18. PATAH DAN JATUH

161 37 2
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


18. PATAH DAN JATUH

Cinta bikin terbang, patah hati bikin jatuh. Tapi entah kenapa, kita tetap beli tiketnya- Danialanza

Lorong kelas itu terasa lebih sempit dari biasanya. Suara sepatu-sepatu yang menyentuh lantai keramik bergema pelan, tapi tidak cukup untuk menutupi suara degup jantung Rio yang makin kencang. Ia berjalan dengan langkah ragu, lalu terhenti ketika melihat empat sosok berdiri di ujung lorong. Clara, Anza, Nessa, dan Dinda.

Empat pasang mata menatapnya kecuali satu, Clara. Perempuan yang selama ini menjadi alasan senyumnya, kini berdiri seperti tidak mau melihat ke arahnya, meski tubuhnya tetap menghadap ke arahnya. Pandangannya datar, kosong, dingin. Ia tidak sudi menatap Rio.

Rio menahan napas. Semua kalimat yang telah ia susun di dalam kepala berantakan saat matanya bertemu dengan kekosongan di mata Clara. Kekosongan yang menyakitkan. Bukan karena benci. Tapi karena kecewa. Dan yang lebih menyakitkan adalah Rio tahu itu salahnya.

"Lo tega banget ya, kak," ucap Anza, langkahnya maju setengah meter lebih dekat ke Rio. "Nyelingkuhin temen gue. Clara gak pernah minta lebih. Dia sayang banget sama lo kak. Tapi lo... malah ngelakuin hal sehina itu."

Rio merasakan dadanya mengencang. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba meredakan rasa bersalah yang bersemayam dalam diam.

"Sorry kalau gue gak sopan," Anza menambahkan, nadanya tidak menyesal sedikitpun. "Tapi itu emang kenyataannya. Lo udah bikin luka yang susah banget sembuhnya. Apa salah temen gue sama lo, Kak? Apa?"

Clara tetap diam. Tapi air matanya yang meski ditahan tidak bisa berbohong. Setitik jatuh di pipinya, cepat ia usap sebelum terlihat oleh siapapun. Tapi Rio melihatnya. Ia melihat semuanya. Dan itu lebih menyakitkan dari seribu makian.

Rio ingin membuka mulut, tapi belum sempat bicara, Dinda menyela.

"Kenapa sih lo selingkuh, Kak?" tanya Dinda. "Lo merasa keren ya karena bisa selingkuh? Ngerasa hebat udah punya dua cewek dalam satu waktu?" tanya Dinda lagi sarkas.

"Clara bukan mainan. Dia bukan cadangan. Dia manusia yang lo biarkan nunggu, berharap, dan akhirnya disakiti." Rio masih terdiam cowok itu seperti tidak ada tenaga untuk membalas ucapan sahabat dari Clara.

"Lo tahu gak, Kak?" Nessa ikut bersuara. Suaranya lirih namun jelas. "Clara pernah bilang ke kita, dia percaya lo gak mungkin nyakitin dia. Lo tahu betapa hancurnya dia saat tahu kenyataannya?"

"Dia gak minta banyak," lanjut Nessa. "Dia cuma pengen dipilih, Kak. Tapi lo bahkan gagal di hal sekecil itu."

Hening. Tak ada lagi yang bisa dikatakan. Karena semua luka sudah dibuka, semua rasa kecewa sudah disuarakan.

Mereka berempat pergi meninggalkan Rio dalam kesendirian.

Lorong itu kini kembali sepi. Hanya suara bel masuk yang sayup terdengar, tapi Rio tak bergeming. Ia tetap berdiri di sana, mematung, seperti patung yang tak tahu arah. Pandangannya kosong. Nafasnya pendek-pendek. Dan dadanya sesak bukan karena amarah, tapi karena penyesalan yang tak kunjung menemukan pintu keluar.

DANIALANZA [ END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang