36. YANG TAK PERNAH SELESAI

88 2 0
                                        

36

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

36. YANG TAK PERNAH SELESAI

Seharusnya aku bisa berhenti, tapi aku terlalu dalam jatuh cinta. Dan tempat sedalam ini... tak punya pintu keluar-Danialanza

Suara detak jarum infus terdengar lambat di antara senyapnya malam. Aroma alkohol medis dan obat-obatan menyelimuti ruangan putih pucat itu. Galang duduk di tepi ranjang rumah sakit dengan tangan menggenggam jemari ibunya yang mulai dingin dan lemah. Matanya memerah, menyimpan kantuk yang tak sempat ia istirahatkan sejak dua hari lalu.

"Mama kenapa gak pernah jujur sama Galang?" tanyanya lirih, menahan pecah yang sudah terlalu lama mengendap di dadanya. "Kenapa Mama sembunyiin ini dari Galang?"

Mama Dea tak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, menyeka rambut Galang yang sedikit berantakan. Tangan rentanya bergerak pelan, gemetar, tapi penuh kasih seperti dulu waktu Galang kecil.

"Mama cuma gak mau buat kamu atau Papa khawatir," jawabnya dengan suara parau. "Mama sangat sayang sama kamu."

Air mata Galang akhirnya jatuh juga. Tak peduli meski ia sudah bukan anak kecil lagi. Tak peduli meski ia sering mencoba kuat di depan semua orang. Tapi kali ini, di hadapan perempuan yang melahirkannya, semua pertahanannya runtuh.

"Galang gak mau ditinggal Mama..." tangisnya pecah, mengguncang seluruh tubuhnya yang lelah.

Mama Dea menggenggam tangan Galang lebih erat. Wajahnya pucat, namun senyum itu tetap utuh—seolah hidupnya sudah tenang hanya dengan melihat anak laki-lakinya tumbuh menjadi lelaki dewasa.

"Kalau Mama gak ada, kamu bisa anggap Tante Rina sebagai Mama kamu, ya? Dia orang baik, dan dia juga sayang sama kamu."

Galang menggeleng, berulang kali, seperti anak kecil yang menolak minum obat. Ia tak ingin mendengar kalimat itu keluar dari bibir Mamanya. Ia masih belum siap menghadapi kemungkinan terburuk yang sudah ada di depan mata.

Tapi kalimat berikutnya justru membuat dadanya lebih sesak.

"Mama sangat berharap kamu sama Anza bisa selalu bersama sampai menikah. Mama cuma mau Anza yang jadi pasangan kamu..."

Galang memejamkan mata. Sakit itu kembali menyelinap. Ia sudah berusaha melupakan Anza, berusaha meyakinkan dirinya bahwa hubungan mereka memang tak bisa dipaksakan. Tapi harapan Mamanya—yang begitu tulus dan dalam—membuat luka lama itu terbuka kembali.

"Ma..." Galang menarik napas dalam. "Galang udah bilang dari dulu, Galang sama Anza gak mungkin bersatu."

Matanya menatap Mamanya yang masih berusaha tersenyum, walau napasnya mulai tersendat.

"Anza gak cinta Galang, Ma. Dan sekarang... Galang juga udah punya Abel. Dia selalu ada di sisi Galang, Ma. Waktu Galang jatuh, waktu Galang hancur, waktu Galang bahkan gak percaya lagi sama cinta, Abel tetap ada."

"Galang tahu Mama sangat sayang sama Anza..." ujar Galang lagi dengan pelan. "begitupun Tante Rina yang sangat sayang sama Galang... tapi cinta gak bisa dipaksain, Ma."

DANIALANZA [ END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang