29. PERISTIWA

80 2 0
                                        

29

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

29. PERISTIWA

Dulu aku ingin jadi masa depanmu. Sekarang aku cuma ingin kamu bahagia di masa depan itu, walaupun aku bukan bagian di dalamnya-Danialanza

Anza menghela nafas panjang, menatap layar handphone yang tampak kosong di tangannya. Ia ingin mengabaikan semua perasaan yang datang, tapi entah kenapa itu sulit. Seperti ada berat yang menempel di dadanya, menyesakkan. Setiap detik yang berlalu, bayangan Galang semakin menjauh, seolah tak ada lagi ruang bagi mereka untuk berbicara seperti dulu.

"Aku nggak mau nangis lagi," gumam Anza pelan pada dirinya sendiri. Kemarin, di sekolah, air mata sudah jatuh lebih dari sekali. Tapi hari ini, dia berjanji pada dirinya untuk tegar. Meski rasa sakit itu datang begitu mendalam, Anza tahu ia harus kuat.

Kemarin, kata-kata Galang masih terngiang di telinganya. "Kita harus jadi asing, Anza," ucap Galang dengan nada yang sulit dipahami. Seolah-olah, perasaan yang selama ini mereka jaga harus dilepaskan begitu saja. Dan kini, Anza merasa seperti benar-benar kehilangan. Kehilangan sahabat, kehilangan segalanya.

Ketika itu, pintu kamar Anza yang berwarna pink terbuka perlahan. Kak Bima, kakak sulungnya, masuk dan berdiri di dekat pintu. Matanya menatap Anza dengan penuh perhatian, seolah-olah tahu apa yang sedang terjadi dalam benak adiknya.

"Berantem ya sama Galang?" tanya Kak Bima, suara lembutnya terdengar begitu mengerti.

Anza tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang handphonenya, menggigit bibir bawahnya. Kak Bima mendekat dan duduk di pinggir tempat tidur, menatap Anza dengan penuh rasa ingin tahu.

"Akhir-akhir ini Galang juga udah jarang banget mau diajak ketemuan," ucap kak Bima dengan suara pelan. "Berantem kenapa, dek?" tanya Kak Bima lagi.

Anza meletakkan handphone-nya dan menghadap Kak Bima. "Aku maunya hubungan aku sama Galang itu sahabat aja, Kak. Karena aku nggak mau kalau nanti kita pacaran terus putus, kita jadi musuhan. Tapi sekarang... sekarang, walaupun kita nggak pacaran, dia tetep aja ngejauh dari aku."

Anza menunduk, merasa kelelahan. Ada perasaan campur aduk dalam hatinya—kecewa, bingung, dan sedikit marah pada diri sendiri. Kenapa semua ini harus terjadi?

"Kenapa sih, Kak? Kenapa sahabatan cowok sama cewek nggak bisa bener-bener murni jadi sahabat?" Anza bertanya, suara penuh keraguan. "Aku nggak paham, Kak..."

Kak Bima menghela nafas pelan. "Terkadang, hubungan itu memang rumit, Dek. Apalagi kalau ada perasaan yang lebih dari sekadar sahabat. Tapi bukan berarti semuanya harus berakhir buruk. Kamu dan Galang... mungkin hanya butuh waktu. Terkadang, kita cuma perlu memberi ruang satu sama lain."

Anza terdiam, memikirkan kata-kata Kak Bima. Ia ingin percaya, tapi hatinya masih ragu. Jika hanya memberi ruang, apakah itu bisa menyembuhkan semuanya? Atau justru semakin menjauhkan mereka?

Anza menunduk, matanya berkaca-kaca saat Kak Bima bertanya, "Alasan Galang ingin menjauh kenapa, Dek?"

Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan air mata yang hampir tumpah. "Dia ingin menghapus perasaannya ke aku, Kak," jawab Anza dengan suara serak, hampir tak terdengar.

DANIALANZA [ END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang