Anza telah lama diam-diam menyukai kakak kelasnya. Setelah menyimpan perasaan itu dalam hati untuk waktu yang lama, akhirnya Anza memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Namun, jawaban Danial sangat mengecewakan. Danial dengan tegas menol...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
47. HATI KE HATI
Kita tak perlu memaksa arah, cukup saling memperbaiki diri. Jika jodoh, semesta akan menyatukan dua hati yang saling menunggu diam-diam-Danialanza
Hujan tipis baru saja reda. Jalanan basah memantulkan cahaya langit sore yang mulai meredup. Di depan lobi apartemen lantai dasar, Galang berdiri menyender pada motornya. Jemarinya memainkan ujung lengan kaos hitam yang sedikit lusuh matanya sesekali melirik layar ponsel.
Tak lama, pintu lobi terbuka. Anza muncul dengan langkah pelan. Jaket pink lembut membalut tubuhnya, dipadukan dengan celana putih dan sneakers yang tampak bersih. Rambutnya diikat asal, tapi entah kenapa, masih terlihat rapi di mata Galang.
Mata mereka bertemu. Hanya sekejap. Lalu masing-masing mengalihkan pandang.
"Udah lama nunggu?" tanya Anza akhirnya memecah keheningan.
"Nggak juga," jawab Galang singkat.
Perjalanan menuju kafe diisi dengan keheningan yang tak nyaman. Motor melaju stabil. Anza menggenggam jaketnya erat, menatap jalanan, enggan bersuara. Sedangkan Galang dari kaca spion kecilnya, beberapa kali mencuri pandang ke gadis yang dulu pernah sangat dekat dengannya.
Sesampainya di sebuah kafe kecil dekat sekolah Rajawali—tempat sering menjadi tongkrongan anak-anak rajawali. Keduanya berjalan beriringan menuju pintu masuk. Langkah Galang lambat seperti menunggu Anza menyamai iramanya. Tapi tetap saja, tak ada kata-kata yang terucap. Hanya suara langkah dan denting gelas dari dalam kafe yang terdengar.
Mereka memilih duduk di pojok, tempat yang dulu sering mereka tempati. Pelayan datang mereka memesan tanpa banyak bicara. Dan akhirnya setelah secangkir coffe latte dan segelas strawberry milkshake mendarat di meja, suara Galang terdengar pelan.
"Apa kabar, Za?" tanyanya mencoba terdengar hangat.