Bab 31 - Help for Kimberly

1.7K 135 1
                                        

Pagi-pagi sekali Yuki sudah bangun. Ia langsung berjalan ke arah dapur, namun langkahnya terhenti saat melintasi ruang tengah. Tidak ada Max atau pun Stefan berada di sana. Lalu kemana dua cowok itu tidur semalam? Yuki pun berjalan pelan ke arah kamarnya. Kreek... Perlahan ia membuka pintunya. Yuki terpana sesaat melihat pemandangan di hadapannya. Tiga cowok sedang tertidur di atas ranjang yang sama. Serta menutupi tubuh mereka dengan selimut yang sama.

"Ckckck..." Yuki berdecak pelan. Ia tertawa geli tanpa suara. Ia pun keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur.

Tubuh Stefan menggeliat pelan. Ditatapnya objek yang berada di sebelah kanan dan kirinya. Stefan mendengus pelan. Ia tak percaya kalau ia tidur bersama dua cowok yang mengacaukan rumahnya. Stefan pun berjalan keluar. Dipandangnya sekeliling, di dapur, terlihat Yuki tengah berberes. Ia pun berjalan ke arah dapur. Yuki melihat sekilas, lalu ia tersenyum geli. Stefan menuangkan air putih ke dalam gelas lalu meneguknya habis.

"Gimana tidurnya semalam?" tanya Yuki.

"Gue akan bikin tenda di luar untuk kita tidur nanti malam." ujar Stefan datar.

Hahaha... Yuki tertawa lepas. Ia berbalik menghadap Stefan. Dapat ia lihat wajah kusut Stefan. Yuki mengacak rambut Stefan gemas. Hal itu membuat Stefan mengerucutkan bibirnya. Menahan kesal. Yuki masih tertawa geli sambil menyapu dan mengepel lantai rumahnya. Sedangkan Stefan berjalan ke arah kulkas. Mencari bahan makanan untuk membuat sarapan pagi ini.

Aroma makanan yang dimasak oleh Stefan menyeruak ke seluruh isi rumah. Dan itu membuat dua cowok yang tertidur pulas terbangun dari tidurnya. Max mengucek matanya perlahan. Ia menghirup aroma yang khas. Ia pun tersenyum kecil. Begitu juga dengan Gio, aroma lezat itu menusuk hidungnya, memaksanya untuk segera bangun. Dengan malas-malasan keduanya beranjak dari tempat tidur. Lalu berjalan ke arah pintu.

"Hmm... Apa ini masakan My angel Yuki," ujar Gio saat melihat Yuki yang keluar dari kamar Kimberly yang sudah siap dengan seragamnya.

"Bukan, itu masakan Stefan." ujar Yuki yang berjalan ke arah Stefan.

"Oh iya, gue lupa. Lo kan ngga bisa masak. Jadi, si bule ini yang masak," ujar Gio sambil tersenyum kecil.

"Iya, kenapa emangnya kalo gue masak?" ketus Stefan.

"Lucu aja, kok suami sih yang masak." Stefan tertawa.

"Kita tuh pasangan suami istri yang kompak. Gue masak, istri gue yang beres-beres. Kita tuh suami-istri yang saling pengertian dan berbagi. Iya kan sayang..." ujar Stefan seraya mengecup pipi Yuki cepat.

Yuki terpana sesaat sebelum akhirnya ia mengangguk pelan dan mengatakan,

"Iya, sayang." ucap Yuki sambil tersenyum lebar.

Di meja makan, Max dan Kimberly cekikikan. Mati lo!!! Gumam Kimberly seraya menyeruput air susunya. Gio yang tidak bisa berkata-kata lagi berjalan pelan ke arah meja makan. Duduk di sebelah Kimberly. Ia bergerutu kesal sambil meneguk air putih. Tak lama kemudian, Stefan membawa semangkuk sup ayam. Sedangkan Yuki membawa sepiring omelet daging asap. Mata Gio menatap tajam saat Yuki dengan cekatannya melayani Stefan. Dan begitu pun sebaliknya. Hal itu membuat Gio semakin kesal.

Saat mereka akan menyuap makanan, tiba-tiba terdengar bel berbunyi. Semuanya jadi terdiam. Saling berpandangan untuk sesaat. Sebelum akhirnya Kimberly yang mengalah dan beranjak dari duduknya, lalu berjalan ke arah pintu. Tak lama kemudian, Kimberly kembali dengan seseorang. Yuki melongo kaget saat melihat orang itu.

"Gue mau jemput lo, Ki. Kita berangkat bareng ya,"

Yuki melongo melihat seseorang yang tengah berdiri di hadapannya. Ia menghela napas panjang. Apa maksud semua ini? Satu masalah belum selesai, ditambah lagi dengan masalah baru. Adi yang tanpa basa-basi lagi langsung menarik tangan Yuki dan mengajaknya pergi dari tempat itu. Stefan yang dibuat bengong sepersekian detik, akhirnya sadar dan langsung berlari menyusul Yuki. Ia pun menggapai tangan Yuki, membuat langkah Yuki maupun Adi berhenti. Di belakang, Kimberly, Gio, dan Max berlari menyusul.

"Lepasin Yuki," ucap Stefan dingin.

"Ngga," ujar Adi pendek. Yuki memandang Adi yang terlihat berbeda pagi ini. Terlihat dingin dan tatapan yang tidak bersahabat.

"Gue ngga akan biarin lo bawa Yuki."

"Kenapa ngga? Dia udah ngabisin banyak waktunya sama lo dan cowok pengacau itu," ujar Adi seraya menatap ke arah Gio tajam.

"Sekarang giliran gue. Dia harus berbagi. Dia udah berbagi sama lo dan pengacau itu. Sekarang dia harus berbagi sama gue," Yuki tercengang, menatap Adi tak percaya.

"Berbagi? Maksud lo apa ngomong kayak gitu, hah?" pekik Stefan kesal. Tangan Stefan sudah melayang hendak memukul Adi.

"Stop. Berhenti. Adi, lepasin gue." lirih Yuki sambil menunduk. Ia berusaha menyembunyikan matanya yang terasa panas.

"Tapi, Ki."

"Please..." Yuki berusaha melepaskan tangan Adi.

Perlahan Adi mulai melepaskan pegangannya. Setelah benar-benar lepas, Yuki pun langsung berlari ke dalam. Semua terdiam dalam posisi masing-masing. Tak lama kemudian, Yuki keluar dengan tas dipunggungnya.

"Gue berangkat duluan," ucap Yuki pamit pada Stefan.

Stefan pikir Yuki akan pergi bersama Adi. Namun, Yuki berjalan melewati Adi begitu saja. Tanpa menoleh sedikit pun. Adi masih terdiam. Ia membiarkan Yuki berlalu begitu saja. Gio menatap tajam ke arah Adi. Ia bersiap melangkah untuk mendekati Adi, namun Max menghentikannya dengan gelengan pelan.

"Kim, tolong lo masukin makanan ke kotak bekal. Tadi Yuki belum sempat makan makanannya," ujar Stefan sambil berjalan masuk ke dalam.

"Oh, iya..." Kimberly mengikuti Stefan masuk ke dalam.

Gio dan Max masih betah berdiri memandangi Adi yang terdiam di posisinya. Menyesali apa yang baru saja ia lakukan. Di jalan, Yuki berjalan cepat menuju halte bus. Kejadian tadi benar-benar membuatnya kesal sekaligus sedih. Ia masih tidak percaya dengan apa yang sudah Adi lakukan. Ia pikir hanya Stefan dan Gio yang bertingkah seperti anak kecil. Bertengkar tanpa alasan yang jelas. Tapi ia salah, sekarang justru sahabatnya sendiri yang bersikap demikian. Kekanak-kanakan. Tiba-tiba motor Adi berhenti tepat di hadapan Yuki. Menghentikan langkah Yuki. Dengan cepat Adi turun dari motornya dan mendekati Yuki.

"Ki," panggil Adi pelan. Yuki hanya diam. Ia menunduk.

"Ki," panggil Adi lagi. Kali ini Yuki mengalihkan pandangannya.

"Yuki," panggil Adi dengan nada meninggi. Yuki menatap Adi datar.

"Apa?" tanya Yuki pelan.

"Lo kenapa sih? Marah sama gue? Lo tuh nyadar ngga sih, akhir-akhir ini tuh kita udah jarang banget bareng. Lo selalu sibuk sama suami lo itu. Dan sekarang pengacau itu udah berhasil narik perhatian lo. Lo bener-bener ngelupain gue,"

"Adi,"

"Lo udah berubah, Ki." lirih Adi.

"Gue ngga pernah berubah, Di. Keadaan sekarang yang udah berubah. Asal lo tahu, gue capek, Di. Gue capek dengan semua ini. Suami. Gio. Dan sekarang elo. Gue pikir lo beda sama mereka. Gue pikir lo bisa ngertiin gue. Tapi ternyata, lo ngga ada bedanya sama mereka. Kalian tuh niat banget bikin hidup gue hancur tahu ngga," ujar Yuki sambil menangis.

"Ki, gue..."

"Cukup, Di. Gue ngga mau datang ke sekolah dengan dandanan kacau berantakan," sela Yuki sembari menghapus air matanya.

Selang beberapa menit kemudian, bus pun berhenti di depan halte. Yuki pun bergegas naik ke dalam bus. Adi yang melihat itu menendang ban motornya sambil berteriak. Ia menumpahkan kekesalannya. Sedetik kemudian, ia pun naik ke atas motornya lalu melaju pergi. Dari kejauhan, Stefan yang duduk di atas motornya memperhatikan kejadian tadi. Kekesalan Adi dan curahan hati Yuki yang merasa lelah. Stefan menarik napas pelan. Entah kenapa ia merasa sedih sewaktu tahu dirinya salah satu penyebab kelelahan hati Yuki. Seketika terlintas bayangan dimana Yuki yang tertawa senang di perkebunan. Lalu kenapa ia merasa lelah? Bukankah saat itu ia bersama dirinya. Stefan mendesah pelan. Ia pun menstarter motornya, lalu melaju pergi.
* * *
Jam istirahat...
Yuki duduk di kantin sendirian. Hari ini ia sengaja menjadi bisu. Diam. Tidak banyak bicara. Ia hanya bicara secukupnya saat diperlukan. Ia meneguk minumannya pelan. Tak lama kemudian, Kimberly datang seraya meletakkan kotak bekal di hadapan Yuki. Yuki menatap Kimberly bingung. Kimberly tersenyum sambil membukakan kotak bekalnya.

"Adik ipar yang minta gue untuk masukin makanannya ke kotak bekal. Katanya lo ngga sempat sarapan." ujar Kimberly yang seolah mengerti dengan tatapan bingung Yuki.

Yuki memperhatikan lekat makanan dihadapannya. Sup ayam dan omelet daging asap. Salah satu menu favoritnya saat makan pagi. Perlahan Yuki mengambil sesendok nasi, lalu menyuapnya dengan sup. Ia mengunyahnya perlahan. Enak. Selanjutnya, ia sudah melahap makanannya hingga tidak ada sisa. Tetap masih diam. Tanpa berbicara. Yuki menatap Kimberly lekat. Mata Kimberly menyipit.

"Ada apa?" tanya Kimberly. Yuki meneguk minumannya.

"Gio bilang lo mau dijodohin, kenapa lo ngga cerita sama gue?" tanya Yuki menyelidik. Kimberly terlihat gelagapan. Ia pun tersedak saat meminum minumannya.

"Psycho saraf Gio sok tahu banget sih," ucap Kimberly sambil tertawa pelan. Tawa yang terdengar sumbang.

"Kita sama-sama tahu kalo Gio itu punya mata-mata yang berkompeten. Hebat. Jadi, bener?" tanya Yuki lagi. Kimberly menunduk.

"Gimana dong, baby. Gue sebenernya ngga mau, tapi Mama maksa. Pake ngancem segala lagi, kalo gue ngga terima perjodohan itu, nama gue bakal dihapus dari daftar penerima warisan." cerita Kimberly sambil memasang wajah sedih. Yuki menepuk pelan bahu Kimberly.

"Lo udah ketemu sama orangnya?" tanya Yuki lagi. Kimberly mengangguk pelan.

"Udah. Namanya Christ. CEO di salah perusahaan bursa saham."

"Ckckck... Jangan bilang dia Christ Pramuditya Laurent." tebak Yuki. Lagi-lagi Kimberly mengangguk.

"Oh my God! Babe, are you serious? Christ?" tanya Yuki tidak percaya.

"Iya. Dia. Christ." jelas Kimberly.

Yuki dan Kimberly saling berpandangan. Lalu keduanya bergidik ngeri. Tiba-tiba Yuki teringat tentang satu kejadian. Hari dimana ia berkencan dengan Christ beberapa tahun yang lalu. Saat itu Yuki terlihat seperti gadis bodoh yang terintimidasi oleh keperfeksionisan seorang Christ. CEO muda yang tampan dan kaya. Namun, Yuki merasa tertekan dengan keadaan saat itu. Christ dengan segala aturannya meminta Yuki untuk selalu tampil sempurna. Cantik. Anggun. Namun, Yuki tidak bisa menuruti itu semua. Maka, hari itu menjadi hari pertama sekaligus terakhir pertemuan mereka. Lagi-lagi Yuki bergidik ngeri, lalu ia menatap Kimberly sedih. Ia tidak menyangka kalau sepupunya akan berhubungan dengan cowok perfeksionis itu.

"Hai, girls. Ada apa nih? Kok pada manyun?" tanya Ali sambil membawa semangkuk mie ayam dan es jeruk. Yuki dan Kimberly hanya memandang lesu.

Drrtt... Drrtt... Sebuah pesan masuk ke ponsel Kimberly. Dengan malas-malasan Kimberly membuka pesan dan membacanya. Seketika mata Kimberly membulat besar. Dan ia berteriak histeris. Aakkhh... Ali yang sedang mengunyah mie-nya dengan khidmat seketika tersedak dan batuk-batuk. Buru-buru ia meneguk es jeruknya. Lalu mengelap mulutnya cepat. Yuki yang kaget mendengar teriakan Kimberly menjadi syok. Syok berat. Hingga ia tidak sanggup berkata-kata.

"Lo kenapa sih, Kim? Bikin kaget aja," omel Ali kesal.

"Baby... gimana nih... Dia ngajakin ketemuan. Gue kira dia udah ngga mau lagi ketemu gue gara-gara gue cuekin," ujar Kimberly panik. Yuki masih diam. Antara syok dan memikirkan sesuatu.

"Ha..." pekik Yuki sambil tersenyum. Kali ini gantian, Kimberly dan Ali yang dibuat kaget. Ali tidak menyangka kalau berada di antara dua cewek itu akan membuatnya sport jantung.

"Gue ada ide..." ucap Yuki sambil memainkan kedua alisnya.

"Ide apaan?" tanya Kimberly.

"Bilang aja ke Christ kalo lo udah punya pacar." ujar Yuki. Kimberly tampak berpikir.

"Pacar? Baby, lo kan tahu gue ngga punya pacar. Gimana bisa gue bilang kalo gue udah punya pacar. Kalo dia minta bukti, nunjukin pacar gue, gimana?"

Benar juga. Bagaimana kalau cowok perfeksionis itu minta dikenalin sama pacar Kimberly? Bisa berabe kalau Kimberly tidak punya cowok yang akan dia kenalin sama Christ. Yuki berusaha memutar otaknya. Hingga 180 derajat. Dan pandangannya tertuju pada satu sosok cakep nan imut yang sedang menikmati mie ayam. Yuki tertawa senang. Ia menepuk-nepuk pelan bahu Ali.

"Apa?" kata Ali dengan mulut penuh mie ayam.

"Elo orangnya. Lo harus jadi pacar Kimberly."

Uhukk... Uhuukk...

A Little Thing Called LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang