Yuki berdiri sambil memandangi paperbag yang ada di kedua tangannya. Di depannya, Nasya tengah sibuk memilih baju. Yuki mendesah pelan. Ia menyesal. Kenapa ia harus ikut bersama Nasya ke tempat ini. Yuki menggeleng pelan. Tidak seharusnya ia berada di sini. Dengan susah payah, ia melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul 4 sore, dan ia belum juga pulang ke rumah.
"Sya, udahan yuk. Udah sore nih," ujar Yuki. Nasya menoleh dan tersenyum.
"Oke, gue bayar ini dulu ya."
Nasya berjalan ke arah kasir. Ia pun merogoh tasnya, lalu mengambil dompetnya. Namun, tiba-tiba wajahnya berubah jadi panik saat melihat isi dompetnya. Hanya tinggal beberapa lembar uang lima ribuan. Nasya memandang ke arah Yuki. Ia pun berjalan pelan mendekati Yuki dan berbisik kalau uangnya sisa 15ribu. Yuki terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa Nasya belanja sebanyak itu dengan sisa uang yang tak seberapa banyak. Nasya memasang wajah memelas. Yuki menunduk. Sepertinya ia sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Ki, please...pinjamin gue uang lagi ya," ujar Nasya memohon.
"Gue ngga bawa uang, Sya. Credit card gue tadi aja udah limit," jelas Yuki.
"Uang cash, lo ada bawa kan?" Yuki merogoh tasnya dan mengambil dompet. Ia membuka dompetnya dan melihat dua lembar uang 20ribu. Yuki menggeleng pelan.
"Cuma 20rb, gue ngga bawa uang lebih."
"Aduh, gimana dong." Yuki memandangi baju-baju yang ada di meja kasir.
"Gue rasa, ngga jadi beli juga ngga pa-pa kali, Sya."
"Apa?!? Ngga bisa, Ki. Kan sayang bajunya cantik-cantik," ujar Nasya sambil memasang wajah sedih.
Yuki menarik napas pelan. Ia merogoh sakunya, lalu mengambil ponsel. Ia menekan angka 3 pada dial number ponselnya. Tuutt... Kleekk...
"Halo, Ki..." suara di seberang.
"Halo..."
* * *
Di rumah orangtua Stefan...
Indra dan Regina duduk di hadapan Stefan. Mereka memasang wajah serius. Stefan agak bingung kenapa ia disuruh datang kemari. Indra mengatakan akan membicarakan sesuatu yang penting. Beberapa menit kemudian, Indra mengeluarkan selembar kertas dari saku jasnya. Lalu meletakkan ke atas meja. Dahi Stefan mengerut bingung. Matanya sekilas membaca tulisan 'CREDIT'
"Kalian belanja apa saja? Kenapa ada tagihan sampai sebesar ini?" tanya Indra.
Stefan mengambil kertas tersebut. Itu kertas tagihan kartu kredit. Mata Stefan membulat besar melihat nominal tagihannya. Stefan tampak berpikir, apakah Yuki menggunakan kartu kreditnya? Tapi untuk apa uang sebanyak itu.
"Maaf, Pa. Papa sendiri kan tahu, kami sebentar lagi akan ujian. Jadi kami sedikit berpesta sebelum ujian." ujar Stefan.
"Ckck..." Indra berdecak pelan sambil menggeleng.
"Jangan boros, Fan. Kamu itu sudah berumah tangga," ujar Indra.
"Iya, Pa." ucap Stefan.
"Dan, ini..." ujar Regina seraya menyerahkan amplop berwarna cokelat kepada Stefan.
"Ini apa lagi, Ma?" tanya Stefan sambil membuka amplop itu.
"Ini..." Stefan tercekat.
Mata Stefan membulat sempurna. Sedetik kemudian, ia tertawa senang. Regina dan Indra tertawa melihat Stefan kegirangan. Stefan membaca surat itu perlahan. Surat pemberitahuan dari Oxford University yang mengatakan kalau Stefan lulus ujian pertama via online. Ujian kedua akan dilakukan di Ausie setelah ujian nasional berakhir. Ia pikir tidak akan berhasil saat mengikuti ujian yang pertama beberapa bulan yang lalu. Ia juga sudah melupakan keinginannya itu. Tapi, hari ini harapannya untuk masuk Oxford University terbuka lebar. Tinggal satu langkah lagi untuk keberhasilannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Little Thing Called Love
Teen FictionSesuatu yang kecil akan bermakna lebih indah saat hati kita dapat memahaminya...
