31. GALANG DAN ABEL JADIAN

87 1 0
                                        

31

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

31. GALANG DAN ABEL JADIAN

Kalau dia belum sembuh, jangan biarkan dia menjadikan kamu obat sementara- Danialanza

Langit Jakarta sore itu menggantung awan kelabu, seolah menahan hujan yang tak jadi turun. Deretan motor berbaris rapi di parkiran SMA 77, dan di tengah gemuruh sorakan penonton, suara peluit panjang baru saja mengakhiri pertandingan basket antar kelas.

Abel berdiri di pinggir lapangan, tangannya menggenggam sebotol air mineral yang tadi sempat ia beli di koperasi sekolah. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin, seragam putih-abu yang dikenakannya sudah tak serapih saat pagi. Tapi matanya tetap tertuju pada sosok itu—Galang—yang baru saja menyeka keringat di dahinya dengan handuk, napasnya masih memburu usai kuarter terakhir.

Langkah-langkah Galang mantap saat ia menghampiri garis tepi lapangan, wajahnya memerah karena kelelahan. Abel yang sedari tadi menanti segera menyodorkan botol minum ke arahnya.

"Minum dulu," ucapnya singkat berusaha terdengar biasa saja.

Galang menoleh, mata mereka bertemu sejenak. Lalu, bibir cowok itu melengkung membentuk senyum tipis.

"Thanks, Bel," katanya lirih.

Abel hanya mengangguk kecil. Tapi di balik sikap kalemnya, jantungnya berdetak tak karuan. Ia mengikuti Galang dengan tatapan pelan, menyadari bahwa senyum kecil itu cukup untuk membuatnya tidak peduli pada sorak-sorai penonton, atau hasil pertandingan barusan.

Selesai minum, Galang menyerahkan kembali botolnya. "Jalan yuk," katanya Galang.

Mereka keluar dari lapangan bersama, langkah mereka tak seirama tapi saling menunggu. Suasana di sekitar mereka masih ramai, tapi rasanya seperti hanya ada mereka berdua di tengah keramaian itu. Abel sesekali menunduk, menahan senyum yang terlalu mencolok jika ia biarkan lolos. Sementara Galang menggantungkan handuk di lehernya, sepatu basketnya menginjak aspal dengan suara berat tapi mantap.

Di ujung parkiran, motor Galang menunggu mereka. Abel memperhatikan bagaimana cowok itu mengambil helm dari gantungan di jok belakang, lalu tanpa banyak bicara menyerahkannya pada Abel.

"Siap?" tanya Galang pelan.

Abel mengangguk. Ia kenakan helm itu, dan sesaat sebelum naik ke boncengan, ia sempat menatap punggung Galang. Punggung yang tadi ia lihat begitu tegap saat membawa timnya di lapangan, tapi kini terasa lebih dekat, lebih nyata.

Motor berhenti perlahan di depan sebuah mall kecil di bilangan Jakarta Selatan. Tidak terlalu mewah, tapi cukup ramai dengan lalu-lalang orang-orang yang baru pulang kerja atau sekolah. Abel turun lebih dulu melepas helm dengan gerakan pelan rambutnya berantakan terkena angin. Galang memarkir motornya, lalu menghampirinya sambil nyengir kecil.

"Laper banget, Bel. Temenin gue makan dulu, ya?" ucap Galang kepada Anza.

Mereka melangkah masuk ke dalam mall, menyusuri lantai dua menuju food court. Galang memilih tempat makan sederhana yang menjual rice bowl dan chicken katsu. Mereka duduk di meja kecil untuk dua orang dengan lampu gantung kuning redup yang menggantung di atasnya.

DANIALANZA [ END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang