Anza telah lama diam-diam menyukai kakak kelasnya. Setelah menyimpan perasaan itu dalam hati untuk waktu yang lama, akhirnya Anza memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Namun, jawaban Danial sangat mengecewakan. Danial dengan tegas menol...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
35. PERASAAN UNTUK SIAPA
Cinta ini aneh. Meski kamu berkali-kali buatku jatuh, aku tetap menggenggam erat. Karena melepaskanmu lebih menyakitkan dari apa pun-Danialanza
Bel istirahat baru saja berakhir. Di bangku ketiga dari depan, Abel dan Thalia masih asyik tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Thalia, dengan rambut dicepol asal-asalan dan ekspresi antusias, berbicara cepat tentang film baru yang baru tayang akhir pekan kemarin.
Kelas yang tadinya ramai dengan obrolan dan tawa mulai terasa hening ketika pintu kelas terbuka. Pak Tono, guru fisika yang terkenal dengan ketegasannya masuk dengan membawa beberapa buku tebal di tangan. Beliau tak hanya mengajar dengan serius tapi juga selalu memberi tantangan-tantangan yang menguras tenaga dan pikiran.
Abel masih terlihat sibuk mengobrol dengan Thalia."Keren tahu film-nya Vanessa sama Bryan. Gue nonton sampai nangis," ucap Thalia dengan antusias. Wajahnya berseri-seri seolah-olah dia belum bisa move on dari cerita itu.
"Lo harus nonton sih," lanjut Thalia, masih bersemangat. "Ending-nya bikin sedih banget deh. Gue sampai nangis."
Abel menatap Thalia dengan sedikit bingung. "Pliss, jangan spoiler! Gue males kalau nonton film terus ada yang spoiler. Kan jadi gak seru," gerutunya dengan sedikit kesal, meskipun sebenarnya dia juga penasaran ingin tahu bagaimana cerita film itu berakhir.
Tapi, percakapan mereka harus terhenti begitu Pak Tono mulai menatap mereka dengan serius. "Abel, Thalia jangan ngobrol terus," ucap Pak Tono dengan suara yang tegas.
Abel dan Thalia pun buru-buru menatap ke depan. Di layar putih depan kelas, Pak Tono sudah mulai menulis rumus-rumus fisika yang terlihat seperti kode rahasia yang harus dipecahkan. Sejenak, semua orang terdiam, hanya ada suara pena yang menulis di papan tulis dan ketukan jam dinding yang terdengar pelan.
Abel melirik Thalia yang sudah mulai mengernyitkan dahi, jelas tampak bingung dengan rumus yang mulai muncul di papan tulis. "Gila, ini baru pelajaran pertama, udah bikin kepala pusing," pikir Abel dalam hati.
"Gimana rasanya sebulan pacaran sama Galang? Ada yang beda nggak? Dia udah bener-bener move on dari Anza, kan?" Thalia tiba-tiba bertanya dengan suara pelan, hanya cukup untuk didengar oleh Abel yang duduk di sampingnya.
Abel menoleh sekilas ke Thalia lalu menunduk pada buku catatannya yang kosong.
"Gue berharap dia beneran udah move on dari Anza. Tapi kan hati manusia nggak ada yang tahu, ya?" balas Abel dengan suara rendah mencoba menahan rasa cemas yang sudah merayapi dirinya.
"Awas aja tuh anak nyakitin lo, gue akan maju paling depan," ucapnya Thalia sedikit menggertak.
"Ini juga masih sebulan kan, terlalu cepat untuk nganggap dia udah move on atau belum. Soalnya dia aja suka sama Anza udah bertahun-tahun. Mungkin susah, tapi akan gue bantu." Abel mencoba meyakinkan diri, meskipun dalam hatinya ada rasa ragu yang tak bisa disembunyikan.