Anza telah lama diam-diam menyukai kakak kelasnya. Setelah menyimpan perasaan itu dalam hati untuk waktu yang lama, akhirnya Anza memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Namun, jawaban Danial sangat mengecewakan. Danial dengan tegas menol...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
48. ANZA HILANG
Aku belajar mencintai diriku lebih dulu, agar saat mencintaimu nanti... aku tidak lupa siapa yang paling harus dijaga- Danialanza
Suasana apartemen sore itu terasa sepi. Anza sedang duduk di sofa dengan kaus oblong dan celana pendek dengan selimut tipis menutupi kakinya. Di pangkuannya sebuah novel terbuka yang baru dia beli minggu kemarin.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu mengagetkannya.
Tok. Tok.
Anza mengernyit dengan langkah pelan, ia berjalan ke arah pintu rasa penasaran. Ketika pintu terbuka, alisnya langsung mengerut.
"Alex?"
Cowok dengan hoodie hitam dan jeans robek itu berdiri santai di depan pintu, tangan kirinya menyelip di saku celana. Senyum kecil menghiasi wajahnya yang dingin.
Anza menatapnya tak percaya. "Lo kok tahu apartemen gue?"
Alex hanya mengangkat sebelah alis, seperti pertanyaan itu tidak penting untuk dijawab panjang lebar.
"Tau lah. Apa yang nggak gue tahu tentang lo?"
"Ngapain lo ke sini?" tanyanya masih berdiri di ambang pintu.
Alex mengangkat bahu santai. "Ikut gue yuk mau nggak? Bantuin gue cari kado buat mama gue. Besok dia ulang tahun."
Anza menghela napas. "Harus sekarang banget ya?" tanyanya sambil melirik jam dinding.
"Gue ada janji sama temen gue," lanjutnya Anza.
"Iya. Bentar doang kok gak akan lama,"balas Alex.
"Yaudah deh... lo tunggu sini. Gue siap-siap dulu."
Alex mengangguk menunggu Anza diluar unit apartemen. Alex membuka ponselnya dan mulai mengetik sesuatu. Tangannya bergerak cepat di layar.
'Tar lagi gue otw. Tunggu aja,' tulis Alex pada seseorang, sebelum menyelipkan kembali ponselnya ke saku jaket.
Setelah selesai bersiap-siap, Anza keluar dari unit apartemennya dengan langkah cepat. Hoodie abu-abunya sudah menutupi sebagian rambut yang dikuncir rendah. Di tangannya, sebuah tas kecil menggantung, berisi dompet dan ponsel.
Alex menunggu di luar pintu, berdiri santai dengan tangan disilangkan di depan dada. Begitu melihat Anza keluar cowok itu langsung melangkah tanpa bicara. Mereka berjalan bersama menuruni lorong dan menaiki lift ke basement apartemen.
Suasana basement cukup sepi. Hanya ada beberapa mobil yang parkir dan suara langkah kaki mereka bergema di antara tiang-tiang beton.
Mobil putih milik Alex terparkir rapi di sisi kanan, bersih, dan mengkilap di bawah cahaya neon. Alex berjalan mendahului membuka pintu penumpang dan menoleh ke Anza.
"Naik," katanya singkat.
Anza mengangguk pelan lalu masuk ke dalam mobil. Begitu duduk, dia langsung memasang sabuk pengaman. Alex menutup pintu lalu mengitari mobil dan masuk dari sisi kemudi.