16. WISUDA BANG BIMA

171 35 3
                                        

16

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

16. WISUDA BANG BIMA

Jika dia tak melihat nilaimu, bukan berarti kamu tidak berharga. Mungkin dia bukan cermin yang tepat- Danialanza

Pagi itu, matahari bersinar cerah di langit biru yang tak berawan. Anza sudah siap dengan penampilannya yang sempurna dress panjang berwarna putih yang anggun melingkari tubuhnya dan rambutnya yang tergerai dengan gaya kriting menambah kesan segar di wajahnya. Ia merasa hari ini spesial, karena kakaknya, Bang Bima, sedang menjalani wisuda di kampusnya.

"Galang, sorry lama tadi gue nyari handphone dulu. Handphone gue lupa taruh mana tadi?" ujar Anza sambil tersenyum manis pada Galang yang sedang berdiri di sampingnya. Galang tampak menawan dengan kemeja putih dan celana gelap, serasi dengan dress putih yang dikenakan Anza. Mereka seperti pasangan yang sengaja memilih pakaian yang serasi. Padahal dari awal Anza maupun Galang tidak janjian sama sekali.

Galang memandangnya dengan senyum lembut. "Gapapa tapi udah ketemu kan handphonenya? Cantik banget sih hari ini, " balas Galang sambil menggenggam tangan Anza. Galang memuji penampilan Anza yang hari ini kelihatan berbeda.

Mereka pun melangkah menuju mobil dan perjalanan dimulai. Meski perjalanan menuju kampus Bang Bima cukup jauh, suasana di dalam mobil tetap terasa hangat dengan percakapan ringan antara mereka. Anza sesekali melihat keluar jendela, memikirkan kakaknya yang sebentar lagi akan meraih gelar sarjana.

"Gue nggak sabar liat Bang Bima di atas panggung nanti," ujar Anza dengan semangat. "Mudah-mudahan wisudanya lancar. Dia udah susah payah selama ini."

Galang mengangguk. "Pasti dia bangga banget, Anza. Dan lo pasti makin bangga juga, kan?"

Anza mengangguk pelan, "Iya, Bang Bima udah kayak guru buat gue. Banyak banget yang dia ajarin."

Begitu sampai di kampus, mereka berjalan menuju gedung acara wisuda. Suasana kampus dipenuhi dengan keluarga dan teman-teman yang datang untuk memberikan dukungan. Anza merasakan kegembiraan yang mengalir di udara semuanya penuh dengan kebanggaan dan harapan.

Saat mereka masuk ke ruang wisuda, Anza merasakan hati berdebar. Panggung di depan mereka sudah dipenuhi para wisudawan, dan mata Anza langsung mencari Bang Bima di antara kerumunan.

"Lihat, itu dia!" Anza menunjuk ke arah Bang Bima yang sedang duduk di barisan depan. Dia tampak tampan dengan jas wisuda, senyum cerah di wajahnya, dan pandangannya penuh harapan.

Galang menggenggam tangan Anza. "Bang Bima pasti bahagia banget hari ini. Lo harus bangga banget punya kakak sehebat dia."

Anza hanya mengangguk, matanya tetap tidak lepas dari sosok Bang Bima yang tengah mempersiapkan diri untuk naik ke panggung. Detik-detik yang menegangkan akhirnya tiba, dan dengan tepuk tangan yang meriah, Bang Bima berjalan ke atas panggung, menerima ijazahnya.

Air mata Anza hampir jatuh, terharu melihat kakaknya akhirnya meraih impian yang selama ini dia perjuangkan. Galang yang melihatnya mengusap pelan punggung Anza, memberikan dukungan tanpa kata.

DANIALANZA [ END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang