19. ULANG TAHUN DAN HADIAH ANZA

168 37 27
                                        

19

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


19. ULANG TAHUN DAN HADIAH ANZA

Aku mengejarmu, meski tahu terkadang langkah kita tak akan sejajar-Danialanza

Tepat hari ini, di sebuah malam di bulan Mei, Anza tengah merayakan ulang tahunnya. Rumahnya sudah dipenuhi dengan warna pink dan stroberi—dua hal yang selalu menjadi tema ulang tahunnya sejak dulu. Setiap sudut ruangan dihiasi dengan balon-balon berwarna pink muda, pita-pita kecil, serta berbagai dekorasi bertema stroberi yang manis. Meja panjang di ruang tamu tertata rapi dengan aneka kue stroberi cantik, cupcake dengan taburan gula merah jambu, dan minuman berwarna merah muda yang menggoda. Musik ceria mengalun lembut, sementara tawa dan suara riuh teman-teman sekolah memenuhi ruang itu.

Anza berdiri di dekat pintu sambil tersenyum, menerima ucapan selamat dari teman-teman yang datang. Semua terlihat bahagia, penuh semangat menikmati pesta yang telah lama ia persiapkan. Namun, di balik senyum ceria itu, ada sesuatu yang mengganjal di hati Anza. Ia sudah menunggu sosok yang sangat ia harapkan untuk datang di hari spesial ini, sosok yang sudah ia undang sejak beberapa hari lalu, Danial.

Kemarin, ketika Anza mengundang Danial cowok itu mengatakan "akan datang"Kata-kata itu sempat membuat dada Anza berdebar, harapan tumbuh subur di dalam hatinya. Tapi sampai pesta hampir usai, tidak ada tanda-tanda Danial datang. Padahal, anehnya, hampir semua teman-teman Danial datang dengan antusias. Hanya Danial yang absen tanpa alasan jelas.

Perasaan kecewa dan sedih mulai merayapi hati Anza. Ia tak mengerti apa yang terjadi. Ia mencoba bertanya pada Ray, sahabat yang beberapa minggu terakhir mulai dekat dengan Dinda, sahabat Anza yang dulu terkenal sangat anti dengan cowok. Saat Anza bertanya, Ray hanya menggeleng dan berkata, "Gue nggak tahu, Za. Tuh anak gak ada ngabarin gue. "

Sedang asyik menyendiri dengan pikirannya yang bercabang-cabang, tiba-tiba Galang menghampiri Anza.Galang menepuk bahu Anza dengan ramah dan berkata, "Kenapa, Za? hari spesial kok mukanya manyun sih? harusnya lo senang."

Anza mencoba tersenyum, tapi wajahnya tetap menunjukkan kesedihan yang sulit disembunyikan. "Gue... cuma sedikit kecewa, Lang," jawabnya pelan. "Gue sudah menunggu Danial, tapi dia nggak datang."

Galang hanya terdiam mendengar balasan Anza, Sebegitu pentingnya Danial buat lo, Za... kata itu terngiang dalam pikirannya, tapi ia hanya menyimpannya dalam hati. Ia tahu, ini bukan saatnya untuk menekan lebih dalam luka yang sedang dirinya rasakan. Dengan suara lembut dan penuh keyakinan, Galang berkata, "Za, gue punya sesuatu buat lo. Ayo, ikut gue ke dekat panggung."

Tanpa menunggu jawaban, Galang menarik tangan Anza dan membimbingnya melewati kerumunan teman-teman yang masih asyik merayakan pesta ulang tahun Anza Mata Anza yang tadi redup mulai menyipit, ada sedikit rasa penasaran yang tumbuh di dalam hatinya.

Sesampainya di depan panggung, Galang naik dengan mantap ke atasnya. Lampu sorot menyorotinya, dan suasana pesta berubah menjadi hening, semua mata tertuju pada Galang yang mulai memetik gitar dengan perlahan. Senyum tipis menghiasi wajahnya, dan ia menarik napas dalam-dalam sebelum mulai menyanyikan lagu yang ia ciptakan khusus untuk Anza di hari ulang tahunnya.

DANIALANZA [ END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang