33. HUBUNGAN YANG BERBEDA

101 1 0
                                        

33

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

33. HUBUNGAN YANG BERBEDA

Kamu harus lebih bahagia, seperti hujan yang memberi hidup pada bumi. Aku di sini, menyaksikan kebahagiaanmu tumbuh, meski tak ada di dalamnya-Danialanza

Cahaya matahari pagi yang lembut perlahan menyusup ke dalam kamar Anza, menyentuh kulitnya yang masih hangat oleh selimut. Suara burung berkicau dari luar jendela memberikan suasana damai di pagi yang cerah itu. Anza membuka matanya perlahan, membiarkan cahaya itu masuk sedikit demi sedikit. Begitu melihat jam di meja samping tempat tidurnya, ia tersentak kaget. Sudah pukul setengah enam.

Dengan gerakan malas, Anza menarik selimut dari tubuhnya, kemudian turun dari kasur. Langkahnya yang masih setengah mengantuk membawanya menuju kamar mandi, berusaha untuk menyegarkan diri setelah tidur yang nyenyak. Beberapa menit berlalu dan setelah selesai, dia pun keluar, menatap cermin untuk memastikan dirinya sudah siap memulai hari.

Ia melangkah pelan menuju ruang makan tempat di mana suasana pagi keluarga selalu terasa hangat. Di sana, mama sedang duduk di meja makan sambil menyeruput teh hangat. Kakaknya duduk di sebelah mama, tampak sibuk dengan ponselnya.

"Pagi, sayang," sapa mama dengan senyum lembut, wajahnya terlihat cerah meski baru pagi sekali.

"Pagi, Ma," jawab Anza, menatap mama dengan penuh kasih sayang. Ia duduk di kursi kosong dan langsung meraih sepiring nasi goreng yang sudah disiapkan oleh mama.

"Ini kamu sarapan dulu, ya," kata mama sambil menyodorkan sebuah kotak. "Oh ya, kue bikinannya Tante Dea masih ada, nih. Ini buat bekal kamu nanti."

Mama tersenyum, lalu melanjutkan, "Nanti mama mau keluar sama Tante Dea. Kamu, kalau takut sendirian di rumah, main aja sama Galang atau teman-teman kamu yang lain. Kalau mereka mau ke rumah, nggak masalah juga."

"Oh ya, dek, kenapa Galang kok jarang main ke rumah? Mama juga kemarin suruh masuk, eh dia malah langsung mau pergi. Kayak bukan Galang banget," ucap mama Rina lagi.

Anza terdiam sejenak, matanya menatap kosong ke meja makan. Kata-kata mama seolah memecah kebisuan yang sudah beberapa hari ia simpan dalam hati. Dia menghela napas panjang, merasa semakin berat dengan perasaan yang sudah lama tertahan.

Apa yang harus dia jawab?

Di dalam dirinya, perasaan ragu bercampur aduk. Dia ingin menjawab, tapi setiap kata terasa seperti beban. Kalau mama tahu semua yang terjadi, mungkin dia akan lebih khawatir lagi. Tapi bagaimana bisa dia menceritakan semuanya, jika Anza sendiri masih belum mengerti kenapa Galang bisa berubah begitu cepat?

Mau bilang apa kalau kenyataannya dia dan Galang sedang jauh-jauhan sekarang? Bukannya biasa, mereka yang selalu bersama, yang selalu bisa saling bicara tanpa batas. Kini, mereka malah tidak saling berbicara sama sekali. Dan itu terasa lebih berat daripada yang Anza bayangkan.

****

Hari Senin, selalu menjadi momok bagi kebanyakan orang. Suasana pagi itu terasa begitu berat, bahkan langit seakan mengaburkan warna birunya, menggambarkan rasa malas yang menyelubungi seisi sekolah. Semua murid sudah baris di lapangan, tapi tidak dengan Anza. Ia berjalan pelan dengan topi di atas kepalanya menyusuri jalan setapak menuju barisan yang sudah hampir penuh. Wajahnya sedikit kusut, seperti mencerminkan betapa ia tidak menyukai rutinitas yang satu ini.

DANIALANZA [ END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang