Anza telah lama diam-diam menyukai kakak kelasnya. Setelah menyimpan perasaan itu dalam hati untuk waktu yang lama, akhirnya Anza memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Namun, jawaban Danial sangat mengecewakan. Danial dengan tegas menol...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
34. BELUM SEMBUH
Aku menyimpanmu dalam sunyi. Tak ada yang tahu, tapi kamu belum pernah benar-benar pergi dari hatiku-Danialanza
Di ruang dapur yang cerah, Anza tengah berdiri di samping meja kerja, menyendok adonan kue brownies yang hampir siap untuk dipanggang. Clara yang juga sibuk mengaduk bahan-bahan dengan hati-hati, menatap adonan yang semakin mengental. Mama Clara yang duduk di ujung meja sambil memotong cokelat batangan, sesekali melirik ke arah mereka, menikmati kehangatan momen bersama anak perempuannya dan sahabat anaknya.
"Eh, gue mau ngasih ini buat Bara, ah," ucap Clara tiba-tiba, sambil memasukkan adonan ke dalam loyang. Mata Anza yang sedang fokus pada langkahnya langsung menoleh ke arah Clara.
"Ha? Sekarang apa-apa Bara ya?" Anza mulai melemparkan senyuman nakal. "Udah move on, ya?"
Clara mendengus kesal, meskipun ada senyum kecil yang tak bisa ia sembunyikan. "Ih, gue sama Bara kan temen," ujarnya Clara sedikit ngegas.
Anza hanya tertawa kecil, lalu melanjutkan ejekannya. "Temen-temen... tar lama-lama demen, loh," katanya, sambil melemparkan pandangan jahil.
Clara langsung menaikkan alisnya, memberikan tatapan tajam kepada Anza. "Kayak lo sama Galang dong," Clara menyindir, "jadi demen, tapi yang demen Galang doang sih." Clara pun tertawa lagi, kali ini lebih keras menertawakan Anza
"Malas. Jangan bahas Galang deh, lo tahu kan gue sama dia berantem gara-gara perasaan nggak jelas ini," ucap Anza pelan, matanya menatap kosong ke arah jendela yang terbuka. Angin sore berhembus perlahan, membawa aroma tanah yang basah setelah hujan.
Anza menyandarkan punggungnya pada kursi, meremas genggaman tangannya di atas meja. "Ini yang nggak gue suka, Clara. Kalau ada yang satu pihak punya perasaan, semuanya jadi kacau. Persahabatan gue yang udah dibangun dari kecil, hancur begitu aja gara-gara Galang merasakan cinta ke gue. Gue nggak tahu lagi harus gimana."
Suasana semakin tegang, hingga tiba-tiba terdengar suara lembut dari mamanya Clara"Cinta itu nggak ada yang salah, nak," ucap Mamanya Clara. "Kamu juga nggak bisa nyalahin teman kamu yang suka sama kamu. Cinta datang karena kebiasaan, karena kedekatan, karena waktu yang kalian habiskan bareng. Semua itu alami."
Anza terdiam mendengar kata-kata Mama Clara. Terkadang, semua yang terjadi terasa begitu rumit. Bagaimana bisa perasaan yang dulunya biasa saja, berubah menjadi sesuatu yang sulit dihadapi? Bagaimana bisa persahabatan yang seharusnya menjadi tempat nyaman, berubah menjadi medan perang karena cinta yang tak pernah disangka-sangka datang begitu tiba-tiba?
"Aku gak mau tante persahabatan ku rusak gara-gara salah satu dari kita merasakan cinta?" tanya Anza akhirnya, suara di bibirnya terasa seperti bisikan yang penuh kebingungannya.
Mama Clara meletakkan cangkir teh di atas meja."Tidak ada yang salah dengan perasaan, Anza. Hanya saja, yang penting adalah bagaimana kita menghadapinya. Apakah kalian bisa berbicara dengan jujur tentang apa yang terjadi di antara kalian? Atau apakah kalian akan membiarkan rasa takut itu merusak segalanya?"