Anza telah lama diam-diam menyukai kakak kelasnya. Setelah menyimpan perasaan itu dalam hati untuk waktu yang lama, akhirnya Anza memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Namun, jawaban Danial sangat mengecewakan. Danial dengan tegas menol...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
43. HUBUNGAN YANG RUMIT
Beri percaya secukupnya agar saat jatuh kamu tak hancur sepenuhnya. Karena manusia adalah tempat kecewa paling nyata-Danialanza
Sudah dua hari Anza tidak keluar kamar. Langit berganti senja, malam menjelma pagi, tapi waktu seolah beku di dalam ruang empat kali empat meter itu. Tirai jendela masih tertutup rapat. Cahaya matahari enggan masuk, seperti tahu pemilik kamar itu tidak ingin melihat dunia.
Ponsel di atas meja terus bergetar. Notifikasi pesan bertubi-tubi masuk—dari grup kelas, dari sahabat-sahabatnya. Tapi semua itu tak sedikit pun Anza pedulikan. Ia hanya meringkuk di balik selimut, matanya sembab, suaranya habis untuk isak tangis yang tak kunjung reda.
Tok. Tok. Tok.
"Za... ini Mama. Makan dulu ya, Nak. Tolong banget, kamu jangan sampai telat makan," Suara lembut itu terdengar dari balik pintu.
Anza menggigit bibirnya. Tangisnya makin kencang, tapi ia tetap tidak menjawab. Ia tahu Mama khawatir, ia tahu Papa dan Kak Bima juga sering bergantian membujuknya. Tapi bagaimana ia bisa menjelaskan luka yang sedang menumpuk dalam dadanya?
Ia merasa hancur. Dikhianati oleh dua orang yang paling ia percaya.
Shella... sahabatnya sejak SMP. Orang pertama yang ia percaya untuk mendengar semua rahasianya termasuk cerita soal Danial—laki-laki yang diam-diam membuat jantungnya berdebar tiap hari. Danial yang membuat Anza belajar berharap. Danial yang selama ini dia pikir hanya memperhatikannya.
Dan kenyataannya?
Danial adalah pacar Shella. Sudah satu tahu mereka menjalin hubungan. Dan selama itu pula Shella berpura-pura menjadi pendengar setia. Shella bahkan pura-pura mendukung Anza sambil sesekali tersenyum seolah tak tahu apa-apa.
Bagaimana bisa? Kenapa sejahat itu?
Pintu kembali diketuk. Kali ini lebih keras.
"Anza! Kak Bima masuk ya, kalau kamu masih nggak jawab!" Suara kakaknya terdengar tegas. Beberapa detik kemudian, pintu dibuka.
Anza tetap tak bergerak dari tempat tidur. Selimut masih menutupi tubuhnya sampai kepala.
"Kamu nggak bisa terus begini," ucap Kak Bima lalu duduk di pinggir tempat tidur. "Kamu harus makan. Minum. Badan kamu bisa drop, Za. Apa kamu mau bikin Mama khawatir?"
Anza tetap diam. Matanya menatap kosong ke arah dinding.
"Za..." tangan Kak Bima mengusap lembut kepalanya. "Ada apa? Cerita sama Kakak. Siapa yang berani nyakitin adik Kakak?"
Pelan-pelan ia bangun dari tidurnya. Matanya sembab, pipinya penuh bekas air mata. Tanpa berkata apa-apa ia langsung memeluk kakaknya erat—erat sekali seperti anak kecil yang takut kehilangan pegangan.