Anza telah lama diam-diam menyukai kakak kelasnya. Setelah menyimpan perasaan itu dalam hati untuk waktu yang lama, akhirnya Anza memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Namun, jawaban Danial sangat mengecewakan. Danial dengan tegas menol...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
44. WEEKEND UNTUK MELUPAKAN
Bukan aku menyamaratakan, hanya saja yang mengajari aku apa itu kecewa... semuanya laki-laki yang awalnya bilang cinta-Danialanza
Jakarta masih saja macet seperti biasa. Suara klakson, kepulan asap kendaraan, dan gerutu pengendara sudah menjadi latar sehari-hari yang menyesakkan. Tapi hari ini mobil hitam milik Dinda menembus kepadatan jalan dengan semangat berbeda. Hari ini, mereka berempat punya misi: melupakan sementara segala sesak yang pernah membelenggu dada.
Anza duduk di kursi belakang di samping Clara. Matanya menatap ke luar jendela, sesekali tersenyum kecil saat mendengar gurauan teman-temannya dari depan. Tapi sorot matanya masih menyimpan luka. Luka yang belum kering. Luka yang beberapa minggu terakhir selalu membayanginya ke mana pun dia melangkah.
Di kursi pengemudi, Dinda tampak fokus, sesekali melirik ke kaca spion tengah memastikan Anza baik-baik saja. Sementara Nessa yang duduk di kursi depan, seperti biasa, paling rame.
"Gila ya. Macet Jakarta tuh udah kayak mantan toxic. Mau ditinggalin susah, tapi kalau dipertahanin ya nyakitin!" celetuk Nessa sambil membuka bungkus permen mint.
Clara tertawa. "Tapi macet Jakarta nggak pernah ghosting, Nes. Dia selalu ada, setiap saat. Setia banget malah."
Mereka semua tertawa. Bahkan Anza ikut tersenyum, walau samar.
"Kita ini mau healing kan, bukan gibahin mantan?" tanya Dinda sambil tertawa, melirik Nessa sekilas.
"Eh, maaf deh, Din. Tapi gibahin mantan itu bagian dari healing loh," jawab Nessa santai. "Gue tuh udah nggak sabar pengen ngeliat langit Bandung, makan cimol pedes, terus nangis-nangis di villa sambil dengerin lagu galau."
Perjalanan panjang itu terasa lebih ringan dengan tawa dan obrolan mereka. Udara mulai berubah saat mereka keluar dari tol Pasteur, memasuki kawasan Lembang. Hawa sejuk perlahan menggantikan panas Jakarta dan jalanan yang lebih lengang membuat hati ikut melambat. Anza menurunkan kaca jendela, membiarkan angin sore menerpa wajahnya. Bau tanah basah dan dedaunan menguap dari hutan di kiri kanan jalan.
"Eh, eh! Berhenti bentar dong!" seru Clara, menunjuk ke arah kanan jalan. "Itu tuh, ada cimol bojot Aa! gue mau beli!"
"Galau-galau gini enaknya makan pedas nggak sih?" tambah Clara lagi.
Dinda tertawa dan langsung menepi. "Siap, Bu Healing."
Mereka turun dari mobil dan langsung menuju gerobak sederhana yang bertuliskan "Cimol Bojot Aa - Pedas Juara!" di bagian atasnya. Aroma gurih dan asap panas menyambut mereka.
"Aa, pesen empat, ya. Pedes semua!" ujar Nessa kepada penjualnya.
Anza masih memegang tusukan cimolnya matanya memandangi jalanan yang perlahan mulai sepi, sementara lampu-lampu kendaraan menyorot dari kejauhan. Udara Bandung mulai turun suhunya membuat uap dari cimol yang baru digoreng itu terlihat semakin menggoda.