Anza telah lama diam-diam menyukai kakak kelasnya. Setelah menyimpan perasaan itu dalam hati untuk waktu yang lama, akhirnya Anza memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Namun, jawaban Danial sangat mengecewakan. Danial dengan tegas menol...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
53. HATI MILIK SIAPA?
Mencintaimu seperti mengejar bintang yang tak bisa dijangkau. Semua usaha sia-sia, tapi aku tetap ingin mengejarnya- Danialanza
Ruangan rumah sakit sore itu tak terlalu ramai. Suara langkah kaki para perawat sesekali terdengar di luar pintu, diselingi dengungan mesin infus dan aroma khas antiseptik yang menusuk lembut ke dalam hidung. Di ranjang nomor tiga, Galang tengah berbaring. Wajahnya pucat, tangan kirinya terhubung dengan selang infus, dan dagunya tampak sedikit tergores.
Pintu diketuk pelan. Seseorang masuk dengan langkah ringan.
"Hai, gimana kabar kamu?" tanya Abel lembut sambil tersenyum kecil. Matanya menatap Galang dengan campuran lega dan rasa yang sulit dijelaskan.
Galang yang sedang bersandar di ranjang pasien itu menoleh. Senyumnya mengembang meski terlihat letih. "Aku baik. Lebih baik sejak semalam. Cuma masih agak pusing dikit."
"Nih, aku bawain jeruk. Buah kesukaan kamu." Abel mengangkat kantong kertas berisi buah segar, lalu meletakkannya di meja kecil di samping ranjang.
Galang tersenyum lagi. "Terima kasih... harusnya kamu nggak usah repot-repot. Kamu jenguk aja aku udah seneng."
Abel menarik kursi ke dekat tempat tidur dan duduk. Tangannya sibuk mengatur rambut yang sedikit menutupi wajahnya. Ada gugup yang tidak ia sembunyikan. Matanya menatap tangan Galang yang terluka.
"Lang, kamu keren... video kamu yang nyelamatin Anza itu viral banget. Aku liat di TikTok, semua orang kagum. Kamu bener-bener nekat, tapi... kamu berhasil. Kamu selamatin dia."
Abel menarik napas dalam. Jemarinya bermain di pangkuan. Kata-kata sudah lama ingin ia ucapkan, tapi baru kali ini ia benar-benar siap.
"Lang... kayaknya kita emang bener-bener harus selesai deh."
Abel menatapnya, tidak lagi dengan senyum, tapi dengan kejujuran yang dalam.
"Hubungan kita," ucapnya pelan namun tegas. "Aku nggak mau maksa kamu untuk tetap bertahan sama aku... sedangkan di dalam hati kamu ada nama wanita lain. Aku tahu itu, Lang. Aku lihat dari caramu liat Anza. Dari caramu panik waktu dia hilang. Dari caramu lari secepat itu ke tempat yang bahkan polisi aja belum sempat ke sana. Aku nggak mau jadi bayangan semu kamu."
Galang terdiam. Lama.
Matanya tak bisa menatap Abel. Ia menggenggam sprei di bawahnya erat. Perasaan bersalah merayapi dada. Ia ingin menyangkal, tapi lidahnya kelu. Karena ia tahu—Abel benar.
"Bel... aku..."
"Enggak usah jelasin," potong Abel cepat. Suaranya tetap lembut, tapi ada luka yang menganga di balik ketenangannya. "Kamu udah cukup banyak ngelakuin hal baik. Bahkan di saat kamu nggak bisa milih, kamu tetap jadi orang baik. Tapi kebaikan kamu bukan alasan aku terus maksa bertahan."