Anza telah lama diam-diam menyukai kakak kelasnya. Setelah menyimpan perasaan itu dalam hati untuk waktu yang lama, akhirnya Anza memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Namun, jawaban Danial sangat mengecewakan. Danial dengan tegas menol...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
45. BUTUH JEDA
Aku ingin diam, memberi ruang antara aku dan kamu. Karena sekeras apa pun aku mencintaimu... kamu selalu berjalan ke arah lain- Danialanza
Pagi itu langit Jakarta begitu terang. Awan tipis menyelimuti matahari yang masih malu-malu naik. GBK masih ramai oleh orang-orang yang memulai hari dengan langkah cepat, lari kecil, atau sekadar duduk menikmati udara yang belum terlalu panas.
Di sudut warung bubur ayam yang sederhana, Galang duduk berhadapan dengan Abel. Meja plastik biru, dua mangkuk bubur yang mengepul, dan dua gelas teh tawar hangat yang belum tersentuh. Dari luar mungkin mereka terlihat seperti pasangan yang baru saja menyelesaikan rutinitas sehat di pagi hari. Tapi tidak ada yang tahu, di antara mereka sedang ada sesuatu yang tak kasat mata—senyap, tapi menekan.
Galang menatap pacarnya, bingung. Sejak mereka duduk tadi, Abel belum mengeluarkan sepatah kata pun. Tidak seperti biasanya. Biasanya Abel yang paling dulu mengomentari topping bubur ayam, atau sekadar bercanda soal orang-orang yang lari seperti "dikejar mantan".
"Sayang, kamu kenapa sih?" tanya Galang pelan, tapi jelas. Ada nada khawatir di sana, tapi juga heran.
Abel seperti baru tersadar dari pikirannya sendiri. Ia mengangkat wajahnya, lalu menggeleng perlahan. "Nggak apa-apa."
Tapi Galang tahu, ada yang tidak beres. Abel terlalu tenang. Terlalu sunyi.
Abel menunduk sebentar, jari-jarinya menggenggam sendok yang belum sempat menyentuh bubur. Lalu dengan suara yang hampir tak terdengar, ia berkata, "Lang... aku mau nanya, boleh?"
Galang langsung mengangguk. "Tanya aja, sayang. Kenapa harus minta izin?"
Abel mendongak, menatap Galang dengan mata yang entah kenapa terasa lebih dingin pagi itu. Tapi di balik tatapan itu ada luka yang sedang dibendung.
"Kamu udah cinta sama aku?"
Galang terdiam. Pertanyaan itu datang seperti serangan mendadak. Ia mengerutkan dahi, tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia justru melempar balik pertanyaan.
"Kok kamu nanya gitu?"
Abel tersenyum miris. "Kamu nggak bisa jawab, kan?"
Galang membuka mulut, ingin menjelaskan, ingin membantah—tapi tidak ada kata yang keluar.
Abel menarik napas panjang. "Karena dari dulu perasaan kamu tetap sama, kan?"
"Aku kira aku bisa, Lang," lanjut Abel, suaranya mulai bergetar. "Aku kira aku bisa gantiin posisi dia di hati kamu. Tapi ternyata nggak, kan?"
Ia tertawa kecil, getir. "Enam bulan kita pacaran. Enam bulan aku berusaha jadi segalanya buat kamu. Tapi hati kamu masih untuk dia?"
Galang menggenggam tangan Abel di atas meja, tapi gadis itu menariknya pelan.