar memandang Stefan.

"Oh, benarkah? Kamu sering masak apa, sayang?" tanya wanita itu lagi. Yuki masih memandang Stefan. Stefan memandang Yuki, ia memainkan alisnya memberi isyarat agar Yuki menjawab.

"Saya..."

"Yuki seneng banget masakin aku sop ayam sama udang asam manis. Hmm... Pokoknya kapan-kapan tante harus coba dua masakan istri aku yang itu. Rasanya... eumm... enak banget, tan." Lagi-lagi Stefan menyela Yuki yang bingung menjawab.

Yuki menarik napas pelan. Cukup. Cukup sudah. Cukup sudah Stefan membanggakan dirinya di hadapan keluarganya. Memasak makanan enak? Sop ayam? Udang asam manis? Itu memang makanan favoritnya dan Stefan. Tapi bukan ia yang masak, melainkan suaminya, Stefan. Yuki memandang Stefan lekat. Ia pun berdehem kecil.

"Maaf, permisi..." Yuki menarik lengan Stefan untuk menjauh dari keramaian.

"Fan, gue mau ke toilet."

"Ohh, lo lurus belok kiri. Nah, di ujung jalan toiletnya. Apa lo mau gue anterin." Yuki menggeleng cepat.

"Ngga. Gue bisa pergi sendiri," ucap Yuki seraya pergi.

Stefan memandang Yuki hingga punggung gadis itu menghilang di tikungan. Ia mendesah pelan. Ia tahu Yuki pasti merasa kesal atau sedih sekarang. Ia memujinya melebihi kenyataan. Stefan mengedarkan pandangannya, lalu ia menemukan sebuah meja kosong. Ia pun berjalan ke arah meja tersebut sambil menunggu Yuki.

Yuki bercermin. Memandangi pantulan wajahnya sendiri. Sesaat ia tersenyum sendiri. Ia teringat bagaimana ekspresifnya Stefan membanggakan dirinya di depan keluarga besarnya yang menurut Stefan sangat high class itu. Namun ia kembali murung saat ingat Stefan memuji masakannya.

"Masak makanan enak? Yang bener aja. Yang ada gue bikin telur mata gosong sama nasi jadi-jadian." ucap Yuki bicara sendiri.

Yuki tertawa kecil mengingat awal pernikahannya. Pertama kali ia memasak untuk Stefan. Sedetik kemudian ia menyudahi acara bercerminnya, lalu ia berjalan ke luar. Sambil berjalan, Yuki memandang ke sekeliling. Matanya menyipit saat melihat sebuah pintu kamar yang terbuka sedikit.

"Yuki, dia gadis yang cantik kan?" Terdengar suara wanita yang sudah tua dari dalam kamar. Hal itu membuat Yuki menghentikan langkahnya.

"Iya, Oma. Yuki cantik,"

"Kamu pasti menyesal kan, Max."

"Max?" ulang Yuki pelan.

"Menyesal? Maksud Oma apa?"

"Harusnya kamu yang menjadi suaminya Yuki, bukan Stefan."

"Apa?!?" pekik batin Yuki.

"Oma,"

"Oma lebih senang kalau kamu yang menikah dengan Yuki. Kalau saja kamu tidak pergi dan menolak perjodohan itu pasti kalian akan jadi pasangan yang serasi saat ini."

Yuki terhenyak. Tiba-tiba tubuhnya terhuyung lemas. Namun cepat-cepat ia menggapai sisi dinding. Ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini. Namun semua ini adalah kenyataan yang terjadi. Yuki menatap nanar Oma dan Max yang ada di dalam kamar. Terlihat Max kini berbaring di pangkuan Oma. Wanita itu mengusap lembut kepala Max.

"Stefan itu kan cucu Oma juga," ujar Max.

"Ehmm... meskipun Stefan cucu Oma juga, tapi Oma tidak suka dengan sikapnya. Angkuh, kekanak-kanakan, egois, keras kepala, dan... susah diatur. Kamu itu cucu kesayangan Oma. Jadi Oma ingin yang terbaik untuk kamu."

"Oma, aku udah mendapatkan yang terbaik. Meskipun aku ngga nikah sama Yuki."

Perlahan kaki Yuki melangkah mundur. Ia tidak sanggup mendengar semua ini. Bukan rasa kecewa karena tidak menikah dengan Max yang terlihat sempurna. Namun ia tidak tahan mendengar suaminya menjadi perbandingan. Dan terlebih lagi, ia tidak sanggup mendengar orang lain menjelekkan suaminya. Saat Yuki akan berbalik, ia tercekat melihat Aryo sudah berdiri di belakangnya.

"Paman, bisa antar aku ke suatu tempat. Aku ingin menghindar dari suasana mengintimidasi ini," ucap Yuki pelan. Aryo tersenyum dan mengangguk pelan.

Aryo mengajak Yuki ke rumah kaca. Di sana banyak sekali berbagai macam jenis bunga. Kebanyakan bunga liar. Namun bunga-bunga itu ditata rapi sedemikian rupa. Mata Yuki tertuju pada satu bunga. Anggrek putih. Terlihat sangat cantik. Perlahan Yuki menyentuh bunga itu.

"Saya akan menyuruh Stefan ke sini." ucap Aryo.

"Paman, apa Stefan..." Yuki menarik napasnya pelan.

"Eng... Maaf, paman, aku lupa mau ngomong apa." Yuki tersenyum kecil.

"Hanya tuan besar yang selalu membanggakan tuan muda Stefan. Dan tempat ini sengaja beliau buat untuk Stefan. Karena dimata tuan besar, Stefan memiliki hati yang lembut sehingga mudah disakiti orang lain." Mata Yuki berkaca-kaca. Aryo tersenyum.

"Saya sangat senang saat pertama kali melihat Anda. Saya yakin, Anda pasti bisa melindungi Stefan. Menjaga hati tuan muda Stefan."

"Aku pasti akan menjaganya, Paman tenang aja." ucap Yuki sambil tersenyum.

Setelah itu Aryo pergi meninggalkan Yuki sendiri. Ia pergi menyusul Stefan. Awalnya Stefan kaget melihat Aryo yang mendatanginya. Namun setelah Aryo menjelaskan, Stefan pun mengerti. Ia segera bergegas menyusul Yuki ke rumah kaca. Sesampainya di sana, ia mendapati Yuki tengah berjalan melihat-lihat bunga. Stefan melangkah masuk. Ia langsung berjalan mendekati Yuki.

"Hei," sapa Stefan. Yuki menoleh dan tersenyum.

"Lo udah dateng,"

"Hmm... Lo kenapa? Sakit?" tanya Stefan khawatir. Yuki memandang Stefan dan menggeleng pelan.

"Cuma ngga betah aja dengan suasananya, sorry ya..."

"Ngga pa-pa. Gue juga ngga begitu menikmati. Cantik kan,"

Stefan menunjukkan pot kecil yang berisi bunga iris kuning. Hmm... Yuki hanya bergumam kecil. Sesaat kemudian mereka larut dalam keindahan bunga-bunga yang ada di hadapan mereka. Menikmati keragaman warna-warnanya dan menghirup aroma harum bunganya.

"Gimana? Udah enakan?" tanya Stefan. Yuki mengangguk kecil.

"Kalo gitu, ayo kita pergi. Eng... Lo pernah naik kuda ngga?" Yuki tampak berpikir.

"Ehmm... pernah sih, tapi udah lama banget. Waktu gue umur 5 atau 6 tahunan gitu deh. Emangnya kenapa?" tanya Yuki.

"Ayo ikut gue. Kita pergi naik kuda." Stefan tersenyum.

"Heh?"

Tanpa persetujuan Yuki, Stefan langsung menarik tangan Yuki dan mengajaknya pergi dari rumah kaca. Mereka berdua melewati jalan setapak ke arah samping rumah. Lalu mereka berhenti di depan sebuah pintu besi. Stefan membukanya lalu berjalan masuk. Dari jauh, Aryo melambaikan tangannya. Stefan tersenyum.

"Paman, gimana? Udah siap?" tanya Stefan.

"Pasti. Kalian cepat ganti baju." ujar Aryo.

Yuki sedikit agak bingung. Namun ia mengikuti saja apa yang Stefan lakukan. Stefan memasangkan sarung tangan pada Yuki. Lalu memasangkan helm ke kepala Yuki. Setelah itu Stefan juga melakukan hal yang sama. Sebelumnya mereka mengganti pakaian mereka dengan pakaian untuk berkuda. Stefan tersenyum lebar saat melihat seekor kuda putih yang mengibas-ngibaskan ekornya.

"Hai, Angel. Apa kabar kamu, cantik?" ucap Stefan sambil mengusap kepala kuda putih itu.

"Angel?" Yuki mengerutkan dahinya. Stefan mengangguk.

"Paman bilang Angel itu..."

"Putih dan cantik," sela Aryo. Yuki mengangguk pelan.

"Angel emang putih kan. Cantik lagi," ujar Stefan.

"Gue pikir tuh Angel cewek lo yang lain," ucap Yuki. Kontan saja Aryo dan Stefan tertawa mendengar ucapan Yuki.

"Jadi lo cemburu? Sama kuda?" Stefan tertawa geli.

Aryo tersenyum geli. Yuki hanya meringis kecil. Bodoh!!! Rutuk Yuki dalam hatinya. Ia tidak menyangka Angel yang dipuji Stefan adalah seekor kuda. Kuda betina putih yang sangat bersih. Kuda itu adalah kuda kesayangan Stefan. Setiap kali Stefan datang ke tempat itu, ia pasti akan bermain dengan Angel.

Stefan membantu Yuki naik ke atas punggung Angel. Kemudian ia pun naik dan duduk di belakang Yuki. Ia mengambil tali untuk menunggang. Jantung keduanya berdebar cepat. Jarak mereka begitu dekat. Yuki dapat merasakan deru napas Stefan di pundaknya. Stefan menepuk pelan tubuh belakang Angel.

"Come on, baby..."

Angel mulai berjalan pelan. Yuki tertawa senang. Begitu juga dengan Stefan. Ia sangat senang karena sudah lama ia tidak bertemu dengan Angel. Angel membawa Yuki dan Stefan berkeliling. Yuki berdecak kagum. Ternyata tanah di belakang rumah Oma begitu besar dan luas. Bahkan mereka punya istal sendiri.

"Mau coba menunggangi Angel?" tanya Stefan.

"He-eh," gumam Yuki.

Stefan memberikan talinya pada Yuki. Ia membantu Yuki menunggangi Angel. Awalnya Yuki takut, namun Stefan meyakinkan kalau Angel kuda yang jinak. Lama kelamaan Yuki menikmatinya. Tanpa sadar, kini kedua tangan Stefan telah melingkar di perut Yuki. Dagunya pun bertopang pada bahu Yuki. Saat sedang asyik menikmati pemandangan. Tiba-tiba terdengar tapak kaki kuda yang mendekat. Aryo mengejar Stefan dan Yuki.

"Stefan, Yuki, kalian harus cepat pulang. Oma mencari kalian," ujar Aryo.

Tanpa aba-aba lagi, Stefan langsung mengambil alih talinya lalu memutar balik Angel. Angel melaju lumayan cepat. Setelah mereka sampai, mereka pun bergegas pulang ke rumah. Dengan napas yang terengah-engah mereka terus berlari masuk. Stefan menghentikan langkahnya mendadak saat melihat semua orang tengah berkumpul di ruang keluarga. Wajah semua orang terlihat sangat serius. Terlebih Oma. Ia menatap tajam ke arah Stefan. Yuki memandang Stefan lekat. Datar. Yuki tidak bisa menebak apa yang ada dipikiran Stefan saat ini. Tapi ia bisa menebak kalau Oma akan segera marah saat ini.

"Dari mana saja kalian?" tanya Oma dingin.

"Kami pergi ke rumah kaca, lalu berkuda." jawab Stefan.

"Dasar anak tidak tahu aturan! Kamu tahu ini saatnya kita makan bersama, tapi kamu dan istri kamu menghilang. Stefan, sudah berulang kali Oma minta untuk merubah sikap kamu itu."

"Apa yang harus aku ubah, Oma."

"Ketidakaturan kamu itu," Stefan menarik napas pelan.

"Oma, aku..." Yuki menggenggam erat tangan Stefan dengan kedua tangannya. Stefan menoleh sekilas. Ia dapat merasakan Yuki tengah ketakutan saat ini.

"Aku minta maaf," ucap Stefan pelan.

Hah!!! Semuanya tercengang mendengar ucapan Stefan barusan. Seorang Stefan mengatakan maaf untuk kesalahannya. Ini hal yang baru yang pernah terjadi. Sebab Stefan tidak pernah mengatakan maaf untuk setiap kesalahan yang ia lakukan. Semua orang tahu saat Stefan berhadapan dengan Oma, maka ia akan melengos pergi. Tapi sekarang, ia menghadapi Oma. Yuki menatap Stefan lekat. Ia dapat melihat Stefan menahan rasa kesal dan marahnya saat ini.

"Maaf, Oma. Ini kesalahan aku. Aku yang mengajak Stefan untuk pergi. Karena aku butuh udara segar."

Oma tersenyum sinis. Stefan memandang Yuki tak percaya. Apa yang baru saja ia lakukan? Menanggung kebencian Oma terhadap dirinya. Yuki memandang Oma tanpa takut.

"Jadi, Oma ngga boleh marah sama Stefan. Aku yang salah."

"Yuki," ucap Stefan keras.

Yuki menarik tangan Stefan dan membawanya pergi dari tempat itu. Semua orang tercengang memandang keduanya. Kecuali Max, ia tersenyum kecil melihat keduanya. El dan Mikha berdecak dengan nada mengejek. Dalam pikiran mereka, suami dan istri sama saja. Tidak tahu aturan!

* * *

A Little Thing Called LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang