Anza telah lama diam-diam menyukai kakak kelasnya. Setelah menyimpan perasaan itu dalam hati untuk waktu yang lama, akhirnya Anza memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Namun, jawaban Danial sangat mengecewakan. Danial dengan tegas menol...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
22. AWAL RASA SUKA
Mencintaimu adalah perjalanan yang tak pernah berakhir, meski tahu, aku tak akan pernah sampai- Danialanza
Sekolah sudah hampir sepi, hanya beberapa siswa yang masih terlihat berserakan di sekitar kelas dan kantin. Udara sore yang mulai dingin menggigit sedikit, memberi tanda bahwa waktu sudah hampir menjelang magrib. Langkah kaki Danial terdengar pelan di lorong sekolah, suara sepatu yang bersentuhan dengan lantai yang sudah bersih itu seperti irama yang menandakan bahwa dia hampir tiba di dekat lobi sekolah.
Di sudut, di dekat bangku panjang, terlihat seorang gadis yang duduk termenung, wajahnya tampak sedikit sendu. Itu adalah Anza.
"Anza," gumam Danial pelan, saat dia mulai melangkah mendekati gadis itu.
Anza mendongak, terkejut mendengar suara seseorang yang tak disangka-sangka. Matanya bertemu dengan mata Danial, ada sedikit kebingungan di sana, lalu segera digantikan oleh tatapan yang lebih dingin.
"Danial..." jawab Anza, suaranya pelan namun terdengar sedikit terkejut.
Danial memutuskan untuk mendekat, tidak ada rencana besar selain ingin berbicara, menghapus rasa khawatir yang beberapa hari ini terus menghantui pikirannya. Dalam beberapa hari terakhir, dia tak bisa berhenti memikirkan Anza, terlebih setelah kejadian kemarin di mana dia sempat melihat tatapan kecewa dari gadis itu. Tatapan yang membuat hatinya terasa berat. Seolah-olah ada sesuatu yang tak beres di antara mereka, meskipun mereka jarang berbicara.
"Lo sendirian?" tanya Danial, suaranya sedikit lebih lembut dari biasanya, namun tetap terdengar tegas.
Anza menunduk, ragu sejenak, dan akhirnya mengangguk. "Iya kak, "balas Anza kepada Danial.
"Mau pulang bareng gue nggak?" tawar menawarkan dengan nada lebih santai namun penuh makna.
Anza menatap Danial dengan tatapan bingung. Pikirannya terasa bercabang, antara merasa tersanjung dan bingung dengan perubahan sikap Danial yang sebelumnya terkesan acuh. Namun, hatinya tak bisa menahan rasa senang yang muncul. Cowok yang selama ini hanya bisa dia pandang dari kejauhan, tiba-tiba menawarkan diri untuk pulang bersama. Ini jelas bukan hal yang biasa.
"Pulang bareng kakak?" suara Anza terdengar sedikit tercekat, canggung.
Danial mengangguk, matanya menatap Anza dengan intens. Ada kehangatan yang berbeda dari tatapannya, lebih dalam, lebih serius. "Iya, kenapa? Kalau lo nggak mau, nggak apa-apa."
Anza merasa hatinya berdegup kencang. Seperti ada kegelisahan yang menyusup ke dalam dirinya. Selama ini dia hanya bisa melihat Danial dari jauh, berharap bisa berbicara lebih dekat, tapi sekarang dia merasa ragu. Ada sesuatu yang mengganjal.
Tapi tatapan Danial yang penuh perhatian itu seakan menghapus semua keraguan yang ada. Tanpa bisa dia tolak, dia mengangguk pelan.
Danial tersenyum tipis, lalu melangkah lebih dekat. Tanpa berkata lebih banyak, mereka berdua berjalan bersama keluar dari lobi sekolah. Suasana yang semula canggung perlahan berubah menjadi lebih nyaman. Suara langkah kaki mereka seakan mengisi keheningan sore itu. Danial bisa merasakan ada sesuatu yang mengambang di antara mereka, tetapi dia memilih untuk menikmati saat itu, tanpa terlalu banyak pertanyaan.