57. ABEL KISAHNYA

184 1 0
                                        

58

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

58. ABEL KISAHNYA

Aku sudah lelah menjadi orang yang hanya ada ketika kamu butuh, tapi tak pernah menjadi yang kamu inginkan- Danialanza

Langit hari ini nyaris tak meninggalkan celah bagi cahaya. Mendung menggantung seperti luka yang belum sempat dijahit, menggumpal, dan berat. Di sudut sebuah kafe kecil di bilangan Jakarta Selatan, Abel duduk sendiri membenamkan pikirannya ke dalam layar laptop dan lembar-lembar tugas kuliah yang menumpuk.

Kopi dingin di mejanya belum habis esnya telah mencair menyisakan rasa yang hambar seperti percakapan yang tak selesai. Ia bukan tipe yang suka keramaian. Baginya, diam adalah ruang paling aman untuk berpikir.

"Hai Bel, sendirian aja?"

Abel mengangkat wajahnya. Ada sedikit jeda sebelum ia mengenali siapa yang berdiri di depannya. Sosok tinggi dengan jaket denim lusuh dan senyum yang tak berubah sejak dulu. Kenzo. Kakak kelasnya waktu SMA—orang yang dulu hanya sebatas siluet di koridor sekolah.

"Loh Kakak ada di sini. Duduk, Kak." Abel menyambut dengan ramah, suaranya tenang menyuruh cowok itu untuk duduk.

Kenzo menarik kursi di seberangnya dan duduk. Tangannya meraih menu meski matanya tetap memandangi Abel.

"Sendirian aja, nih?" Abel mengangguk pelan. Matanya kembali ke layar laptop

"Mau sama siapa lagi, Kak? Semua temen-temenku lagi sibuk." Kata Abel tanpa menoleh ke Kenzo.

"Pacar lo?" tanya Kenzo.

Abel tertawa kecil, meski senyumnya tidak sampai ke mata."Pacar? Mana ada gue punya pacar, Kak."

Kenzo menaikkan alisnya sedikit. "Itu... yang waktu itu yang pernah ketemu di PIK.

Abel menghela napas, lalu tersenyum lagi. Senyum yang singkat. "Udah putus kali, Kak. Kakak ketinggalan info nih."

"Eh... sorry gue gak tahu. Terus sekarang lagi deket sama siapa?"pertanyaan itu meluncur dari bibir Kenzo.

Abel terdiam sejenak. Ia tidak langsung menjawab hanya memainkan sedotan dengan ujung jarinya. Matanya tidak menatap Kenzo, melainkan masih pada kaca jendela yang mulai buram oleh embun. Lalu dengan napas pelan yang nyaris tak terdengar ia bicara.

"Gak ada," ujarnya akhirnya ringan tapi dengan jeda yang menggantung. "Lagi nyaman dengan kejombloan ini."

Senyumnya menyusul kemudian—senyum tipis yang menggambarkan banyak hal yang tak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Lalu ia tertawa kecil. "Lagian kalau jomblo enak, Kak. Gak sakit hati, gak nangis perihal seseorang."

"Pernah sesakit itu?" tanya Kenzo pelan.

"Pernah," jawabnya. "Tapi kan semua orang juga pernah. Yang beda cuma caranya nyembuhin diri."

Kenzo terdiam. Matanya masih tertuju pada Abel. "Kadang... gue pikir lo sama dia bakal lama."

Abel tertawa lagi kali ini lebih pahit. Bukan karena ucapan Kenzo menyakitkan, tapi karena itu kalimat yang dulu juga ia yakini. "Dulu... gue juga pikir gitu, Kak."

DANIALANZA [ END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang