47. HATI KE HATI

80 2 1
                                        

47

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

47. HATI KE HATI

Kita tak perlu memaksa arah, cukup saling memperbaiki diri. Jika jodoh, semesta akan menyatukan dua hati yang saling menunggu diam-diam-Danialanza

Hujan tipis baru saja reda. Jalanan basah memantulkan cahaya langit sore yang mulai meredup. Di depan lobi apartemen lantai dasar, Galang berdiri menyender pada motornya. Jemarinya memainkan ujung lengan kaos hitam yang sedikit lusuh matanya sesekali melirik layar ponsel.

Tak lama, pintu lobi terbuka. Anza muncul dengan langkah pelan. Jaket pink lembut membalut tubuhnya, dipadukan dengan celana putih dan sneakers yang tampak bersih. Rambutnya diikat asal, tapi entah kenapa, masih terlihat rapi di mata Galang.

Mata mereka bertemu. Hanya sekejap. Lalu masing-masing mengalihkan pandang.

"Udah lama nunggu?" tanya Anza akhirnya memecah keheningan.

"Nggak juga," jawab Galang singkat.

Perjalanan menuju kafe diisi dengan keheningan yang tak nyaman. Motor melaju stabil. Anza menggenggam jaketnya erat, menatap jalanan, enggan bersuara. Sedangkan Galang dari kaca spion kecilnya, beberapa kali mencuri pandang ke gadis yang dulu pernah sangat dekat dengannya.

Sesampainya di sebuah kafe kecil dekat sekolah Rajawali—tempat sering menjadi tongkrongan anak-anak rajawali. Keduanya berjalan beriringan menuju pintu masuk. Langkah Galang lambat seperti menunggu Anza menyamai iramanya. Tapi tetap saja, tak ada kata-kata yang terucap. Hanya suara langkah dan denting gelas dari dalam kafe yang terdengar.

Mereka memilih duduk di pojok, tempat yang dulu sering mereka tempati. Pelayan datang mereka memesan tanpa banyak bicara. Dan akhirnya setelah secangkir coffe latte dan segelas strawberry milkshake mendarat di meja, suara Galang terdengar pelan.

"Apa kabar, Za?" tanyanya mencoba terdengar hangat.

Anza menoleh. Matanya menatap Galang, lalu tertawa pelan. "Basa-basi banget," celetuknya, sambil menyeruput minumannya.

Galang ikut tersenyum tipis. Senyum yang dulu selalu membuat Anza merasa aman.

"Ya, kalau gue langsung bilang gue kangen, lo pasti kabur," kata Galang lebih pelan kali ini.

Anza memutar matanya, tapi tak menjawab.

"Kondisi lo gimana?" tanya Galang perlahan.

"Baik. Kemarin habis ke Bandung buat nyembuhin hati gue sama anak-anak," jawab Anza suaranya pelan namun mantap.

Galang mengangguk pelan. "Iya, gue tahu. Gue lihat story-nya Nessa kemarin."

"Tapi hati gimana setelah liburan? Lebih tenang?"

Anza menatap stawberry milkshake di tangannya, mengaduknya pelan. "Tenang, sih. Tapi ya... nggak sepenuhnya pulih. Tapi setidaknya sekarang gue nggak sesesak kemarin."

DANIALANZA [ END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang