Anza telah lama diam-diam menyukai kakak kelasnya. Setelah menyimpan perasaan itu dalam hati untuk waktu yang lama, akhirnya Anza memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Namun, jawaban Danial sangat mengecewakan. Danial dengan tegas menol...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
42. MALAM GALAKSI
Kupikir aku istimewa, ternyata cuma jadi hiburan sementara, yang kamu letakkan lagi saat tak lagi menyenangkan-Danialanza
Akhirnya, acara yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang itu datang juga. Malam Galaksi. Sebuah malam yang bagi sebagian besar anggota galaksi itu adalah ajang pembuktian, malam paling bergengsi, sekaligus momen yang akan diingat sepanjang tahun.
Gedung Aruna di kawasan SCBD terlihat megah malam itu, disulap penuh lampu-lampu temaram dan tata cahaya berwarna ungu keemasan yang memantulkan bayangan glamor di lantai marmer. Deretan karpet merah membentang di pintu masuk, diapit oleh poster-poster besar bertuliskan "langit yang sama"
Danial datang tepat waktu, seperti biasa. Setelan putih yang ia kenakan membuatnya tampak lebih bersinar dari biasanya, tapi yang paling mencuri perhatian adalah jaket kebanggaannya-jaket hitam dengan bordir tulisan "Galaksi" di punggung dan beberapa patch kecil yang menandai pencapaiannya selama bergabung di komunitas itu.
Namun malam itu, perhatian Danial bukan pada dirinya. Ia justru terlihat sering melirik ke samping, ke arah perempuan yang berdiri menggandeng lengannya. Anza.
Anza tampil memukau malam itu. Gaun biru laut yang membungkus tubuhnya dengan potongan off-shoulder dan slit paha kiri yang tinggi membuatnya tampak elegan sekaligus berani. Meski saat bercermin tadi ia sempat mengeluh dalam hati, "Kependekan"
Anza dalam hati merasa deg-degan. Langkah kakinya mengikuti Danial melewati lorong karpet merah menuju aula utama, tapi jantungnya berdebar tidak karuan. Rasanya seperti berjalan di atas panggung besar dengan lampu sorot tertuju hanya padanya.
Gaun biru yang ia kenakan terasa semakin pendek setiap kali ada angin dari AC yang berembus ke kakinya. Ia sempat ragu sebelum keluar dari mobil tadi, menatap bayangan dirinya di kaca spion berkali-kali, memastikan rambutnya jatuh sempurna dan makeup-nya tidak terlalu menor. Tapi sekarang, ketika sudah berada di dalam gedung megah ini, dengan puluhan mata menatap mereka berdua-lebih tepatnya, menatap dirinya-semua rasa percaya diri itu mendadak menguap.
Dari kejauhan, di sudut ruangan yang sedikit gelap dekat deretan kursi belakang, Galang berdiri diam sambil memegang gelas berisi air mineral yang bahkan belum ia sentuh sejak tadi. Sorot matanya tertuju lurus ke arah Anza. Tepatnya, ke arah gaun biru yang dikenakan perempuan itu malam ini-gaun yang menurut Galang... terlalu pendek.
Pandangan Galang sulit dibaca. Tak ada senyum, tak ada kedipan ramah, hanya mata yang tajam dengan tatapan dalam seperti sedang menahan sesuatu.
Beberapa bulan lalu, sebelum semuanya menjauh, sebelum mereka seperti dua orang asing yang saling lupa nama,. Galang tahu... dirinya selalu menjaga Anza. Dalam diam, dalam larangan-larangan kecil, dan dalam semua kalimat yang mungkin terdengar menyebalkan tapi niatnya hanya satu: melindungi.
Dan gaun itu... Gaun yang membungkus tubuh Anza malam ini dengan potongan tinggi di paha dan bagian punggung yang terbuka setengah... langsung menyalakan alarm di kepala Galang.