Anza telah lama diam-diam menyukai kakak kelasnya. Setelah menyimpan perasaan itu dalam hati untuk waktu yang lama, akhirnya Anza memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Namun, jawaban Danial sangat mengecewakan. Danial dengan tegas menol...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
24. MULAI BERJARAK
Ketika kamu terus memaksa untuk menggenggam yang tidak mau digenggam, kau hanya membuat tanganmu terluka, dan hatimu semakin rapuh- Danialanza
Hari itu, cuaca panas menyelimuti sekolah, namun di depan kelas Abel, udara terasa sejuk. Abel dan Galang duduk di tangga depan kelas, menikmati waktu berdua setelah pelajaran berakhir. Mereka berbincang santai, sesekali tertawa kecil, tetapi ada yang berbeda dalam diri Galang. Matanya tak secerah biasanya.
Tiba-tiba, langkah kaki yang cepat terdengar, disusul suara langkah kaki Bara dan temen-temen Galang. Mereka tampak seperti pengganggu yang tiba-tiba datang tanpa diberi undangan. "Lang, gue cariin ternyata di sini," ujar Bara dengan nada yang agak terburu-buru, lalu langsung menghampiri Galang.
Galang menoleh, sedikit terkejut. "Ada apa lo nyariin gue?" tanya Galang.
Bara berdiri di depan mereka, menatap Galang dengan tatapan penasaran."Lo menjauh ya dari Anza, tuh perempuan dari kemarin dia ngechatin gue mulu karena lo gak balas chat katanya. Ada apa sih, Lang?" tanya Bara kepada Galang. Nggak biasanya Galang berperilaku seperti itu.
"Gue cuma ingin ngasih jeda di hubungan gue sama Anza," ucap Galang dengan suara rendah, namun penuh makna.
Erza yang mendengar pernyataan itu langsung menatap Galang dengan penuh tanya. "Jeda kayak gimana? Maksud lo apa?" tanya Erza, bingung dengan kata-kata Galang yang terasa ambigu.
Galang menarik napas panjang, mencoba menjelaskan perasaannya yang semakin rumit. "Gue ingin mencoba hilangin perasaan gue untuk Anza," jawab Galang dengan tegas, namun ada sedikit rasa ragu dalam suaranya.
Semua teman-temannya langsung terdiam. Semua langsung tampak terkejut dengan pernyataan Galang. Mereka tidak mengira bahwa Galang akan mengatakan hal seperti itu setelah sekian lama bersama Anza.
"Serius, Lang?" Erza akhirnya membuka mulut, suaranya terdengar tak percaya. "Setelah sekian tahun, akhirnya lo mau mencoba lupain dia? Gue dukung banget sih, tapi... kenapa sekarang? Ada apa, Lang?"
Galang menatap Erza, matanya terlihat penuh dengan penyesalan yang tak terucapkan. "Gue cuma... ingin Anza bahagia. Dan mungkin, bahagianya Anza itu bukan sama gue," jawab Galang dengan suara yang terdengar penuh rasa sakit. "Gue udah coba untuk bertahan, tapi... terkadang, meskipun kita ingin berjuang, kita juga harus tahu kapan harus melepaskan."
"Jadi lo serius mau melepaskan dia, Lang?" tanya Bara. "Lo yakin lo bisa ninggalin Anza setelah segala yang udah kalian lewatin?"
Galang mengangguk pelan, meskipun hatinya berat. "Gue tahu ini nggak mudah. Tapi gue nggak bisa terus-terusan ngandelin perasaan gue kalau itu cuma bikin gue dan Anza semakin jauh. Gue nggak mau dia terjebak sama gue karena dari awal gue selalu denial kalau mungkin suatu saat Anza bisa balas perasaan gue."