52. BERTEMU

103 2 0
                                        

52

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

52. BERTEMU

Kamu tak perlu tahu seberapa jauh aku menjagamu, cukup percaya aku selalu ada di barisan terdepan saat dunia mulai menyakitimu- Danialanza

Udara malam itu terasa lebih dingin dari biasanya, seolah-olah seluruh semesta ikut membeku bersama kegelisahan yang menggantung di udara. Pintu besi berderit keras saat dibuka. Semua kepala menoleh bersamaan. Danial masuk dengan langkah cepat, wajahnya tegang. Di tangannya, tergenggam erat sebuah ponsel berwarna hitam.

Galang langsung berdiri dari kursinya, wajahnya langsung berubah serius. "Gimana, Bang? Udah nemu?"

Danial mengangguk pelan, meletakkan ponsel itu di atas meja kayu di tengah ruangan. "Udah. kita periksa semua isi handphone Shella," kata Danial.

Bryan menyipitkan mata. "Bang... jadi selama ini Shella kerja sama sama Alex?"

Suasana mendadak hening. Tak ada yang langsung menyahut. Danial hanya mengangguk pelan, matanya menatap kosong ke layar ponsel yang menampilkan deretan pesan-pesan terenkripsi.

"Anjing banget tuh orang...," geram Ray tiba-tiba, memukul meja dengan keras. "Kita kecolongan. Di dalam lingkaran kita sendiri!"

"Shella ngasih info soal Anza. Jadwalnya. Tempat dia biasa nongkrong. Bahkan... dia tahu lokasi basecamp kita sekarang," lanjut Danial. "Gue nemu voice note dia ngirim laporan ke Alex. Penuh detail."

Bryan menggeleng tak percaya. "Dia tuh sahabatnya Anza, Bang... sahabat. Gimana dia bisa..."

Galang mendekat ke meja, mengambil ponsel dan membuka aplikasi Maps. "Bang, periksa map-nya. Tadi Anza sempat bilang lewat telepon, tempatnya jauh dari Jakarta. Ini... ada titik lokasi terakhir yang terekam dari HP Shella sebelum sinyalnya hilang."

Danial menyipitkan mata, memandangi layar.

Sebuah titik merah terpampang di tengah area hutan di perbatasan Jawa Barat—dekat kawasan perkebunan tua yang sudah tidak digunakan.

"Ini... ini bisa jadi tempat mereka bawa Anza," ujar Galang. "Lokasinya terpencil, akses terbatas, dan jauh dari pemukiman warga. Tempat sempurna buat nyembunyiin orang."

Ilham yang sejak tadi diam langsung berdiri. "Ayo kita ke sana. Sekarang."

"Gak bisa nunggu lebih lama," kata Ray. "Kalau bener itu tempatnya, dan mereka tau kita udah deket, Anza bisa dipindahin atau... lebih buruk."

****

Langit malam menyelimuti lokasi tersembunyi di tengah hutan kecil di pinggiran kota. Hanya suara jangkrik dan hembusan angin yang menemani langkah mereka. Deretan mobil berhenti cukup jauh dari bangunan tua tempat Anza disekap. Semua turun, mengenakan pakaian gelap, wajah-wajah mereka menegang dalam keheningan.

"Ini tempatnya," bisik Lang sambil menunjuk ke arah bangunan terbengkalai yang tampak dijaga oleh beberapa orang bersenjata. "Banyak pasukan di luar. Harus hati-hati."

DANIALANZA [ END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang