Anza telah lama diam-diam menyukai kakak kelasnya. Setelah menyimpan perasaan itu dalam hati untuk waktu yang lama, akhirnya Anza memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Namun, jawaban Danial sangat mengecewakan. Danial dengan tegas menol...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
38. RAPAT
Aku terlalu dalam mencintaimu, bahkan saat aku ingin berhenti, hatiku tak pernah mau mendengar. Ia tetap mencari jejakmu, meski aku sudah lama menghapus segala kenangan-Danialanza
Jakarta, Selasa malam. Langit berwarna gelap, mendung menggantung meski tak hujan. Jalanan ibu kota padat seperti biasa, lampu-lampu kendaraan menyala terang, dan hiruk-pikuk kota tak pernah benar-benar tidur. Tapi di dalam sebuah restoran terkenal di kawasan Senopati.
Restoran itu tampak elegan dengan interior bernuansa kayu modern dan pencahayaan yang dibuat lembut agar terasa intim. Di salah satu sudut ruangan satu meja panjang sudah dipesan atas nama Galaksi.
Mereka yang duduk di meja itu tak asing satu sama lain. Beberapa adalah sahabat lama, beberapa baru saja bergabung tahun ini. Tapi satu benang merah mengikat semuanya—Galaksi.
Danial, mengenakan kemeja gelap dan jam tangan favoritnya duduk di salah satu ujung meja. Di sebelah kirinya, Ray, dengan tatanan rambut acak-acakan khasnya, menggulir layar ponsel sambil sesekali mengangguk.
Sementara pesanan makanan belum datang, suasana sudah mulai serius. Semua menunggu Danial membuka suara.
Danial meletakkan ponselnya di meja, menarik napas sebentar, lalu berkata, "Sorry kalau gue ngechat di grup mendadak," ucapnya cukup lantang tapi tetap santai. "Tapi kita harus bahas ini karena ulang tahun Galaksi akan segera hadir. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Galaksi akan ngadain ulang tahun dan reuni yang akan menghadirkan alumni-alumni terdahulu."
Ray menoleh pada Danial, menanggapi. "Udah kebayang bakal rame sih. Alumni tahun lalu aja banyak yang pulang cuma buat datang ke acara ini."
"Dan mereka berekspektasi lebih tinggi tahun ini," tambah Bryan dari ujung meja lain dengan tablet terbuka di depannya. "Kita nggak bisa bikin seadanya."
"Exactly," Danial mengangguk. "Makanya gue pikir, kita nggak bisa nunggu minggu depan buat rapat. Kita harus mulai dari sekarang. Gue usul kita mulai dari menentukan konsep tahun ini."
Bara mengangkat tangannya. "Tahun lalu temanya 'Orbit Masa Lalu'. Kita bisa bikin lanjutan dari itu, semacam kelanjutan narasi?"
"Gimana kalau 'Langit yang Sama'?" usul Erza tiba-tiba. "Kayak, walaupun kita semua udah ke mana-mana, kita masih ngeliat langit yang sama. Masih ada Galaksi yang jadi titik temu."
Semua diam sejenak.
Lalu Danial tersenyum kecil. "Gue suka. 'Langit yang Sama.' Ada nuansa sentimentalnya, tapi juga kuat secara simbolik."
Ray langsung mencatat. "Itu juga bisa kita mainkan di konsep visual. Kayak langit malam, bintang-bintang, nostalgia."
"Jangan lupa budget," celetuk Ilham sambil menyesap lemon tea-nya. "Kita tetap harus realistis. Tempat, konsumsi, dekorasi, dokumentasi—itu semua butuh dana."