17. PUTUSNYA CLARA

164 35 5
                                        

17

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


17. PUTUSNYA CLARA

Aku bukan tempat singgah yang bisa kau datangi setelah lelah berpura-pura mencinta di tempat lain-Danialanza

Sore itu langit tampak sendu seolah ikut merasakan apa yang sedang Clara rasakan. Ia duduk di bangku taman belakang sekolah, membiarkan angin menyapu helaian rambutnya yang berantakan. Matanya kosong menatap tanah dan jemarinya menggenggam erat sebuah ponsel yang layarnya sudah lama mati.

Semua terasa berat. Dada Clara sesak, seperti ada beban besar yang menekan tanpa henti. Hatinya remuk.

Rio.

Cowok yang dia percaya. Cowok yang selama ini dia yakini sebagai tempat pulang, ternyata menyimpan luka di balik setiap pelukannya.

Dan yang paling menyakitkan orang itu memilih berselingkuh dengan Vanni, sahabat lamanya, yang katanya cuma teman dekat Rio. Hanya teman.

"Cla..." suara lembut Nessa menyentak lamunannya.

Clara tak menjawab. Ia hanya diam menahan bulir air mata yang sejak tadi ingin jatuh lagi. Tapi saat tangan Nessa menyodorkan selembar tisu ke arahnya, pertahanan itu runtuh. Clara menyambut tisu itu dengan tangan gemetar dan akhirnya menangis tanpa suara.

"Udah, Cla lo jangan nangisin cowok yang gak tahu diri. Jangan lo buang air mata lo buat seseorang yang bahkan gak bisa jaga komitmennya. Dia bukan laki-laki. Dia cuma pengecut yang gak tahu arti setia." Clara menggigit bibirnya, berusaha menahan isakan.

"Tapi kenapa harus Vanni?" bisiknya. "Kenapa harus orang yang dia bilang sahabat aja yang gak ada apa-apa..."

Langkah kaki lain terdengar mendekat. Anza datang dengan wajah cemas, lalu duduk di sisi lainnya.

"Gue denger dari Galang. Ternyata bener ya, soal Rio sama Vanni. Gue gak habis pikir, " Anza menghela napas. "Tapi mungkin ini pertanda, Cla. Rio bukan yang terbaik yang Tuhan ciptakan buat lo. Dia cuma mampir bukan buat tinggal."

Nessa mengangguk setuju. "Mungkin dia cuma dititipin buat isi kekosongan lo sebentar. Tapi bukan buat selamanya,"ucap Nessa. " Lo di sini nangis, sedih, hancur sedangkan dia di sana bahagia sama yang lain. Sama perempuan yang dia pilih setelah ngebohongin lo."

Clara menggigit bibirnya. Tangan yang memegang tisu gemetar.

"Dan lo tahu apa yang paling nyakitin?" lanjut Nessa. "Itu gak worth it sama sekali."

Clara diam. Kata-kata mereka menusuk hatinya, tapi juga menyadarkannya. Selama ini dia terlalu buta karena cinta. Terlalu percaya, terlalu yakin bahwa Rio adalah rumah. Padahal rumah seharusnya gak menyakiti.

Hari itu Clara kehilangan seseorang yang ia sayangi.
Tapi ia juga disadarkan bahwa kadang, kehilangan adalah cara semesta menyelamatkan kita dari sesuatu yang seharusnya tidak dipertahankan.

DANIALANZA [ END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang