Bab 32 - You in My Life

1.7K 127 1
                                        

Selama perjalanan pulang Kimberly dan Kevin hanya saling diam. Suasana terasa canggung di antara keduanya. Bodoh!!! Dalam hati tidak henti-hentinya Kevin merutuki dirinya. Sedangkan Kimberly, berusaha mati-matian menyembunyikan semburat merah dipipinya. Ciuman dadakan tadi benar-benar membuatnya syok. Kedatangan Kevin saja sudah cukup membuatnya kaget. Ditambah lagi dengan ciuman, benar-benar membuatnya hampir mati karena serangan jantung.

"Soal yang tadi..."

"Sorry, gue ngga bermaksud. Itu hanya kecelakaan. Jadi jangan dipikirin," sela Kevin. Kimberly menatap Kevin yang sedang fokus menyetir. Ia pun hanya tersenyum tipis.

"Iya, gue tahu. Gue cuma mau bilang makasih karena lo udah datang nyelametin gue." ujar Kimberly pelan.

Ngga bermaksud... Jangan dipikirin... Kimberly menepuk pelan dahinya. Kimberly bodoh!!! Rutuk batinnya. Kenapa ia merasa sakit saat mengetahui kalau ciuman itu hanya kecelakaan. Tidak berarti apa-apa. Kevin memandang Kimberly sekilas. Kimberly memandang ke luar mobil. Ia tidak menyadari kalau seseorang disebelahnya sedang memandanginya. Kevin menarik napas pelan. Kenapa jantungnya berdebar kencang? Apakah ia...

* * *

Yuki dan Stefan sudah tiba di depan rumah. Yuki berjalan pelan meninggalkan Stefan yang menyimpan motornya. Yuki hendak menekan passcode rumahnya, namun tangan Stefan menghalangi. Ia menarik tangan Yuki ke tengah halaman. Kedua alis Yuki saling bertaut. Bingung. Tanpa berkata apapun, saat ini Stefan tengah berdiri di hadapannya. Menatapnya lekat. Tiba-tiba Yuki merasakan ada sesuatu yang akan terjadi. Tapi ia tidak tahu apa. Stefan menarik napas pelan. Kemudian ia melangkah pelan semakin mendekati Yuki.

Stefan menatap Yuki semakin lekat. Dalam. Tatapannya begitu meneduhkan. Seperti terhipnotis, Yuki hanya diam saja sambil membalas tatapan Stefan. Entah sejak kapan posisi mereka seperti ini. Tapi yang jelas jarak keduanya kini hanya beberapa senti. Yuki dapat merasakan hembusan napas Stefan, begitu pun sebaliknya. Entah setan mana yang merasuki Stefan. Entah keberanian dari mana yang masuk ke dalam tubuhnya. Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Yuki. Dan sedetik kemudian... Cup!!! Sebuah ciuman lembut nan hangat mendarat dibibir Yuki. Dan itu bertahan selama beberapa detik sebelum akhirnya Stefan melepas ciumannya.

"Denger ya, beib. Jangan pernah terbebani dengan kehadiran gue di kehidupan lo." ucap Stefan seraya mengusap lembut pipi Yuki.

Hah!!! Ingin rasanya Yuki mencubit lengannya agar ia terbangun dari mimpi ini. Namun ia tidak bisa sebab kedua tangannya tengah digenggam erat oleh Stefan. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah sosok dihadapannya ini adalah benar-benar Stefan. Tapi kenapa? Ada apa dengannya hari ini? Beib? Apakah ia serius dengan panggilan itu? Yuki berdehem pelan.

"Ehmm... Fan, lo ngga pa-pa kan? Lo ngga salah makan kan tadi?" tanya Yuki pelan. Tukk!!! Akhh... Pekik Yuki sambil mengusap dahinya yang dijentik pelan oleh Stefan.

"Gue serius." ucap Stefan datar. Yuki menaikkan sebelah alisnya.

"Gue minta maaf kalo gue udah bikin lo kesel." Yuki terkekeh pelan.

"Gue bisa gila kalo lo kayak gini," ujar Yuki. Stefan mengerucutkan bibirnya. Terlihat sangat lucu. Perlahan kedua tangan Stefan menempel dikedua pipi Yuki.

"Keliatannya emang gila, tapi gue serius. Mulai sekarang kita akan ngejalanin hubungan ini sebagaimana mestinya," ujar Stefan sambil tersenyum. Senyum yang membuat Yuki curiga.

"Sebagaimana mestinya? Maksud lo?" tanya Yuki pelan. Stefan tidak menjawab, ia hanya memainkan kedua alisnya. Membuat Yuki semakin curiga.

"Hubungan seperti apa?" tanya Yuki.

"Layaknya suami istri." jawab Stefan cepat.

"Suami istri?" ulang Yuki, ia tampak berpikir. Sedetik kemudian kedua matanya membulat besar.

A Little Thing Called LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang