Anza telah lama diam-diam menyukai kakak kelasnya. Setelah menyimpan perasaan itu dalam hati untuk waktu yang lama, akhirnya Anza memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Namun, jawaban Danial sangat mengecewakan. Danial dengan tegas menol...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
50. MASIH HILANG
Aku salah karena tetap menggenggam, padahal kamu bahkan tak tahu sedang melangkah menuju siapa- Danialanza
Langkah kaki Abel terhenti di parkiran belakang sekolah saat dia melihat sosok yang begitu familiar berjalan cepat ke arah gerbang. Nafasnya tercekat. Itu Galang.
Dengan napas yang sedikit tersengal, Abel memanggil, "Lang!"
Galang menghentikan langkahnya. Tubuhnya tegap ransel tergantung di salah satu bahu, dan wajahnya tampak lelah. Tapi tetap saja, ketika ia menoleh, matanya langsung bertemu dengan mata Abel.
"Apa kamu udah nentuin jawabannya?" tanya Abel dengan nada getir. "Udah tiga hari kita break, Lang. Kamu mau gimana?"
Galang menarik napas dalam-dalam, seolah sedang menahan badai di dadanya. Dia tak langsung menjawab. Hanya menunduk sebentar, lalu menatap Abel lagi. Tatapan yang sayu, seperti menyimpan ratusan konflik yang belum selesai.
"Bel," ucap Galang pelan. "Kamu tahu kan... Anza hilang. Aku masih mau nyari dia sama anak-anak. Aku minta tolong banget, nanti kita bahas lagi, ya?"
"Tapi aku mau sekarang, Lang. Aku pingin kejelasan," suara Abel mulai bergetar.
"Bel, tolong... Aku lagi nggak pingin debat sama kamu. Nanti kita bahas," ujar Galang sambil melirik ke arah jam tangannya.
Abel menggigit bibir bawahnya. Matanya berkaca-kaca, tapi dia mencoba bertahan.
"Kalau kamu pergi sekarang... berarti emang kamu pingin kita putus," celetuk Abel, setengah berani, setengah putus asa.
Langkah Galang terhenti. Ia menatap tepat ke mata Abel, lama. Tidak ada senyum, tidak ada amarah. Hanya kosong.
Lalu, dia memutar tubuhnya dan berjalan pergi tanpa sepatah kata pun.
Abel berdiri diam. Dadanya sesak. Bibirnya bergetar tapi tak ada kata yang keluar. Hanya pandangan nanar yang mengiringi punggung Galang menjauh.
Langkah kaki mendekat dari arah belakang. Viola dan Vava berdiri di sisi Abel.
"Jangan egois, Bel. Galang lagi begitu khawatir sama Anza. Anza kan hilang selama tiga hari. Bukan cuma Galang yang khawatir, tapi semua orang," ujar Viola sambil menepuk pelan bahu Abel.
Abel menggeleng pelan. "Tapi dia... selalu saja Anza. Gue emang gak pernah penting buat dia. Dari dulu."
Vava menghela napas. "Susah emang, Bel. Menjalin hubungan sama orang yang belum mau benar-benar pergi dari rumah lamanya."
"Rumah lamanya itu ya Anza. Entah sebagai cinta lama atau seseorang yang masih dia jaga di dalam hati. Dia belum siap tinggal di rumah yang baru, padahal lo udah nyiapin semuanya," jawab Vava lagi pelan.