Anza telah lama diam-diam menyukai kakak kelasnya. Setelah menyimpan perasaan itu dalam hati untuk waktu yang lama, akhirnya Anza memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Namun, jawaban Danial sangat mengecewakan. Danial dengan tegas menol...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
51. PETUNJUK?
Untuk apa terus bertahan di jalan yang tak pernah sama? Aku memilih pergi sebelum harapan ini jadi beban- Danialanza
Malam itu udara terasa lebih dingin dari biasanya. Galang duduk bersandar di kursi kayu di halaman belakang rumahnya, tubuhnya lunglai, lelah luar biasa. Baru beberapa jam lalu dia pulang dari perjalanan panjang mencari Anza ke berbagai tempat yang tak membuahkan hasil. Wajahnya terlihat kusut, mata sembab karena kurang tidur, dan pikirannya terus berputar pada satu nama yang memenuhi setiap ruang hening dalam hidupnya—Anza.
Tangannya menggenggam botol air mineral yang sudah tak dingin lagi. Detik-detik berlalu dalam keheningan. Sampai tiba-tiba, telepon genggamnya yang tergeletak di atas meja berdering nyaring, memecah malam yang sunyi. Layarnya menampilkan "Nomor Tak Dikenal."
Galang mengernyit. Matanya menyipit menatap layar sebelum akhirnya dia menggeser tombol hijau.
"Halo, siapa ya?" tanyanya, suara serak karena lelah.
"Galang... tolong..."
Suara itu lirih, seperti bisikan, tapi menggores dada Galang dalam-dalam. Suaranya gemetar. Tapi Galang tak mungkin salah mengenali suara itu.
Galang langsung berdiri dari duduknya, tubuhnya menegang.
"Anza?" suaranya meninggi, panik. "Ini lo, Za? Anza?! Lo di mana, Za?!"
"Gue nggak tahu, Galang... mereka bawa gue jauh dari Jakarta... gue takut... mereka mau... mereka mau bunuh gue..."
Kalimat itu seperti petir di siang bolong. Jantung Galang serasa copot, napasnya tersengal. Kepalanya langsung terasa berat.
"ANZA!!" teriak Galang, meski tahu percuma. Suaranya menggema di udara malam yang tak peduli.
Tangannya gemetar saat mencoba menelepon balik, tapi nomor itu sudah tak bisa dihubungi lagi.
Tanpa pikir panjang, Galang langsung menekan kontak Bara. Panggilan langsung tersambung.
"Galang?" sahut Bara dengan suara berat setengah mengantuk.
"Bara, suruh anak-anak ke rumah Anza. Sekarang. Buruan!" suara Galang nyaris seperti teriakan.
"Lo kenapa, Lang? Lo nemuin Anza?"
"Dia nelepon gue barusan. dia dibawa jauh dari Jakarta. Dia bilang mereka mau bunuh dia. Teleponnya langsung putus."
Kebisuan sempat terjadi beberapa detik di ujung sana sebelum akhirnya Bara membalas.
"Gue langsung gerakin anak-anak. Yang cewek nggak usah dulu, udah malem. Kasian kalau harus keluar sekarang. Tapi cowok semua gue ajak. Tungguin gue di rumah Anza."